Cinta Dibalik Penolakan

Cinta Dibalik Penolakan
Pingsan


__ADS_3

Hari yang dinantikan tiba juga, Dimas akhirnya bersiap akan ikut ke kota S bersama Tari, Nara, dan Chery. Chery langsung histeris setelah tau apa yang sudah terjadi pada Tari. Dia tidak berhenti memaki Dimas andai tidak mendapat peringatan dari Nara. Bu Minah dan suaminya yang tau belakangan dari Chery tidak bisa berbuat apa-apa karena Dimas memang bukan anak kandung mereka. Bu Minah hanya bisa menangis sambil mengusap-usap punggung Dimas.


"Apa bener kamu bisa sendiri menghadapi papa nak Tari?" tanya bu Minah pada Dimas saat mobil kiriman papa Nara sudah datang.


"Iya bu, ibu tenang saja yah, kalau papa Tari sudah menerimaku, aku akan kemari menjemput ibu sama bapak," jawab Dimas meyakinkan bu Aminah.


"Baiklah nak, kamu hati-hati yah disana," sahut bu Minah belum rela melepas Dimas yang selama ini sudah menemaninya. Air matanya tidak berhenti menetes. Wanita paruh baya itu semakin terisak saat Dimas mulai berpamitan dan mencium tangannya.


"Sudah bu, aku janji akan baik-baik saja dan secepatnya kembali," ucap Dimas menenangkan bu Minah.


"Pamit yah pak," Dimas beralih pada pak Asep yang bersikap sama dengan bu Minah, meski ia lebih tegar karena tidak mengeluarkan air mata tapi gurat-gurat kesedihan begitu nampak diwajah tuanya.


"Seorang laki-laki sejati memang harus bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri," hanya itu yang keluar dari mulut pak Asep.


Selanjutkan bergantian Nara, Chery, dan terakhir Tari yang berpamitan sama bu Minah dan pak Asep.


"Maafkan Dimas yah nak, manusia tidak ada yang sempurna, yang penting dia tidak lari dari tanggung jawabnya," ucap bu Minah sambil memeluk Tari. Tari hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Ia kemudian beralih meraih tangan pak Asep dan menciumnya.


"Kalian lewati ini bersama-sama yah nak, bantu Dimas bicara sama papa nak Tari," kata pak Asep menimpali ucapan istrinya. Tari lagi-lagi menganggukkan kepalanya pelan.


Setelah berpamitan pada pak Asep dan bu Minah, mereka berempat pun keluar rumah menuju mobil yang sudah diparkir oleh sopir papa Nara dihalaman rumah bu Minah.


Nara duduk dikursi depan, Chery menyendiri dikursi belakang, sedangkan Dimas dan Tari berdampingan dikursi tengah. Mobil perlahan bergerak meninggalkan rumah bu Minah. Menyisakan sepasang suami istri paruh baya yang masih berdiri ditempatnya dengan air mata yang entah sudah berapa banyak keluar untuk seorang anak yang bahkan bukan anak kandung mereka.


Mereka berdua baru masuk kedalam rumah saat mobil sudah tidak terlihat lagi dipelupuk matanya.


"Kamu makan roti dulu yah Tar, dikit aja, kamu belum makan apa-apa sejak tadi," ucap Dimas saat mobil yang membawa mereka sudah berjalan beberapa menit.

__ADS_1


Tari menggelengkan kepalanya perlahan membuat Dimas hanya bisa menarik nafas berat.


"Iya Tar, kamu makan dikit yah, kasian anak kamu," Nara yang duduk didepan menoleh kebelakang mendengar Tari masih tidak mau makan. Akhirnya Tari pun mengambil sepotong roti dari tangan Dimas mengingat anak yang ada dikandungannya saat ini.


Tidak terasa sudah setengah perjalanan mereka lewati, semua penumpang mobil itu sudah tertidur kecuali pak sopir dan Dimas. Dimas terus saja berfikir apa yang akan ia katakan nanti pada orangtua Tari.


Jam menunjukkan pukul tiga sore, saat mereka singgah disebuah rumah makan untuk makan siang, karena Tari tidak ingin turun dari mobil, Dimas hanya membungkus makanannya dan bermaksud makan dimobil bersama Tari. Sedangkan Nara dan Chery makan didalam rumah makan tersebut.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan setelah makan siang, lagu kenangan yang diputar oleh sopir membuat Chery dan Nara kembali terbuai dalam mimpi-mimpi mereka. Tari pun menyusul mimpi kedua sahabatnya. Dimas memandangi Tari yang sudah terlelap dikursinya. Gadis cantik itu baru dikenalnya sebulan yang lalu dan ia sudah menorehkan luka yang teramat dalam untuknya. Ia menarik nafas berat kemudian akhirnya ikut juga tertidur diiringi lagu kenangan dari layar mobil tersebut.


