Cinta Dibalik Penolakan

Cinta Dibalik Penolakan
Saat Senja


__ADS_3

Sepeninggal Zafran ke kantor, Tari memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar dipinggir pantai. Ia juga bingung harus ngapain di kamar sendirian. Ia menyusuri bibir pantai sambil terus mengagumi keindahan pasir putihnya. Sesekali ia menghirup dalam-dalam udara pantai sambil merentangkan kedua tangannya.


Sudut hatinya tiba-tiba berkelana ke masa lalu saat ia dan Zayn yang ia kenal sebagai Dimas menghabiskan banyak waktu berdua dipantai.


"Bagaimana kabarmu mas Dimas? apa sekarang kamu sudah berada di mansion? Apa ingatanmu sudah kembali? Tapi apa kamu sudah tidak ingat dengan benih yang sudah kamu tanam dirahimku?"


Dan berbagai pertanyaan lagi muncul satu persatu dikepalanya. Saat perasaan sedih akan menguasainya, ia memutuskan untuk kembali ke kamar dan menumpahkan tangisnya disana.


Karena terlalu lelah menangis, akhirnya ia tertidur. Ternyata berada sendiri ditempat seperti ini bisa membangkitkan kenangannya kembali bersama Dimas.


Suara ponsel yang sudah beberapa kali berdering, membangunkan Tari dari alam bawah sadarnya. Ia meraih benda pipih itu diatas nakas dan melihat nama si penelfon pada layarnya.


"Halo sayang, maaf kalau mama mengganggu. Mama cuma ingin tahu apa kalian sudah sampai? Zafran juga belum menghubungi mama sejak tadi."


"Nggak kog ma, Tari yang minta maaf karena kami lupa mengabari mama. Mas Zafran buru-buru ke kantor saat kami baru tiba. Ia bahkan tidak sempat beristirahat."


"Anak itu selalu saja lebih mementingkan kerja daripada istirahat. Tapi kamu jangan ikuti yah nak kebiasaan Zafran itu. Kamu harus banyak istirahat disana. Ingat kamu lagi hamil muda. Mama tidak ingin terjadi sesuatu sama calon cucu pertama mama."


"Iyya, ma. Mama tenang saja."


"Ya sudah. Kalau begitu mama tutup dulu yah telfonnya. Mama mau nemenin Delia dan Zayn ke butik langganan mama. Mereka mau liat-liat baju pengantin."


Deg


Deg


"Jadi benar Dimas akhirnya akan menikah dengan wanita itu?"


Saat Tari sedang bergelut dengan perasaannya, suara mama Elisa sedikit mengagetkannya.


"Tar, Tari, apa kamu masih disana, sayang?"


"Eh i-iyya ma."


"Entar mama telfon lagi yah. Baik-baik disana."


"Iyya, ma."


***


"Ma, itu istrinya kak Zafran yah?" tanya Zayn saat mama Elisa menutup telfon.


"Iya, kakakmu lagi ada kerjaan diluar kota dan istrinya dibawa serta kesana padahal dia lagi hamil muda."

__ADS_1


"Benarkah? Kak Zafran ternyata Tokcer juga yah, baru bulan kemaren nikah, udah hamil aja."


Ucapan Zayn membuat ibu dan anak itu sama-sama tertawa. Mereka tahu Zafran selama ini sangat dingin dengan yang namanya makhluk berjenis kelamin wanita itu.


"Tapi aku penasaran, ma. Wanita mana yang sudah berhasil meluluhkan hati kak Zafran. Pasti wanita itu bukan wanita biasa."


"Yang pasti dia orangnya cantik dan juga sangat lembut. Mama yakin dia bisa menjadi istri yang baik buat Zafran."


"Aku sudah tidak sabar ingin ketemu dia. Aku akan mengucapkan terima kasih padanya karena sudah mencairkan hati beku kakakku yang paling tampan."


"Kamu akan segera bertemu saat mereka kembali."


"Ayo kita berangkat, sayang. Delia pasti sudah lama menunggu."


"Iya, ma."


Keduanya pun berdiri dari ruang keluarga dan berjalan keluar rumah. Tidak berapa lama terdengar suara mobil Zayn meninggalkan Mansion tersebut.


***


Sore itu Tari kembali duduk pada kursi balkon sambil menikmati semilir angin pantai yang menerpa wajah putihnya. Rona jingga diufuk timur perlahan menampakkan wajahnya membuat kesan mendalam para penikmatnya. Hatinya sekarang terasa lebih tenang dan damai.


