
"Ma, yang ini bagus deh. Sepertinya ini cocok dibadan aku." ucap Delia memperlihatkan sebuah gaun pernikahan modern pada mama Elisa.
"Iya sayang, ini bagus banget. Mama tahu pilihanmu selalu bagus."
"Gimana menurut kamu, sayang?" tanya Delia bergelayut manja dilengan Zayn.
"kamu cantik sekali, sayang."
Delia merasa sangat senang mendengar pujian Zayn, hingga ia terus menyunggingkan senyumnya. Tapi ucapan mama Elisa seketika mengganti senyuman itu dengan menampakkan raut wajah tidak suka.
"Tari juga pasti akan sangat cantik memakai gaun ini. Bagaimana kalau resepsi pernikahan kalian, kita adakan bersamaan saja? Zafran sudah menyerahkan semua pengurusannya sama mama."
"Nggak. Aku tidak mau, ma."
Zayn dan mama Elisa merasa heran mendengar penolakan Delia.
"Loh, kenapa sayang? Tari dan Zafran kan calon kakak iparmu. Mereka juga belum mengadakan acara resepsi kemaren karena semuanya begitu tiba-tiba dan papa baru saja meninggal. Mama fikir tidak ada salahnya kalau sekarang kita adakan bersamaan."
"Tapi Delia nggak setuju, ma. Delia pengen di hari pernikahan nanti hanya Delia yang menjadi Ratu sehari."
Mama Elisa menarik nafas dalam-dalam mendengar ucapan calon menantunya.
"Ucapan mama ada benarnya juga, sayang. Lagian ini kan tinggal resepsi, akadnya sudah dilaksanakan lebih dulu. Sepertinya tidak jadi masalah jika kita berempat harus bersanding di pelaminan."
"Tapi ini masalah buat aku, Zayn. Karena wanita yang sekarang menjadi kakak iparmu adalah calon ibu dari anakmu. Lalu bagaimana bisa kita bersama dengannya di pelaminan." batin Delia tapi ia tidak mungkin memberitahu ini pada Zayn dan mama Elisa.
"Aku tetap nggak setuju, Zayn."
"Ya sudah kalau kamu nggak mau, sayang. Mama bisa ngerti, kamu pasti tidak ingin dibandingkan dengan pengantin satunya kan jika kalian berdiri dua pasang dipelaminan?"
Delia hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan calon mertuanya.
"Kalau gitu terserah Delia saja, ma."
"Emang harus gitu, Zayn. Pria yang baik itu harus menuruti keinginan wanitanya asal itu tidak merugikan si prianya."
Mama Elisa mengerling kearah putranya seraya menyunggingkan senyum menggoda. Ini yang Delia suka dari calon mertuanya karena ia sangat baik dan selalu mengerti perasaan anak-anaknya.
"Jadinya pilih yang mana, sayang?"
__ADS_1
"Yang ini saja, ma. Tapi aku mau pake yang warna pastelnya." ucap Delia melihat kearah pemilik butik.
"Baik. Berarti jasnya tuan Zayn dikasi satu warna saja sama gaunnya yah." balas sang pemilik butik.
Delia dan Zayn mengangguk bersamaan.
Setelah urusan baju pengantin kelar, kedua calon pengantin tersebut bermaksud mencari cincin di salah satu toko berlian terbesar di kota J. Karena sudah merasa lelah, mama Elisa memutuskan untuk pulang lebih dulu kerumah.
***
Meskipun makan malam kali ini dilakukan dibawah langit yang dipenuhi bintang-bintang tapi Tari merasakannya biasa saja karena sikap dingin Zafran. Padahal ini bisa dibilang Can The Light Dinner paling romantis yang pernah didapatkannya.
"Kalau sudah selesai makan, kita lebih baik kembali ke cottage. Nanti kamu masuk angin terlalu lama diterpa angin pantai."
"Iya, mas." jawab Tari sedikit malas.
"Pria ini kog nggak ada romantis-romantisnya banget sih. Lalu untuk apa kita makan ditempat begini dengan lilin-lilin kalau cuma untuk makan doang terus pulang. Huft..."
Tari membatin yang tentu saja tidak diketahui oleh pria didepannya.
"Apa yang difikirkan wanita ini sekarang? Apa dia tidak menyukai makan malam ditempat seperti ini? Dia kelihatannya kecewa." Zafran.
