
Tari dan Zafran sampai dikantor setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam.
"Selain Arya, orang kantor tidak ada yang tahu kalau kamu adalah istriku," ucap Zafran sebelum mereka turun dari mobil.
Tari tidak merespon ucapan Zafran, ia hanya menelan salivanya kasar.
"Apa itu peringatan mas Zafran supaya aku menjaga jarak dengannya dikantor?" Tari membatin.
Hatinya terasa sakit mendengar ucapan itu tapi ia seketika sadar bahwa ia tidak punya hak untuk membuat Zafran mengakuinya didepan semua orang meski ia adalah istri resmi secara agama dan hukum.
"Mas bisa duluan naik kalau gitu, aku akan menyusul nanti," ucap Tari pelan sambil menarik nafas berat.
"Aku punya lift khusus untuk keruanganku, hanya sidik jari Arya dan Indah sekretarisku yang bisa membuka pintu lift." Balas Zafran.
Melihat Tari diam saja, Zafran kembali berkata.
"Ikutlah turun, orang-orang tidak akan ada yang berani menanyakan kehidupan pribadiku termasuk sekretarisku. Kamu bisa bilang kalau kamu adalah adik sepupuku."
"Baiklah mas."
Tari menunggu beberapa saat, setelah Zafran turun barulah ia menyusul dibelakangnya. Benar saja saat keduanya sudah memasuki pintu utama kantor, semua karyawan berdiri menyambut Zafran dengan senyum yang mengembang dibibir masing-masing. Tapi Zafran sama sekali tidak membalas senyum para karyawan tersebut, ia terus saja melangkah dengan pandangan terpusat kedepan.
Mata mereka kemudian berpindah kearah Tari dengan sorotan penuh tanda tanya dan senyum yang berbeda saat melihat Zafran. Tapi Tari tidak perduli, ia malah ikut mengulas senyum membalas senyum-senyum mereka.
"Dasar para penjilat." Gumam Tari.
Mereka baru duduk kembali ditempatnya masing-masing saat Zafran dan Tari hilang dibalik pintu lift.
"Aku akan menyuruh Arya mengatur sidik jarimu dipintu lift ini, agar kalau kamu datang kemari bisa langsung naik keruanganku," ucap Zafran setelah mereka berada dalam lift.
"Aku tidak punya urusan penting untuk sering-sering kemari mas," jawab Tari.
"Untuk berjaga-jaga saja," balas Zafran.
Ting...
Keduanya sudah sampai dilantai paling atas dimana ruangan Zafran berada.
"Selamat siang tuan muda," sapa Indah sebelum Zafran masuk kedalam ruangannya.
Sama seperti karyawan lainnya, Indah menatap heran kearah Tari yang menyunggingkan senyum padanya.
"Apa Arya sudah ada diruangannya?" Tanya Zafran.
"Iya tuan muda, Arya sudah datang sejak tadi." Balas Indah.
"Kamu keruanganku setelah mengatur berkas meeting hari ini," ucap Zafran kemudian berlalu kedalam ruangannya.
Tari sudah seperti asisten Zafran yang menguntit terus dibelakangnya. Kalau Zafran berhenti, ia ikut berhenti dan kalau Zafran jalan, ia juga ikut dibelakangnya.
"Masuklah kedalam," perintah Zafran pada Tari sambil membuka pintu sebuah kamar yang berada didalam ruangannya.
"Kita mau apa mas?" Tanya Tari merasa heran kenapa Zafran malah menyuruhnya masuk kedalam kamar.
"Kamu tidak usah takut, aku belum tertarik sama kamu. Pak Udin akan datang dalam waktu sejam, kamu bisa istirahat dulu disini. Ini kamar pribadiku, aku sering pake kalau lagi lembur." Ucap Zafran menjawab kekhawatiran diwajah Tari.
Tari langsung bersemu merah sekaligus merasakan nyeri diulu hatinya mendengar ucapan Zafran. Ia kemudian melangkahkan kakinya perlahan masuk kedalam kamar. Zafran kembali ke meja kerjanya setelah Tari menutup pintu.
