
"Bagaimana Zayn dikantor? Apa dia menyusahkanmu?" tanya Zafran pada Arya dari balik ponsel.
"Tidak sama sekali, Zaf. Meskipun ia lama tidak masuk kantor tapi aku rasa ia masih tahu dengan baik kerjaannya di kantor." jawab Arya.
"Baguslah kalau begitu. Oya apa kamu sudah menyiapkan apartemen yang akan aku tempati sepulang dari sini?"
"Iya, kamu tenang saja, Zaf. Semuanya akan selesai saat kamu kembali."
"Aku memang selalu bisa mengandalkanmu, Ya."
"Kamu jangan berlebihan, Zaf. Kita ini kan sahabat. Aku bisa merasakan bagaimana berada diposisimu saat ini."
"Makasih, Ya."
Zafran pun memutus sambungan telfon lalu beranjak dari duduknya. Ia melangkah masuk kedalam kamar dan mendapati Tari yang sedang asyik menonton.
"Wanita ini pasti belum meminum susunya. Aku liat sejak tadi ia asyik memakai laptopku." batin Zafran seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia yang tadinya berniat untuk istirahat, justru berjalan kearah dapur. Selang beberapa menit ia keluar dari sana dengan segelas susu ditangannya.
"Minum dulu susunya!" perintahnya saat berada didekat Tari.
Tari seketika menyudahi aktivitasnya dan menatap heran kearah suaminya.
"Kenapa?"
"Kamu membuatkanku susu, mas?"
Tari bertanya seolah tidak percaya dengan yang dilihatnya sekarang.
"Apa ada yang salah?"
"Makasih, mas. Thank you so much for your concern."
Tari meraih gelas tersebut dari tangan Zafran. Karena merasa kaget dengan perlakuan Zafran, ia mampu meminum susu itu hanya dengan satu kali tarikan nafas. Ia serasa berada dalam dunia mimpi yang begitu indah, hingga ia enggan untuk terjaga. Ia mengelus gelas susu ditangannya, seolah menganggap itu adalah Zafran.
Zafran yang melihat kelakuan Tari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berbalik meninggalkan Tari menuju sofa. Menyadari akan itu, Tari buru-buru kembali bersikap normal. Ia memandangi Zafran yang sudah bersandar pada sofa sambil memikirkan cara bagaimana membuat Zafran tidur lagi didekatnya malam ini.
"Au, sakittt..." setengah berteriak Tari memulai aksinya seraya pura-pura memegang betisnya.
__ADS_1
"Kamu kanapa, Tar? Yang sakit yang mana?" Tanya Zafran yang sekarang berada disampingnya.
"Betisku, mas. Tiba-tiba aja pegal serasa ditusuk-tusuk."
"Kenapa bisa begitu? Apa memang ibu hamil punya keluhan seperti itu?"
"Aku juga nggak tahu, mas."
"Kamu tenang dulu, aku akan menelfon dokter pribadi Faresta."
Zafran kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi dokter, sementara Tari menarik kedua ujung bibirnya sambil melirik kearah Zafran yang terlihat sedikit panik.
"Kata dokter itu biasa untuk ibu hamil. Hanya perlu dikompres air dingin." ucapnya setelah sambungan telfon terputus.
"Kamu diam dulu disini, aku akan mengambil air dingin."
Tari hanya mengangguk menanggapi ucapan Zafran. Ia sebenarnya juga merasa bersalah pada pria itu tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak punya cara lain untuk membuatnya mengaku bahwa ia sebenarnya suka mulai menyukainya.
Selang beberapa menit, Zafran kembali dengan wadah kecil ditangannya.
"Tidurlah, aku akan mengompres betismu."
Tari lagi-lagi mengangguk kecil sambil memasang senyum termanisnya.
"Wanita ini benar-benar sedang menguji pertahananku saat ini." batinnya.
Sementara Zafran sibuk mengurusi betisnya, Tari pura-pura memejamkan mata dan beberapa menit kemudian ia seolah-olah sudah terlelap.
Merasakan Zafran akan beranjak dari sana, ia kembali menarik lengan pria itu.
"Tetaplah disini, aku takut sendirian." ucap Tari dengan mata terpejam.
Zafran menggoyang-goyangkan tangannya didepan wajah Tari tapi tidak ada respon dari wanita itu.
