
"Eh pedes banget... Air es" Vian mengibas-ngibaskan telapak tangn didepan mulutnya sambil lari kedapur untuk memgambil air es dikulkas. Begitu membuka kulkas, dengan segera Vian pun mengambil botol yang nampak didepan matanya secara asal.
"Waaaaaaaa asemmmmm pedes jugaaa." teriak Vian yang merasakan mulutnya semakin terbakar kemudian lari keluar lagi. Lalu menyeruput dengan asal kopi yang ada dimeja.
"Itu kuah acar yan, tante belum beli isiannya." Isz menjelaskan isi air dalam botol kaca yang dikulkas.
"Wah pingsan aja deh yan. Tar makin panas tuh perut." Benny menimpali.
"Haahhh panasss." Vian semakin meninggikn pekikannya.
"Sial banget, tante tolong kek. Gulanya dimana." Vian masih kelojotan merasakan mulutnya kebakar berkli-kali.
Tidak ada yang menolong, malah teman-temannya pada menertawakan. Akhirnya bapak yang bertindak. Diambilnya sejumput garam didapur, kemudian menuangkan teh hangat ke dalam cangkir tanpa gula.
"Nih, minum sedikit tehnya. Setelah minum teh gigitin sedikit-sedikit garemnya. Panas. Tapi sebentaran aja nanti cepet ilang pedesnya." Bapak menjelaskan panjang kali lebar.
"Mbah mau bunuh cucu sendiri? Masa panas gini suruh minum. Gamau. Air es" Vian mengibas kan tangannya makin gencar.
"Coba dulu. Nanti kalo ga sembuh Vian boleh marahin mbah. Itu cuma anget jadi langsung minum yang banyak." Bapak masih dengan sabar merayu Vian.
__ADS_1
"Awas...." Vian memgacungkan kepalan kepalan tangan ke arah bapak. Kemudian meminum teh yang di sodorkan bapak.
Gleg
Gleg
"Aaaaaa panasssss, embaahhh..." Vian kembali berteriak.
"Itu gigit garem dikit. Jangan banyak-banyak." Sahut bapak.
Masih sambil mengibaskan tangannya vian menggigit garam.
"Ya kan aku geli banget sama cicak bang. Hih... Geli..." Amir bergidik dengan ekspresi yang aneh.
"Yeelah, muka doang rambo. Tapi hatinya melow, pakek rok aku sana." Kini Isz juga ikut mengejek Amir.
Benny dan Gerry kembali kedepan TV sambil tertawa terbabak serta melontarkan banyak banyak kata ejekan buat si Amir.
"oh,,,, rambo romeo ku... Cup cup sini yuk... Udah gak usah lanjutin cayang cuci piringnya cayang." Cicit Isz sambil memapah Amir merangkul pinggang Amir serta meletakkan satu lengan Amir dipundaknya.
__ADS_1
Ehemmmm
Alex berdeham. Seketika mereka saling melepaskan diri. Amir langsung jalan ke depan. Sedangkan Isz nyengir kuda menghadapkan wajahnya kepada Alex sambil mengangkat dua jari membentum huruf V.
Tak menanggapi, Alex berjalan kedepan menyusul yang lain.
"Awas cicak." Teriak Vian tiba-tiba. Spontan teriakan menggema diruangan itu. Bukan amir saja, Benny juga tak kalah keras suara teriakannya sambil saling berpelukan.
Seketika ruangan kembali bergema dengan tawa.
"Baaaaang bang. Tadi aja sok-sokan ngejek Amir karna takut cicak. Nah sekarang lihat, bahkan lompatanmu lebih tinggi dari Amir." Kata Vian mengejek sambil berlalu kedapur membawa mngkoknya.
Malam itu mereka tak henti saling mengejek hinggal entah jam berapa mereka tidur. Yang pasti Isz yang sudah mengantuk berat pun akhirnya kekamar tanpa pamit.
Pagi ini Isz tampak lebih pendiam dari biasanya. Biasanya, setiap mata pelajaran PKn dia yang paling suka dan sangat, kini dia lebih banyak diam. Wajahnya yang lesu, sedikit pucat menyangga kepalanya dengan tangan.
"Ada apa my dear?" Bisik Zulfi ditengah pelajaran yang sedang berlangsung.
"Nothing, bi. I'm ora popo." Jawab Isz lesu.
__ADS_1