Cinta Dibalik Penolakan

Cinta Dibalik Penolakan
Menemui Presdir Faresta Grup


__ADS_3

"Sejak kapan kamu mengenal tuan muda Faresta, nak? tanya papa Arif pada Tari setelah Zafran meninggalkan rumahnya.


Kedua sahabatnya masih berada disana. Mereka tahu pasti papa Arif akan menghujami Tari berbagai pertanyaan sehingga mereka tetap tinggal untuk membantu Tari bicara.


"Belum lama ini pa, sebelum aku berangkat KKN," jawab Tari mulai mengarang cerita.


"Kenapa tuan muda Zafran ingin buru-buru menikahimu padahal kalian baru saja saling mengenal?"


"Mungkin ini yang dibilang cinta pada pandangan pertama, om. Kak Zafran takut kalau ia keduluan oranglain melamar Tari." Nara ikut menimpali, melihat Tari mulai bingung harus menjawab apa.


"Kalau memang seperti itu, kan bisa tunangan dulu, Tari juga belum selesai kuliah," lanjut papa Arif.


"Yah elah om, jangankan cuma tunangan doang, udah nikah aja masih bisa disamber oranglain, apalagi ceweknya secakep Tari." Chery ikut menambahkan ucapan Nara.


"Tapi papa liat hubungan Tari dan tuan muda Zafran tidak sedekat seperti pasangan yang baru menjalin hubungan."


"Mama juga mikir begitu pa, Tari sama tuan muda Zafran seolah menjaga jarak," mamanya ikut menambahkan.


"Kami masih merasa agak malu Ma, kalau terlalu dekat. Papa tahu sendiri bagaimana sifat kak Zafran," lanjut Tari.


"Tapi apa kamu juga menyukainya?" tanya papa Arif lagi.


"Kalau aku tidak menyukainya, untuk apa aku mengizinkannya kemari, pa." Ucapan Tari kali ini sepertinya bisa menghilangkan sedikit keraguan di wajah papanya.


"Kalau begitu tidak ada masalah sekarang, tapi apa kamu tidak apa-apa nak kalau pernikahanmu tidak dirayakan?" Papa Arif ternyata belum berhenti melontarkan pertanyaan.


"Kak Zafran kan tidak bilang tidak akan merayakannya pa, dia hanya bilang tidak dalam waktu dekat ini," jawab Tari.


"Bagus nak, kamu memang anak papa. Kamu tidak akan mendapatkan kesempatan kedua untuk menikah dengan pangeran terkaya dinegara ini. Kamu sangat beruntung nak," kata papa Arif sambil mengusap-usap punggung Tari kemudian berdiri dari tempat duduknya, disusul mama Tari masuk kedalam kamar.


"Aku tidak pernah meminta pada Tuhan diberi kesempatan untuk menjadi bagian keluarga Faresta andai saja insiden diPondok Bambu itu tidak pernah terjadi," gumam Tari dengan mata berkaca-kaca.


"Kita ke kamar yuk," ajaknya pada kedua sahabatnya saat merasakan air matanya ingin tumpah lagi.


"Tar, sepertinya lu butuh ngomong sama kak Zafran, kalian harus terlihat romantis didepan oranglain," ucap Nara setelah mereka berada didalam kamar Tari.

__ADS_1


"Bener kata Nara, Tar. Lu gak boleh terlihat menjaga jarak apalagi didepan keluarga lu sendiri. Bisa-bisa papa dan mama lu tau apa yang sudah terjadi sama kamu," tambah Chery.


"Tapi bagaimana gua bisa ngomong sama dia kalau nomor handphonenya saja gua gak tau," jawab Tari.


"Tidak mungkin kan, gua tiba-tiba datang ke kantornya terus nyari dia. Dia bisa-bisa bunuh gua," seru Tari mengacak-acak rambutnya.


"Ayo dong bantu gua berfikir," lanjutnya lagi.


"Gua tau lu orang yang tegar diantara kita semua Tar, lu pasti bisa menghadapi semuanya," ucap Nara sambil memeluk Tari.


"Atau gini aja, gua mau kog datang ke kantor Faresta Grup, asal..." Chery tersenyum jahil kearah kedua sahabatnya yang sama-sama mengerutkan kening sambil menggantung kata-katanya.


"Lu selalu aja perhitungan sama teman sendiri," balas Nara kesal.


