
"Gatau nih. Vian kayaknya lagi gencar pdkt in temen sekelasnya tuh. Mas Benny Gerry mungkin sibuk dirumah. Kan budhe udah pulang. Alex katanya pergi sama om nya." terang Isz panjang lebar.
Amir tidak menyahuti. Diambilnya gitar kemudian mulai memetikkan dawainya.
_*cinta yang tulus dalam hatiku
Membuang semua hasrat dan mimpiku
Tuk bisa mengungkap kan semua
Pada dirimu. Hoo
Tak mungkin bagiku tuk memilikimu
Segala rasa yang pasti tak mungki
Tukbisa menyatakan cinta
Tuk bisa mengungkap kan sayang
Kusuka kamu
Ketika bunga tak bermekar lagi.dan dunya tak mungkin berputar lagi
Saat cinta tak memandang hati ini
__ADS_1
Kau kan tau betapa aku mencintaimu
Betapa aku menginginkan kamu*_
Lagu dari band ungu yang dinyanyikan Amir terdengar merdu ditelinga Isz. Membuat Isz juga ikut bernyanyi kecil sambil nyetrika.
"Belakangan ini kamu lebih pendiam dari biasanya mir?" Tanya Isz disela petikan gitar Amir.
"Biasa aja tuh." Jawab Amir singkat. Masih sambil memetik dawai gitarnya.
"Enggak. Emang lebih pendiem. Kamu ada masalah?"
"Ga ada."
"Ga ada apa-apa."
Isz dan Amir memang berteman dari mereka masih kecil. Bahkan sebelum Benny dan Gerry datang dari jakarta kemudian menetap disini.
Rumah mereka sebelahan. Sebelum Amir dan keluarganya pindah. Masih satu desa sih tapi beda Rt.
Isz menata lipatan bajunya kedalam almari. Kemudian kembali duduk didepan TV. Dia merebahkan badannya sambil kakinya diletakkan dipangkuan Amir. Mereka memang sudah seperti saudara.
"Ahhhh capeknya... pijitin" Kata Isz. Dikelilingi cowok-cowok menjadikan Isz sedikit manja.
"Nyetrika baju satu aja ngeluh capek. Udah sana. Tar diliat cowokmu berabe loh." Amir menurunkan kaki Isz kemudian kembali memainkan gitarnya.
__ADS_1
"Dih... Sebelum aku pacaran sama abang tampan mu itu, kita udah lebih deket daripada sodara kandung. Kamu telanjang juga aku udah pernah liat. Mandi bareng juga tiap hari. sering tidur bareng. Dulu tapi." Sahut Isz cuek dan kembali meletakkan kakinya di pangkuan Amir.
"Abang ku cemburuan loh." Kata Amir sabil menurunkan kembali kaki Isz dari pangkuannya.
"Ah tauk lah. Kamu jadi aneh sekarang." Isz mencebikkan bibirnya kemudian berlalu kekamar mengambil HPnya kemudian kembali kedepan TV. Merebahkan badannya dengan kaki diletakkan disofa.
Sesekali Isz senyum-senyum sendiri. Rupanya sedang berbalas pesan dengan Alex. Sesekali Amir meliriknya kemudian kembali bermain gitar. Hingga tak terasa petang menjelang. Bapak Isz pun sudah pulang kerja. Dan ikut nimbrung diruang tengah.
"Tumben sepi pada kemana ini?" tanya bapak. "Bude Surati siang ini udah dibawa pulang om." Amir yang menjawab.
"Kamu ga kesana nduk?" tanya bapak kepada Isz.
"Nanti lah pak. Tadi kan aku kerjain apa-apa sendiri. Jadi belum sempat kesana."
"Yudah kita makan. Terus bareng-bareng kesana." ajak bapak Isz.
Kemudian mereka bertiga pun makan. Amir yang memang sudah dekat dengan keluarga Isz pun tak canggung makan bareng.
Dirumah Benny, tampak ramai disana, sanak saudara yang menengok budhe Surati datang pergi.
"Budhe, udah enakan?" Isz mengusap pelan lengan budhenya yang masih terbaring lemah.
"Udah nduk. Budhe sudah sembuh." Senyum terkembang dibibirnya. Tampak kerutan diwajahnya. Mata yang sayu serta bibir yang pucat.
"Budhe yang semangat ya. Jangan ada beban pikiran apa-apa budhe."
__ADS_1