Sore hari mobil mereka sudah memasuki perbatasan kota S, karena Nara ingin sekali makan cake durian di sebuah cafe yang khusus menyediakan kue tersebut, sopir pun menepikan mobilnya disana.


Tari sebenarnya suka sekali makan durian tapi karena ia sedang hamil muda, Nara tidak membolehkannya. Ia ikut turun juga karena Nara memaksanya.


"Tar turun yuk, siapa tau aja setelah melihat-lihat pemandangan lu bisa lebih enakan dikit," ucap Nara. Cafe itu memang terletak di pinggir pantai.


"Kak Zayn, ini beneran kamu? Kak Zafran udah lama banget mencari kakak kemana-mana tapi tidak ketemu juga," kata gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


"Hei, apa-apaan ini, ini Dimas, bukan Zayn," ucap Nara mencoba melepaskan pelukan gadis itu. Chery ikut membantu Nara.


"Tidak, ini kak Zayn, bukan Dimas. Aku punya buktinya," kata Gadis itu mengeluarkan sebuah ponsel dari tasnya. Semua mata yang melihat kearah ponsel tersebut membulat sempurna melihat foto demi foto kebahagiaan sepasang kekasih yang sedang mengadakan acara pertunangan.


"Kak Zayn ini tunangan aku dan kami akan menikah sebentar lagi, tapi kak Zayn tiba-tiba menghilang saat menyelam bersama temannya," kata gadis itu dengan air mata yang sudah mulai turun dari sudut matanya.


"Apa? Tunangan?", Tari yang sejak tadi diam saja, langsung terkulai pingsan setelah mengucap dua kata tadi.


"Tari...Tari..., kamu kenapa?" Dimas menopang tubuh Tari lalu menggendongnya kemobil.

__ADS_1


"Kita bicara ini nanti, sekarang Tari perlu dibawa kerumah sakit," ucap Dimas yang diiyakan oleh kedua sahabat Tari.


"Tunggu aku ikut, aku kesini bareng teman-temanku, aku akan menghubungi kak Zafran supaya kesini sekarang juga," ucap gadis itu kemudian berlari kedalam mobil, ia duduk disamping Chery yang sekarang sudah berpindah ke kursi tengah menggantikan Tari dan Dimas.


"Eh lu jangan ngaku-ngaku yah, kalau lu tunangan mas Dimas," ucap Chery sinis.


"Aku gak ngaku-ngaku mas, dia beneran mas Zayn tunangan aku, mas sudah liat sendiri fotonya tadi kan," jawab gadis itu.


"Kalau tidak percaya, aku telfon sekarang kak Zafran, kakaknya kak Zayn," ucapnya lagi.


"Gua bukan mas-mas yah kayak mas Dimas, gua C-h-e-r-y," balas Chery mengeja namanya.


"Iya, iya, terserah kamu saja," ucap gadis itu.


"Sudah, diam kalian," Nara yang berada didepan merasa kesal dengan perdebatan keduanya sementara Tari belum sadar.


"Mas Dimas, kami butuh penjelasan kamu saat ini juga," kata Nara yang sekarang benar-benar sudah menghadap kebelakang.


"Maafin aku Nar, tapi aku memang ditemukan pak Asep dalam keadaan tidak sadar tiga bulan yang lalu dipinggir pantai saat baru pulang melaut, ia kemudian membawaku pulang kerumahnya dan dirawat oleh bu Minah, tapi setelah sadar aku tidak tau lagi siapa diriku sampai saat ini," ucapan Dimas sontak membuat Chery dan Nara membelalakkan mata.


"Kamu bajingan Dimas, kalau sampai Tari kenapa-napa aku akan buat perhitungan dengan kamu," ucap Nara terlihat sangat emosi, gadis yang duduk disamping Chery mengerutkan keningnya tidak mengerti kenapa Zayn dipanggil Dimas dan diancam oleh mereka.


"Telfon orang yang kamu bilang tadi, kita akan ketemu dirumah sakit untuk lebih memastikan kata-katamu," ucap Nara yang dianggukan oleh gadis tadi.


😍 Jangan lupa LIKE, VOTE, dan KOMENTnya yah🤗


❤️ Ibarat permen, CINTA yang tidak berasal dari hati itu seperti permen karet, awalnya manis tapi semakin dikunyah rasanya akan semakin hambar❣️

__ADS_1


__ADS_2