"Gua cuma pengen luluran disalon langganan Tari tapi dompet gua udah menipis," jawab Chery manyun.


"Iya deh entar gua bayarin, tapi ingat lu jangan ngomong sembarang sama tuan muda es balok itu." Tari mengancam Chery karena ia tahu Chery suka salah bicara.


"Awas lu entar jatuh cinta beneran sama yang lu sebut es balok itu. Siapa tau aja dia berbeda sama mas Dimas alias kak Zayn yang sudah tidak tau dimana rimbanya." Nara melempar bantal ke wajah Chery karena mengingatkan lagi tentang Dimas pada Tari.


"Apaan sih lu Nar." Chery merajuk dan memalingkan wajahnya.


"Jadi kita malam ini masih nginap disini, Nar?" tanya Chery.


"Iya, kita pulang besok aja kalau Tari udah ketemu dengan kak Zafran. Lagian kalau minggu ini Tari udah nikah, gua masih pengen lama-lama disini Cher, takutnya nanti kak Zafran udah gak ngebolehin kita nginap lagi," balas Nara.


"Apaan sih, gua cuma nikah diatas kertas aja kali, kita tetap masih bisa kayak gini." Tari merentangkan kedua tangannya dan mereka bertiga pun berpelukan.


Keesokan Harinya


Pagi itu Chery terlihat memasuki sebuah gedung perkantoran yang sangat mewah, Ia berlenggak lenggok seperti seorang model saat ia melewati meja resepsionis.


"Maaf pak, anda ingin mencari siapa?" tanya seorang resepsionis menghentikan langkah Chery.


"Pak, pak, pak, sejak kapan gua nikah sama mak lu," jawab Chery sinis.

__ADS_1


"Kalau begitu maaf tuan, anda ingin mencari siapa?" tanya resepsionis itu lagi.


"Apa gua terlihat seperti bapak-bapak sampai lu manggil gua tuan." Chery masih terdengar sinis.


"Kalau bukan Bapak atau Tuan, lalu saya harus memanggil dengan sebutan apa?" Meskipun mulai terlihat kesal tapi resepsionis itu masih bersikap baik.


"Panggil saja gua C-H-E-R-Y," ucapnya kembali mengeja namanya.


"Baiklah C-H-E-R-Y, anda ingin bertemu siapa?"


"Apa direktur utama perusahaan ini sudah datang?" Pertanyaan Chery membuat resepsionis itu melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Apa selera tuan muda Zafran benar-benar serendah ini," kata resepsionis itu pelan tapi masih terdengar samar ditelinga Chery.


"Lu ngomong apa?" Tanyanya membulatkan kedua matanya.


"Tidak ngomong apa-apa kog, Tuan Zafran baru saja datang, kalau anda ingin bertemu dengannya silahkan tunggu di sini saja. Saya akan menghubunginya lebih dulu."


"Mau bertemu saja susah banget sih." Sambil mengumpat Chery berjalan menuju sofa yang disediakan dilobby untuk menunggu.


Setelah menunggu beberapa menit, resepsionis yang tadi datang menghampiri Chery.


"Tuan Zafran menunggu anda diruangannya, sebentar lagi sekretarisnya akan datang menjemput anda disini karena lift yang digunakan untuk keruangan presdir hanya bisa dipakai oleh sekretaris dan asistennya.


"Oke, makasih."


"Sekarang percaya kan, presdir kalian mengenal gua." Resepsionis itu hanya tersenyum menanggapi sikap Chery.


Benar saja tidak berselang lama, seorang wanita cantik bak seorang model keluar dari lift dan menghampiri Chery.


"Apa anda yang bernama Chery?" tanyanya sambil terus menyunggingkan senyum setelah berada didekat Chery.


"Iya," jawab Chery singkat dengan wajah songongnya.


"Tuan Zafran menunggu anda diatas, mari ikut saya," ucapnya lagi kemudian berbalik menuju lift yang digunakannya tadi, menyusul Chery dibelakangnya.

__ADS_1


🤩 Selamat membaca readerscuuuuu, semoga suka yah dengan cerita ini😘


💙 Tidak ada sebuah perbuatan yang dimulai dengan niat baik akan berakhir kesedihan, kalaupun dalam perjalanan itu ada batu-batu kerikil yang mengganggu, teruskan saja langkahmu karena diujung jalan itu ada kebahagiaan yang sudah menanti❤️


__ADS_2