"Akh sudahlah, dia memang kan manusia salju. Bagaimana bisa dia bersikap romantis." Tari.
Mereka berdua malah sibuk berdebat dengan hatinya masing-masing. Sampai suara Zafran menghentikan semua aktivitas tersebut saat melihat Tari meyudahi makannya.
"Kita pulang sekarang yah."
Tari hanya mengangguk kecil dan beranjak dengan enggan dari tempat duduknya. Ia harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati manusia salju yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Jarak dari tempat makan menuju cottage hanya butuh waktu 10 menit. Dan saat ini mereka benar-benar berada didalam kamar tanpa saling bersuara.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, keduanya bersiap untuk tidur. Zafran terlihat sangat lelah setelah seharian ia justru berada dikantor cabang menyelesaikan pekerjaannya.
"Apa kamu akan tidur di sofa lagi?" tanya Tari melihat Zafran berjalan kearah sofa sambil membawa selimut.
"Aku tidak ingin mengganggu tidurmu disana." jawab Zafran mengarah pada tempat tidur.
"Aku nggak pernah tuh bilang kamu mengganggu tidurku, mas. Mungkin saat pertama menikah iyya, karena aku belum terbiasa tapi sekarang aku ingin menjalani pernikahan normal denganmu tuan muda Zafran!"
__ADS_1
Sedikit kesal Tari hanya bisa bicara pada dirinya sendiri tanpa punya keberanian untuk mengungkapkannya langsung dihadapan suaminya.
Tapi ia seketika tersenyum saat terlintas ide gila dibenaknya.
"Maafkan aku mas, karena aku harus melakukan ini sama kamu."
Tari merebahkan tubuhnya diranjang, ia pura-pura terlelap dan seolah tidur sangat nyenyak. Tapi berselang 30 menit kemudian, ia tiba-tiba mengigau dan meracau tidak jelas membuat Zafran yang baru saja akan memejamkan mata berjalan mendekatinya.
"Pergi..., pergi kamu..., jangan mendekat..."
"Tar, Tari... kamu kenapa?"
Tari tidak menjawab, ia malah menggenggam erat tangan Zafran yang mengguncang-guncang bahunya. Matanya masih tetap tertutup.
"Sepertinya dia sedang bermimpi buruk."
Zafran benar-benar percaya Tari berada dialam bawah sadarnya.
"Tolong selamatkan aku..., jangan pergi...,"
Zafran menarik nafas berat kemudian membetulkan posisi duduk disamping kepala istrinya. Ia mengelus dengan lembut rambut wanita yang kini tengah berakting didepannya.
"Maafkan aku, mas. Tapi aku harus melakukan ini untuk membuatmu terbiasa didekatku."
"Tar, kamu tenang yah. Aku sudah disini sekarang."
Tari sama sekali tidak membuka matanya. Ia malah semakin membenamkan kepalanya dibalik paha Zafran dan memeluk erat pinggang suaminya itu. Zafran lagi-lagi menarik nafas berat.
"Aku pria normal, Tar. Bagaimana mungkin aku tidak tergoda kalau seperti ini."
Zafran meremas kasar wajahnya dan mengutuki dirinya sendiri saat ia merasakan senjatanya dibawah sana mulai terbangun. Tapi ia berusaha sekuat tenaga mengendalikan dirinya karena ia sudah berjanji tidak akan menyentuh Tari dalam keadaan hamil.
Zafran meraih bantal disamping Tari dan menaruhnya sebagai penyangga dibelakang tubuhnya. Ia perlahan memejamkan mata dan tertidur dengan posisi duduk sambil tangan kirinya memeluk kepala Tari.
Lagi-lagi ini diluar ekspektasi Tari, tadinya ia berfikir Zafran akan datang kemudian tidur dengan posisi normal disampingnya sehingga ia bisa memeluk tubuh atletis suaminya dan merasakan dengan jelas tarikan nafas pria itu.
"Pelan-pelan, Tar. Setidaknya saat ini kamu berada didekatnya dan tidur bisa memeluk bagian tubuhnya."
Tari tersenyum penuh kemenangan dan akhirnya ia benar-benar terlelap sekarang.
__ADS_1
🧡 Happy reading kesayangan mommy😘🤗
💜 Bukan hatiku yang terlalu cepat berpaling tapi keadaan yang membuatku harus cepat melupakan perasaan tidak pantas ini untukmu...# Tari💜