Cinta Estafet

Cinta Estafet
04


__ADS_3

"Yang dipapan ada 5 soal pak. Biasanya bapak suruh kerjakan satu soal saja kan pak?"


"10 poin untuk 5 soal Alex."


"Mana bisa gitu pak. Biasanya 10 poin untuk 1 soal pak. Lagian, kalo saya kerjakan semua, bapak tidak kasian sama siswa yang lain? Mereka juga butuh tambahan poin berharganya bapak loh pak." Tawar Alex. Padahal aslinya mah, Alex ga bisa kerjakan 1 soal pun.


"Ya sudah. Kamu pilih salah satu."


"Nah gitu dong pak. Kan bapak baik hati."


"Tentu."


Kemudian Alex mengerjakan sekenanya entah salah atau benar toh pak Kuntjoro tetap akan nemberi poin untuk siswa yang sudah berani maju kedepan kelas. Karena Pak Kuntjoro memang guru yang santai dan lucu. Juga murah hati. Tidak pemarah seperti guru-guru fisika pada umumnya. Membuat para siswa suka dengan matapelajaran yang diampu olehnya.


Sore itu, Gery dan vian tampak murung duduk lesu diteras depan rumah Isz. Keduanya tidak seceria biasany. Saling diam. Isz yang baru saja memasuki halaman rumahnya dari sekolah, buru-buru menghampiri mereka.


"Yang lain mana?" tanya Isz.


"Mas Benny,,, mas Benny tadi pingsan."

__ADS_1


"Hah???" pekik Isz


"Tadi ibuk kambuh, pas mas Benny dirumah. Mas liat langsung pas ibuk kambuh, terus mas malah ikut pingsan." Gerry menjelaskan panjang lebar.


"Terus?"


"Ya ibuk dibawa ke rumasakit lagi. Mas Benny dirumah sama Amir, Wiwit sama budhe Panto."


"Lhah, mas Gerry kok ga nemenin mas Benny dirumah?"


Gerry diam tidak menyahut malah semakin menunduk.


Malam itu, Isz berada dirumah hanya bertiga. Bersama Vian dan Gerry. Bapak tadi menelfon kalok malam ini tidak pulang, ikut menunggu ibunya mas Gerry dirumasakit.


"Makan dulu yuk mas, tadi siang pasti belum makan kan?" Ajak Isz kepada Gerry yang masih setia dengan lamunannya.


"Iya loh. Aku juga udah laper." Seru Vian sambil mencebikkan bibirnya. Imut sekali. Wajahnya yang putih bibir merah hidungnya yang mancung, menambah kesan tampanannya.


"Kalian makan dulu aja. Aku belum laper." Gerry menolak.

__ADS_1


"Mas, kalok mas ga makan, tar mas sakit. Nah kalok mas sakit, budhe Surati sakit, mas Benny sakit, terus mbak Wiwit sama mba Citra gimana? Ga kasian liat merekan" Isz mencoba bujuk Gerry supaya mau makan.


Gerry pun aqirnya beringsut dari tempat duduknya. Segera mengambil makan lalu kembali keruang tengah disusul Vian yang juga sudah membawa makanan di piringnya. Ruang tengah memang menjadi tempat ternyaman untuk beeeeerrr apa aja. Mereka bertiga pun makan bersama di ruang tenga sambil menonton TV.


Sementara Vian dan Gerry tertidur, Isz masih gelisah. Membolak balikkan badan mencari posisi yang nyaman. Namun tetap saja tidak dapat memejamkan matanya. Seharian ini, Alex tidak menghubunginya. Sedangkan Isz merasa segan untuk menghubungi lebih dulu.


_kok Alex ga ada kabar ya_ Isz membatin dalam hati.


Isz pun kemudian membuka aplikasi ijo dihandpohn nya. Dilihatnya kapan terahir Alex online.


_Baru aja online. Tapi kok ga ngehububgin aku ya, sekedar say hay kek. Kasi kabar kek_ Isz mambanting pelan HP nya dengan perasaan kesal. Kemudian mengambilnya lagi. Mengetikkan pusan disana. Kemudian menghapusnya lagi.


.


.


.


__mohon tinggalkan jejak sebagai tanda kalian pernah mampir di novel aku. juga buat semangatin aku_

__ADS_1


__ADS_2