
"Huh, dasar posesif." Gerutu Toni.
Gerombolan pengacau pun akhirnya keluar dari UKS.
"Kamu juga keluar." ucap Isz sambil kembali merebahkan badan memunggungi Zulfi.
"Kenapa? Aku ini baik dan mau jagain kamu lho." Sergah Zulfi tidak terima di usir.
"Bi, kamu jangan bolos pelajaran. Walaupun nilai MTK mu sudah lebih dari cukup. Dan bolos seminggu pun gabakal bikin kamu ketinggalan."Cerca Isz berkilah. Padahal Isz hanya ingin tenang tanpa berisik.
"Kamu ini katanya lagi sakit. Kenapa cerewet sekali?" Zulfi yang tidak terima diusir aqirnya mengomel.
"Zulfi, dari tadi kamu kamu yang paling banyak berbunyi sampai aqirnya kamu kekantin dengan banyak pesanan dariku." Isz meninggikan nada bicaranya sambil memiringkn badannya memunggungi Zulfi.
"Okey, kamu bisa istirahat." Sahut Zulfi singkat.
Hening. Isz pun mulai memejamkan mata. Dia mengira Zulfi meninggalkannya diUKS.
"Oh god, aqirnya aku bisa beristirahat tanpa bunyi." Lirih Isz yang masih dapat didengar oleh Zulfi. Kemudia Isz pun tertidur.
__ADS_1
Zulfi sibuk memainkan handpohnnya. Sesekali dia mengumpat kala dia kalah memainkan game kesukaannya.
Hemmmmhhhhh
Isz menggeliat kini dia telentang, sehingga rok yang dia kenakan tersibak hinga pertengahan paha. Zulfi melirik sekilas ke arah Isz.
"Dasar cantik-cantik tidurnya kek kebo." Zulfi bergumam sendiri berlaga sok cuek. Padahal sebenarnya dia sangat ingin kembali menatap kearah sibakan rok abu-abu dihadapannya.
Zulfi kembali memainkan hamdpohannya. Namun sialnya dia tidak bisa fokus memainkan gamenya. Mendadak terasa sangat gerah padahal AC dalam ruangan itu menyala.
"Akhh.." Zulfi mengumpat kala kini bahkan menelan salivanya pun terasa sulit saat dia kembali melirik pemandangan dihadapannya. Entah kenapa mendadak celananya terasa sesak. Mungkin mendadak celananya mengkerut sehingga terasa sesak.
Akhirnya, Zulfi bertekat membangunkan si biang masalah.
"Bangun... bangun mi." Zulfi menggoyangkan bahu Isz.
Hmmmmmmhhhh
Isz kembali menggeliat sehingga sibakan roknya semakin keatas mendekati pangkal paha. Bukan hanya itu saja, kancing baju isz yang terbuka 2 biji pun kini menampakkan belahan dada yang tampak sangat menyebul. Membuat Zulfi semakin kepanasan.
__ADS_1
Zulfi tertegun seper sekian menit memandangi vitamin A dihadapannya. Sesekali menelan salivanya kasar. Nafasnya memberat.
"KEBO BANGUUUNNNNNNNN." Teriak Zulfi telat disamping telinga Isz .
"Abi, kamu apaan sih. Gada aqlak banget orang lagi sakit juga diteriak-teriakin." Isz yang kaget bukan main pun auto marah-marah sambil mencubit kecil lengan Zulfi.
"Lihat tuh penampilan kamu. Udah kayak perempuan malam." Zulfi menunjuk kearah Isz dengan dagunya.
Isz pun menatap dirinya. Sangat berantakan. Dia pun kembali merapikan pakaiannya kemudian berbaring lagi.
"Untung ada aku yang jagain. Coba kalo nggak. Terus ada orang masuk terus liat kamu yang kayak tadi. Bisa abis kamu keenakan." Omel Zulfi.
"Kamu tadi menikmati pemandanganmu?" Dengan nada santai Isz bertanya kepada Zulfi.
"Oh tentu, aku lelaki normal asal kamu tau. Dan kamu barusaja menodai mata polos ku yang pasih perawan." Zulfi masih menjawab dengan nada ketus.
"Indah kan? Udah jangan marah-marah. Aku makin pusing. Lagian bukanya tadi kamu ke kelas bi? Kok masih disini?"
"Aku jagain kamu keboooooo."
__ADS_1
"Dasar mesum. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan." Isz masih setia dalam baringannya dan benar-benar merasakan sekelilingnya berputar.
_mohon tinggalkan jejak kalian disini untuk semangatin akuh_