
"Tar maafin aku, aku janji akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan," Dimas tidak berhasil membujuk Tari karena Tari terus saja menangis.
"Tar udah yah, kalau kamu mau kita akan menikah dalam waktu dekat ini, aku akan menemui orangtuamu secepatnya," kata Dimas.
"Udah mas, udah, aku pengen sendiri dulu, jangan menggangguku," sahut Tari dengan nada suara tinggi.
Dimas pun akhirnya mengalah, ia kemudian berdiri mengambil pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelum membasuh badannya dengan air, ia menyandarkan kepalanya pada pintu.
"Apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku bisa khilaf begini, maafkan aku Tar." ucapnya pelan yang ia tujukan pada dirinya sendiri.
Ia kemudian mulai membasuh kepalanya dengan air untuk mendinginkannya. Lama ia berada didalam dan ia terlihat lebih segar setelah keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Tari yang masih membungkus dirinya dengan selimut meringkuk dipojokan. Mungkin karena terlalu lelah akhirnya wanita cantik itu tertidur disana. Dimas tidak berani mendekatinya, ia membiarkan saja Tari tertidur, ia lalu mengambil satu lagi selimut yang biasa dipakai oleh bapaknya dilemari, ia menggelar selimut itu dilantai papan pondok tersebut.
Sebelum Dimas memejamkan mata dipandanginya lagi wajah sendu Tari, mata indahnya kini sudah membuat sebuah gundukan, bahkan saat ia tertidurpun orang bisa tahu kalau ia baru saja menangis.
"Tari, aku janji tidak akan melepasmu, aku akan menemui orangtuamu secepatnya," ucap Dimas pada dirinya sendiri.
Setelah lama memandangi Tari, Dimas merebahkan badannya yang juga sudah lelah sejak tadi. Tidak lama kemudian ia juga tertidur.
Sementara dirumah bu Minah, Nara dan Chery sudah mulai gelisah sehabis makan malam karena Tari belum juga kembali.
"Biasanya bapak pulang dari laut jam berapaan bu?" tanya Nara dengan wajah khawatir.
"Gak tentu nak, tapi kalau cuaca lagi tidak bagus begini, ia biasanya lambat pulang karena ia akan singgah di dermaga yang didapatinya," jawab bu Minah.
"Gimana dong Cher," Nara memang paling dekat dengan Tari jadi ia yang merasa seperti cacing kepanasan saat ini.
__ADS_1
"Kita mau gimana lagi Nar, diluar hujan sangat deras ditambah petir, gua takut keluar rumah, lagian tidak ada kendaraan juga," jawab Chery.
"Lu emang gak setia kawan yah," balas Nara kesal.
"Sudah nak, sudah, kalian percaya saja sama Dimas, mereka akan baik-baik saja, besok pagi kita akan menyusul mereka kalau belum juga kembali," ucap bu Minah menengahi perdebatan kedua sahabat itu.
Keduanya pun akhirnya mengalah, sambil menarik nafas kasar mereka berdua berjalan masuk kedalam kamar. Tidur Nara malam itu benar-benar tidak nyenyak, perasaannya sangat tidak enak. Sementara Chery sudah sejak tadi mengeluarkan suara dengkuran halus yang tidur tidak jauh dari Nara. Nara memang mengizinkan Chery tidur dikamar dengan syarat saat tidur harus memisah dari cewek-cewek. Menjelang dini hari barulah Nara bisa memejamkan matanya.
Tari dan Dimas baru terjaga dari tidurnya setelah mendengar suara ribut-ribut diluar pondok. Mata Tari terasa sangat berat sehingga ia begitu enggan membukanya.
"Sepertinya bapak sudah datang dari melaut, kamu bersihkan diri dulu, bapak biasanya akan lama dipinggir pantai baru naik kepondok," ucap Dimas pelan, tapi Tari malah memalingkan wajahnya. Dimas hanya bisa menghela nafas berat.
"Aku mau turun dulu kebawah membantu bapak," ucap Dimas lagi tapi Tari masih tak bergeming.
Barulah sepeninggal Dimas, ia perlahan berdiri, ada rasa nyeri yang ia rasakan disela-sela pahanya, ia berjalan sangat pelan kekamar mandi. Didalam kamar mandi ia membasuh kepalanya dengan linangan air mata yang bercampur dengan air mandinya, ia terus saja mengutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya terbawa kedalam permainan Dimas.
