
"Kamu dari tadi diem aja." Zulfi membenarkan anak rambut Isz yang sedikit berantakan kebelakang telinga.
"Kamu panas banget, Umi. Ke UKS aja ya. Aku panggilin Lilis biar ditemenin." kini Zulfi memegang kening Isz.
"Ga mau." Isz menepis tangan Zulfi.
"kenapa? Mau aku yang temenin?." Zulfi berbisik terlalu dekat hingga nafasnya terasa ditelinga Isz, yang seketika membuatnya bergidik geli. Kayak kesetrum gituh.
"Udah aku gapapa." Isz mendorong pelan badan Zulfi suapaya agak menjauh karena Isz merasa tidak nyaman oleh hembusan nafas Zulfi.
"Tapi kamu panas banget. Kamu ijin aja. Aku anter pulang ya." Zulfi kembali berbisik malah semakin mendekat.
"Udah gausah. Jangan maksa biii." Isz kembali mendorong badan Zulfi kali ini agak keras.
"cewek emang gitu, gasuka dipaksa-paksa." Terdengar suara bisikan dari sisi kanan Zulfi.
"Diem lu, dia badannya panas, tarjo." Zulfi membalas bisikan tanpa menoleh.
"Yaudah suruh dia istirahat di UKS." balas bisikan itu.
"Udah dari tadi aku suruh dianya ngvak mau, bego. Makanya aku paksa dia." bisik Zulfi lagi. Kini tatapannya lurus kedepan.
__ADS_1
"kok pak kunch gaada?" Zulfi berkata dengan suara normal.
"Ada." Jawab pak Kuntjoro sama dengan suara normal.
Zulfi seketika menengok ke kiri.
"Astaga paaakkkkkk. Ngagetin aja. Bapak ngapain disini?" Pekik Zulfi sambil mengelus dada mendapati wajah pak Kuntjoro begitu dekat dengan wajahnya.
Seketika suara gemuruh tawaemenuhi ruangan kelas itu.
"Ah kamu, biasa aja keles." Pak kuntjoro kini menegakkan badannya. Kemudian memasukkan satu tangannya kedalam saku celana, tangan yang lain menumpu badan pada meja didepan Zulfi.
"Ah masa tadi saya melakukan hal setidak terpuji itu kepada bapak?" Ucap zulfi dengan wajah sok kaget.
"sayangnya iya." jawab pak Kuntjoro sambil bersedakap.
"Maafkan saya yang tidak berdaya ini pak. Saya khiaf." Zulfi memohon kepada pak guru.
"Tak semudah yang kau bayangkan." sahut Pak Kuntjoro dengan nada sinis serta menggerakkan jari telunjuknya kearah Zulfi.
Kelas kembali gemuruh oleh suara tawa pata siswa.
__ADS_1
"Berani bayar berapa kamu pindah nama saya yang baik dan benar serta terpuji ini." Imbuhnya. Kelas semakun gemuruh oleh suara tawa.
Kriiiiiiiiiiiing... Bel berbunyi tanda jam pergantian pelajaran.
"Kali ini selamat kamu." Pak Kuntjoro menunjuk Zulfi dengan suara dibuat seram yang justru semakin me gundang gelak tawa para siswa.
"Okey kita akhiri perjumpaan kita pagi hari ini. Dan untuk kamu." pak kuntjoro kembali menunjuk Zulfi.
"siapanamanya?" pak kuntjoro bertanya kepada siswa yang ada didepannya.
"Zulfi pak." jawab siswa itu.
"iya. Zulfi. Saya tunggu surat permohonan maafnya serta jelaskan kesalahan yang kamu lakukan hingga kamu harus menulis surat permohonan maaf kesaya." kata pak kuntjoro tegas.
"Baik pak." Jawab Zulfi lesu.
"Oh, atau kamu mau me gataknnya sekarang didepan kelas? Biar tancteman mu juga tahu kesalahanmu. Selain itu saya juga belum tentu ada waktu untuk membaca suratmu."
Tak menjawab, Zulfi langsung maju kedepan kelas lalu dengan lantang mengatakan,
"Saya Muhammad Zulfickar Rachman, menyampaikan permohonan maaf kepada bapak Kuntjoro yang baik hati dan budiman serta sangat penyayang juga tidak tegaan kepada siswa siswi kesayangannya, bahwasanya saya telah bersalah karena mengira bahwa beliau adalah agus sehingga saya memanggil beliau dengam sebutan Tarjo serta mengatai bego. Maka dengan ini saya momohon maaf yang sebesar-besarnya Kepada bapak Kuntjoro."
__ADS_1