Tari mengedarkan pandangannya keseluruh kamar yang penataannya tidak jauh berbeda dengan kamar yang mereka tempati sekarang di Mansion Faresta. Ia melangkah kearah tempat tidur dan pelan-pelan merebahkan badannya disana. Mungkin karena merasa sangat lelah, ia tidak butuh waktu lama untuk memejamkan mata saat kepalanya menyentuh bantal. Dan saking lelapnya tidur, ia tidak mendengar ponselnya berbunyi.
Sementara diluar kamar, Zafran terlihat sedang berbicara dengan Arya.
"Zayn akan tiba tengah malam nanti disini, apa perlu aku menjemputnya Zaf?" Tanya Arya setelah menyerahkan berkas yang mau ditanda tangani oleh Zafran.
"Tidak perlu, nanti aku suruh pak Udin. Kamu urus saja persiapan keberangkatan kita keluar kota," balas Zafran.
__ADS_1
"Baiklah Zaf."
"Apa kamu akan membawa Tari ikut keluar kota?" Lanjut Arya bertanya dengan hati-hati sambil memicingkan matanya.
Zafran terlihat berfikir sejenak, kemudian berucap,
"Teman-teman Tari mungkin sudah tiba dirumah saat ini. Mereka akan menginap dan aku tidak tahu berapa hari. Sementara kita sudah harus berangkat besok."
"Apa itu berarti kamu tidak akan membawanya?"
"Kita hanya satu hari disana, aku rasa tidak akan ada masalah."
"Tapi Tari akan berada dalam satu atap dengan Zayn."
Zafran menghela nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar. Terlihat jelas ada kebimbangan dan kekhawatiran dari wajah datarnya. Arya baru kali melihat Zafran menampakkan wajah seperti itu didepannya.
"Aku akan keluar dari Mansion tapi harus pelan-pelan karena mama pasti tidak akan mengizinkan."
Saat mereka masih serius membicarakan tentang kepulangan Zayn, ponsel Zafran berbunyi.
"Apa pak Udin sudah ada dibawah?" Tanya Zafran tanpa basa basi.
"Iya tuan muda, saya sudah didepan pintu kantor," jawab pak Udin.
"Oke."
Sambungan telfon pun terputus. Zafran berdiri dari duduknya hendak kedalam kamar memanggil Tari.
"Pak Udin sudah ada dibawah, kamu bisa kembali keruanganmu sekarang," katanya pada Arya.
"Baiklah Zaf, aku akan kembali nanti," balas Arya lalu berdiri dan berjalan keluar ruangan.
Zafran membuka pintu kamar pelan-pelan dan berjalan mendekati Tari yang masih tertidur lelap ditempat tidurnya. Ponsel Tari kembali berdering. Zafran melihat kelayar ponsel dan muncul nama Chery calling disana. Karena ia yakin Chery sekarang sudah berada dimansion ia pun memberanikan diri mengangkat telfon itu.
Tanpa memberi kesempatan Zafran untuk bicara lebih dulu, Chery sudah mengomel diseberang telfon.
"Tari sedang tidur," jawab Zafran datar.
"What, siapa kamu?"
Seolah lupa Tari sudah bersuami, Chery kaget mendapati ponsel Tari dijawab oleh seorang laki-laki. Tapi ia seketika menutup mulutnya saat tersadar kalau suara itu adalah suara tuan muda Zafran, suami Tari.
"Ya ampun si manusia salju," gumamnya tapi bisa terdengar samar ditelinga Zafran.
"Mas Zaf...Zafran? Apa aku bisa bicara dengan Tari?" Tanya Chery terbata-bata setelah yakin itu memang Zafran.
"Kamu dimana sekarang?" Zafran bukannya menjawab malah bertanya balik pada Chery.
"Aku dan Nara sudah didepan rumah mas Zafran."
"Masuklah, aku akan menelfon keamanan diMansion. Tari sebentar lagi akan sampai disana."
Setelah berkata begitu Zafran langsung memutuskan sambungan telfon tanpa menunggu lagi balasan dari Chery.
Zafran meletakkan kembali ponsel Tari diatas nakas. Ia lagi-lagi menghela nafas berat saat melihat Tari tertidur lelap tanpa beban di wajah polosnya.
"Benarkah wanita ini sekarang adalah istriku?" Batin Zafran.
Seolah merasakan ada yang sedang memperhatikan, Tari sedikit menggeliat dan membuka matanya perlahan.
"Mas."
