Cinta Dibalik Penolakan

Cinta Dibalik Penolakan
Pantai Yang Indah


__ADS_3

Hanya butuh dua jam perjalanan, pesawat yang membawa Zafran dan Tari sudah mendarat di bandara kota L menjelang subuh. Disana sudah ada sopir yang disediakan oleh kantor cabang untuk menjemput mereka. Mereka akan langsung menuju penginapan yang letaknya berada dipinggiran kota. Sebuah cottage yang sangat privat dengan view pantai berpasir putih. Zafran sengaja memesan tempat tersebut karena ia ingin menenangkan diri dari hiruk pikuk kota J yang membuat kepalanya penat.


Setelah hampir satu jam berada dalam mobil tanpa saling bersuara, mobil itu pun berhenti tepat didepan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar tapi terlihat sangat nyaman suasananya. Matahari pagi yang perlahan mulai menampakkan dirinya membuat kedua pasangan muda itu bisa menyaksikan dengan jelas keindahan pantai berpasir putih tersebut.


"Kita sudah sampai, Tuan."


Zafran tidak menjawab ucapan sang sopir, hanya matanya yang diedarkan keseluruh sudut cottage dan berhenti pada air laut yg biru nan bersih, deburan ombaknya yang tenang seolah menyambut dengan hangat kedatangan mereka disana.


"Mari, Tuan." ucap sopir itu lagi setelah membukakan pintu mobil untuk kedua majikannya.


Zafran kemudian turun dari mobil dengan elegan disusul oleh Tari dibelakangnya.


"Istirahatlah sebentar, aku sudah menyuruh pelayan untuk membawa sarapan kita ke kamar!" perintah Zafran setelah mereka berada dalam kamar.


Tari tidak menjawab, ia malah berjalan menuju balkon kamar tersebut.


"Benar-benar sebuah tempat yang sangat indah." gumamnya seraya menghirup udara pagi yang begitu sejuk.


Ia sangat takjub melihat pemandangan yang disuguhkan didepan mata saat ini. Bagaimana tidak, balkon kamar yang akan mereka tempati langsung mengarah kebibir pantai, dan ia bisa dengan jelas melihat hamparan laut biru yang mempertontonkan keindahannya ditambah dengan pasir putihnya, membuat siapa saja yang berada disitu akan berdecak kagum.


Entah sudah berapa lama Tari berdiri disana, yang pasti saat ini Zafran sudah berada disampingnya dengan setelan jas yang dikenakannya.


"Apa kamu masih ingin terus berdiri disini?"


Tari sedikit terhenyak mendengar suara Zafran.


"Lautnya sangat indah, membuat aku masih betah memandanginya. Terima kasih sudah membawaku kesini."


Zafran hanya menarik nafas menanggapi ucapan Tari.


"Lebih baik kamu sarapan dulu, tidak baik bagi ibu hamil sarapan kesiangan."


"Iyya, mas."


"Mas Zafran bagitu perhatian, ini pasti karena aku sedang mengandung anak dari adiknya. Jangan Ge Er Tar, Zafran tidak mungkin menyukai wanita sepertimu." Batin Tari.


Ia lagi-lagi harus menepis perasaannya yang ingin berharap lebih pada laki-laki yang sudah menyelamatkan harga dirinya.


"Mas, tidak ikut sarapan bersamaku?" tanya Tari melihat Zafran sudah memakai sepatu kantornya.


"Aku harus buru-buru ke Kantor Cabang, manager disana baru saja menelfon kalau pertemuan dimajukan. Aku bisa sarapan disana nanti."

__ADS_1


"Baiklah mas."


Dengan sedikit kecewa Tari hanya bisa menarik nafas berat.


"Kamu hati-hati disini, aku akan kembali secepatnya setelah urusan dikantor selesai." ucapnya sebelum keluar dari kamar.


"Iyya, mas."


Tari berdiri lalu meraih tangan Zafran dan menciumnya.


***


"Maaf Tante, kami kesiangan. Abisnya tempat tidurnya empuk banget sih."


Nara sedikit menyenggol lengan Chery mendengar ucapannya saat mereka baru saja sampai dimeja makan untuk sarapan.


"Nggak apa-apa sayang. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri." balas mama Elisa.


"Ayo duduk, tante juga baru mulai sarapan kog." ajaknya pada kedua sahabat menantunya tersebut.