Tari kemudian turun kepantai, ia terus memijat-mijat gundukan dibawah matanya agar tidak terlihat membengkak.
"Bapak kog lama pulangnya?" tanya Tari setelah ia berada dipinggir pantai melihat-lihat pada pelaut yang baru pulang, ia berusaha bersikap normal seolah tidak terjadi apa-apa.
"Eh ada nak Tari, iyya bapak sama yang lainnya singgah di dermaga perbatasan karena cuaca sangat buruk," jawab suami bu Minah.
"Tari ikut kemarin sore kesini Pak karena dikira abis magrib bapak akan pulang, tapi karena hujan deras kami juga jadi terjebak disini," ucap Dimas.
"Oalah, maafin bapak yah nak," balasnya. Tari hanya tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kegetiran hatinya. Ia tidak mau melihat kearah Dimas. Entah kenapa ia sekarang sangat membenci laki-laki itu, laki-laki yang sangat ia cintai.
__ADS_1
"Yah udah kita pulang sekarang yah, bapak dirumah aja bersih-bersihnya,"
"Baiklah pak,"
Pak Asep berjalan kearah motor kunonya yang diparkir didepan pondok bambu, diikuti oleh Dimas dan Tari.
"Dim, kamu kunci aja pondok, bapak tidak naik," Dimas bergegas naik keatas, tapi sebelum iya mengunci pintu ia melihat kedalam terlebih dulu ternyata Tari sudah membereskannya.
Setelah memastikan tidak adalagi yang tertinggal, ketiganya pun kembali kerumah, Pak Asep berjalan didepan, disusul Dimas yang menggonceng Tari dibelakang.
Wajah Tari tidak sebahagia kemarin sewaktu mereka dalam perjalanan kepondok bambu, sekarang ia lebih banyak diam, tangannya pun tidak lagi memeluk erat perut Dimas.
"Andai ini hanya sebuah mimpi, pasti tidak ada yang akan berubah saat aku bangun, tapi ini nyata, milikku yang paling berharga sudah hilang," ucap Tari dalam hati sambil memandang laut lepas yang mereka lewati dengan tatapan kosong.
Sesampainya didepan rumah bu Minah, mereka sudah disambut dengan drama pagi-pagi Chery yang sedang mencari motor untuk dipakai menyusulnya. Chery dan Nara menghambur kearah Tari saat melihat motor Dimas memasuki halaman rumah.
"Lu kenapa baru pulang Tar, lu udah bikin kita khawatir banget tau gak," Belum juga Tari turun baik-baik dari motor, Chery sudah memberondongnya dengan kata-kata.
"Gua gak apa-apa Cher, semalam hujan sangat deras jadi kita gak bisa pulang," jawab Tari pelan, ia mencoba menyembunyikan keadaan hatinya saat ini.
"Lu baik-baik aja Tar?" tanya Nara, ia paling tau bagaimana Tari dan Tari tidak bisa menyembunyikan keadaannya pada Nara karena Nara yakin sudah terjadi sesuatu pada wanita cantik itu. Meskipun Tari sudah mengangguk perlahan sebagai jawaban dari pertanyaan Nara tapi Nara tetap saja tidak bisa percaya sepenuhnya.
"Aku cuma pengen istirahat Nar, aku sepertinya demam, mungkin karena hujan terlalu deras semalam," ucap Tari kemudian berlalu masuk kedalam rumah dan terus kekamar, disusul kedua sahabatnya meninggalkan Dimas yang masih diam terpaku ditempatnya. Chery yang biasanya sering menyapa Dimas dimanapun, sekarang ia juga mengabaikannya, ditambah tatapan permusuhan dari Galen yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Nara dan Chery sambil ikut menunggu Tari pulang, lengkaplah sudah penderitaan hati yang diterima Dimas saat ini.
Dimas menghela nafas kasar, sebelum ia akhirnya menyusul pak Asep kebelakang rumah untuk memisahkan ikan-ikannya.
__ADS_1
❤️ Jangan lupa LIKE, VOTE, dan KOMENTnya yah😘😘
❤️ Harga diri itu tidak terletak hanya pada materi, karena yang minim materi pun bisa mempertahankan harga dirinya dengan menjaga perilakunya😊