"Bangunlah, pak Udin sudah menunggu dibawah dan teman-temanmu juga sudah ada di Mansion. Aku mungkin pulang agak malam karena masih ada yang harus aku kerjakan dengan Arya."
"Benarkah mas?" Mata Tari seketika terbuka lebar.
__ADS_1
Ia bangun dari tempat tidur dan merapikan pakaiannya yang terlihat sedikit kusut.
"Tidak usah terburu-buru, ingat kamu sedang hamil," ucap Zafran melihat Tari seolah sudah ingin terbang keluar.
"Iya mas, aku pulang yah."
Tari meraih tangan Zafran dan menciumnya.
"Hati-hati."
Hanya itu balasan singkat Zafran sebelum Tari keluar dari kamar dan selanjutnya keluar dari ruangan Zafran dengan pandangan Indah yang masih sama sejak ia datang tadi. Tari hanya tersenyum kearah Indah dan membungkukan sedikit badannya. Indah tidak tahu siapa dirinya jadi sudah sepantasnya ia bersikap seperti itu.
Tari tiba didepan kantor dan melihat pak Udin sudah menunggu disana.
"Kita jalan pak," ucapnya setelah berada didalam mobil.
Tari sampai di Mansion sekitar setengah jam kemudian. Memasuki ruang tamu sudah terlihat Chery dan Nara disana sedang mengobrol dengan mama Elisa.
"Teman-teman kamu dari kota S datang berkunjung karena merindukanmu sayang," ucap mama Elisa melihat Tari muncul dari balik pintu.
"Iya ma."
Tari berjalan kearah mama Elisa mencium pipi kanan dan kirinya kemudian beralih ke Nara dan Chery.
"Kalian udah lama?" Tanyanya pada kedua sahabatnya.
"Lumayan beb, selama kamu gangkat telfon gua," balas Chery
"Maaf Cher tadi gua ketiduran," jawab Tari.
"Lu habis ngapain sih, kenapa bisa ketiduran diluar rumah sama manusia salju itu?" Tanya Chery berbisik.
"Sebaiknya kamu bawa temanmu kekamar untuk beristirahat dulu sayang."
Mama Elisa menyela pembicaraan Tari dan Chery.
"Iya ma," balas Tari.
"Bi Ijah sudah menyiapkan kamar diatas untuk temanmu sayang, disamping kamarmu dan Zafran."
"Iya ma, kalau gitu aku naik dulu." Sahut Tari.
"Kami naik dulu tante," ucap Chery dan Nara bersamaan.
"Iya sayang."
Keduanya pun mengikuti langkah Tari didepannya.
"Ya ampun beb, rumah ini seperti sebuah hotel. Lu beruntung banget dapat suami beb," ucap Chery setelah mereka berada dalam lift.
Sejak pertama ia melangkahkan kaki kedalam Mansion tersebut, ia terus membicarakan ketakjubannya pada Nara yang meskipun perasaannya sama seperti yang dirasakan Chery tapi ia tidak senorak itu menampakkannya.
"Lu dari mana Tar?" Tanya Nara.
"Tadi gua dari dokter Nar, terus mampir belanja kebutuhan bumil, dari sana ikut kekantor sama mas Zafran. Sambil nungguin pak Udin gua ketiduran disana," jawab Tari bersamaan dengan terbukanya lift.
Ketiganya pun keluar dari lift dan berjalan masuk kedalam kamar yang berada tepat didepan lift. Lagi-lagi Chery dan Nara disuguhkan interior kamar yang bahkan lebih mewah dari kamar Superior King dihotel berbintang lima.
"Eh beb lu habis em em yah sama manusia salju itu."
Meskipun Chery takjub dengan seisi kamar tapi ia tidak melupakan rasa penasaranya pada Zafran yang mengangkat telfon saat Tari sedang tidur.
❤️ Yang minta bab agak diperpanjang mommy kabulin nih tpi maaf cm sebatas ini dulu karena mommy lagi sibuk di RL, happy reading yah readers kesayangan🙏🤗
💚 Mungkin sampai saat ini bahkan akupun belum tahu bagaimana perasaanku terhadapmu. Yang aku tahu saat melihatmu tertidur lelap, aku selalu ingin menjaga dan melindungimu agar saat terbangun nanti ada seutas senyum tersungging diwajah sendumu...# Zafran💚
__ADS_1