Nara dan Chery pun duduk berdekatan didepan kursi mama Elisa. Tapi keduanya merasa heran karena tidak melihat batang hidung sahabatnya dimeja makan saat ini. Tari memang belum mengabarkan pada mereka bahwa ia sudah berada diluar kota sekarang.


"Tante apa Tari selama disini suka bangun kesiangan yah?"


"Nggak kog, Tari selalu bangun pagi."


"Tapi aku kog belum liat dia dari tadi, tan?"


"Iya tan, Tari dimana yah?"


Nara juga ikutan menimpali pertanyaan Chery.


"Tari belum ngasi tahu kalian yah? Tari kan tengah malam tadi keluar kota sama Zafran."


"What?" ucap Chery kaget.


Nara tidak kalah kaget mendengar ucapan mama Elisa. Bagaimana mungkin Tari pergi meninggalkan mereka disini.


"Iyya sayang, Zafran ada urusan bisnis diluar kota dan dia membawa istrinya ikut serta. Zafran bilang, Tari akan menghubungi kalian via whatshap."


Saat kedua sahabat itu saling berpandangan, terdengar suara pria menyapa mama Elisa.

__ADS_1


"Pagi, tante."


"Pagi juga, Arya. Ayo ikut sarapan sama kita."


Arya memang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh mama Elisa karena ia sudah lama bersahabat dengan Zafran, bahkan bisa dibilang Arya yang menemani Zafran merintis perusahaannya hingga bisa berkembang pesat seperti sekarang.


"Kebetulan tante, aku memang belum sarapan." balasnya menyunggingkan senyum.


Mereka pun memulai sarapan pagi itu sambil berbincang-bincang kecil. Arya juga memberitahukan pada Nara dan Chery tentang liburannya kepulau kecil yang sudah diatur olehnya atas perintah Zafran.


Meskipun awalnya mereka sedikit kecewa mendengar kepergian Tari tapi mereka sadar Tari sekarang sudah menjadi seorang istri, jadi kemanapun suami membawanya ia harus mengikutinya. Lagipula suami Tari sudah berbaik hati memberikan mereka liburan gratis sebagai permintaan maaf.


"Oya tan, apa Zayn sudah pulang?"


Pertanyaan Arya lagi-lagi berhasil membulatkan kedua mata Chery dan Nara.


"What? Kak Zayn sudah pulang?"


Nara menginjak kaki Chery yang tidak pernah bisa menahan mulutnya untuk nyerocos.


"Sakit tau," bisik Chery pada Nara.


"Apa kalian berdua juga kenal dengan Zayn?" tanya mama Elisa penuh selidik.


"Nggak tan, kami cuma tahu dari Tari kalau kak Zafran punya adik namanya Zayn dan ia lagi diluar negeri berobat untuk memulihkan ingatannya." balas Nara tidak ingin membuat mama Elisa curiga.


"Oh begitu. Zayn sudah tiba di mansion subuh tadi. Ia sudah sembuh dari amnesianya, tapi sepertinya ia sangat lelah sehabis perjalanan jauh jadi ia masih istirahat di kamarnya."


Nara dan Chery hanya menyeringai kecil mendengar ucapan mama Elisa. Dalam hati mereka ikut mengkhawatirkan hubungan Tari dan suaminya nanti jika harus satu atap dengan ayah dari janin yang dikandungannya saat ini.


"Lalu bagaimana dengan Delia, tan?" tanya Arya.


"Delia langsung pulang kerumahnya. Ia juga butuh istirahat karena sebentar lagi mereka akan disibukkan dengan urusan pernikahan mereka."


"Apa pernikahannya akan diadakan dalam waktu dekat, tan?" tanya Arya lagi.


"Sepertinya begitu. Delia dan Zayn sudah tidak sabar untuk segera menyatukan cinta mereka dalam ikatan sakral pernikahan seperti Zafran dan Tari."


Mama Elisa tersenyum penuh kebahagiaan mengingat kedua putranya yang sebentar lagi akan memiliki keluarga kecilnya masing-masing.


Berbeda dengan mama Elisa yang terlihat bahagia. Kedua sahabat Tari justru merasa sedih mengingat Zayn yang selama ini mereka kenal sebagai Dimas yang mencintai Tari, ternyata sekarang sudah kembali pada cinta lamanya dan benar-benar melupakan Tari.

__ADS_1


❤️Happy reading kesayangan mommy🤗


💜Meski kau hadir tanpa Cinta, apakah boleh jika saat ini aku sedikit bahagia menerima perhatian kecilmu?... # Tari💜


__ADS_2