"Aku tidak akan lagi menjadi wanita menyedihkan dan dikasihani oleh suamiku sendiri. Aku berjanji akan membuat mas Zafran jatuh cinta padaku. Kalau Zayn bisa menjalani kehidupan dengan sangat baik, kenapa aku tidak? Zayn hanya masa lalu yang akan aku kubur dalam-dalam. Masa depanku adalah mas Zafran." ucap Tari seolah berbisik pada dirinya sendiri.


"Apa hobi kamu melamun?"


"Sejak kapan mas disana?"


"Sejak kamu senyum-senyum sendiri hanya dengan menatap senja."


Tari benar-benar malu mendengar ucapan Zafran. Suaminya itu pasti mengira ia sudah gila.


"Aku tadi teringat sama cerita lucu Chery, mas." jawabnya berbohong.


Zafran hanya menaikkan alisnya, ia juga tidak berniat bertanya lebih jauh pada Tari.


"Kamu mandi saja dulu, mas. Aku akan membuatkanmu kopi."


Lagi-lagi Zafran tidak menjawab. Tapi ia juga tidak menolak.


"Sabar Tari, diam itu berarti iya." batin Tari.


Zafran kemudian berjalan kearah ke kamar mandi dan masuk kedalam untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Selang beberapa menit, Zafran sudah keluar hanya dengan menggunakan handuk. Ia tersenyum melihat ditempat tidur sudah tersedia pakaian ganti untuk dikenakannya. Ia yakin itu pasti kerjaan Tari. Tapi ia tidak melihat sosok wanita itu berada didalam kamar. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kamar dan mendapati Tari baru saja keluar dari arah dapur membawa secangkir kopi ditangannya.


Ia sudah terbiasa melihat Zafran bertelanjang dada seperti itu sehabis mandi tapi sampai saat ini ia belum pernah menyentuh dada seksi suaminya.


"Ini kopinya, mas."


"Hem..."


Tari meletakkan cangkir tersebut diatas meja lalu buru-buru berbalik dan melangkah menuju balkon saat Zafran terlihat akan melepas handuknya. Melihat itu, Zafran lagi-lagi tersenyum.


"Dia kelihatan sangat lucu kalau seperti itu." Zafran.


"Ih, kenapa sih dia tidak punya malu, terus memperlihatkan itunya sama aku." Tari.


"Aku kan suaminya. Kenapa juga dia masih malu begitu. Aku juga belum berniat melakukan apa-apa padanya selama dia masih hamil." Zafran.


"Tapi sebenarnya nggak apa-apa juga sih, dia kan suami aku." Tari.


"Tapi kan kita cuma suami istri diatas kertas, harusnya ia lebih tahu malu. Akh sudahlah, bodoh amat." Tari.


"Habis magrib, kita akan makan malam diluar." ucap Zafran menyusul Tari ke balkon.


Tari bisa merasakan bau parfum suaminya yang sekarang sangat menenangkan. Andai saja mereka berdua adalah pasangan suami istri sebenarnya, ia pasti akan langsung memeluk pria disampingnya ini. Dan mereka akan terlihat sangat romantis, duduk berdua memandangi senja yang sudah hampir tenggelam. Tari kembali tersenyum sendiri memikirkannnya. Ia sampai lupa Zafran yang berada didekatnya.


"Tari, apa kamu mendengarku?"


Karena belum ada jawaban, Zafran mendekatkan mulutnya ke telinga Tari dan sedikit berteriak.


"Ada buayaaa!"


"Aaaaa..."


Tari langsung melompat dari kursinya dan refleks memeluk Zafran. Ia menutup matanya dan menenggelamkan kepalanya pada dada suaminya.


"Dimana buayanya, mas?"


"Buayanya sudah pergi."


"Syukurlah." ucap Tari masih memeluk erat pinggang suaminya.


"Apa kamu akan terus memelukku, meskipun buayanya sudah pergi?"


Tari buru-buru melepasnya dan mengutuki dirinya sendiri. Ia kemudian berjalan cepat masuk kedalam kamar menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.

__ADS_1


💜Saat ini aku belum bisa meyakinkan diriku untuk rasa suka yang sudah mulai tumbuh, tapi aku yakin jika nanti kau benar-benar terpilih untukku, ia akan terpupuk dengan sendirinya...# Zafran💜


__ADS_2