"Dia ternyata sudah tidur. Apa dia mengingau lagi? Tapi kog rasanya aneh yah, selama disini ia mengigau tiap malam. Apa tempat ini tidak cocok untuknya? Sepertinya kami harus kembali besok." ucap Zafran dengan sangat pelan tapi tentu saja Tari bisa mendengar semuanya karena ia belum tertidur.
Mendengar ucapan Zafran, ia malah semakin mengeratkan pegangannya. Dan akhirnya usahanya tidak sia-sia. Zafran kini mengatur posisi tidur disampingnya.
"Aku tidak mungkin tidur sambil duduk lagi malam ini. Belakangku terasa rontok. Lagipula kan dia yang memintaku tetap disini. Jadi kenapa aku harus menyiksa diri."
__ADS_1
Zafran berkata pada dirinya sendiri seraya merebahkan badannya. Tari merasa sangat senang merasakan nafas suaminya itu berada sangat dekat dengannya.
Zafran tidur telentang sambil kedua tangannya berada dibelakang kepala. Ia perlahan memejamkan mata dan akhirnya tertidur. Mendengar dengkuran halus dari suaminya tersebut, Tari membuka mata pelan-pelan dan benar saja Zafran kini sudah berada dialam bawah sadarnya.
"Aku rasa aku sudah mulai meyukaimu, mas. Apakah kamu juga merasakan hal sama?" batinnya seraya mengelus lembut pipi suaminya.
Merasakan ada yang menyentuhnya, Zafran refleks bergerak.Tapi bukannya membuka mata, ia malah berbalik dan memeluk Tari.
Tentu saja senyum bahagia dan penuh kemenangan langsung tersungging pada wajah cantik wanita itu. Ia menggenggam erat tangan suaminya dan perlahan menutup mata.
***
"Sayang, tempat ini sangat romantis yah. Aku sangat bahagia bisa kayak gini lagi sama kamu." ucap seorang wanita yang terlihat elegan dengan gaun selutut yang dikenakannya.
Ia adalah Delia, calon nyonya Zayn Faresta. Malam itu keduanya sedang makan malam disebuah resto privat dengan alunan musik live yang bernada melow. Setelah pulang dari luar negeri, baru kali ini keduanya merasakan hal seperti ini lagi.
"Iya, sayang. Aku juga bahagia bisa memiliki wanita sepertimu."
"Tinggal menghitung hari, kita akan resmi menjadi suami istri. Aku sudah tidak sabar lagi menunggu hari itu tiba, sayang." ucap Delia sambil merebahkan kepalanya dibahu Zayn dan melingkarkan lengannya pada pinggang pria itu.
"Apalagi aku, sayang. Aku sudah lama menunggu waktu ini."
"Apakah kamu akan terus mencintaiku seperti ini, Zayn?"
"Tentu saja, sayang. Kamu adalah alasan aku semangat menjalani hidup."
"Aku mencintaimu, Zayn."
Delia semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Zayn. Zayn tiba-tiba berbalik dan meraih dagu wanita itu. Ia lalu mengecup lembut bibirnya. Saat melihat Delia memejamkan mata, Zayn kemudian meraih tengkuknya dan memiringkan sedikit kepalanya. Ciuman yang awalnya dilakukan dengan pelan, kini semakin cepat. Membuat keduanya sulit bernafas. Delia dengan lihainya membalas lidah Zayn yang sudah menari-nari didalam mulutnya.
Barulah keduanya berhenti, saat mereka merasa benar-benar butuh oksigen untuk bernafas.
"Kamu akan mendapatkan semuanya saat kita sudah menikah nanti, sayang." ucap Delia menatap penuh cinta kearah Zayn.
"Makasih, sayang. I Love You so much."
"I Love You more, baby."
Zayn melihat kearah jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia pun mengajak Delia pulang. Setelah mengantar terlebih dulu Delia kerumahnya, barulah ia juga kembali ke mansion.
__ADS_1
🧡 Happy reading kesayangan mommy🤗
💜 Mungkin caraku salah untuk menarik dirimu kedalam hidupku yang sesungguhnya tapi percayalah semua ini tulus aku lakukan untuk menjadi istrimu seutuhnya...//Tari💜