Cinta Estafet

Cinta Estafet
03


__ADS_3

Isz dan gerombolannya memasuki kantin dengan mulut Isz yang tak berhenti bicara, nerocos mulu.


"sekalian pesenin ya Ton, minumnya aku es jeruk, gulanya gosah diaduk." Pinta Isz ke Toni yang mau memesan soto kepada bu kantin.


"emang ga asem Isz?" Tanya Lilis sambil duduk disebelah Isz.


"biar langsing tuh." Tintin yang menyahut sambil menyeruput soto yang sudah ada dihadapanya.


"ahhhh kalian, biar nanti manisnya kerasa belakangan. Bosen tauk, sama yang manisnya didepan doang, hambar dibelakang." Celetuk Isz lantang.


Tanpa dia sadari ternyata Alex pas banget baru aja mendaratkan bokongnya di bngku sisi pojok belakang Isz.


"owwwww dalemmm.... Sahut teman-teman Isz hampir bersamaan.


Tak lama kemudian pesanan datang mereka menikmati makanan mereka masing-masing sambil tak henti bergurau.


Di sisi lain, Alex yang barusaja mendengar ucapan Isz itu, mendadak jadi tidak berselera lagi untuk makan.


"makan woy, jangan diaduk2 aja makananya, kasian basonya pusing nanti." Woko menyenggol lengn Alex yang dari tadi tidak menyendokkan makanan ke mulutnya.


"eh, iya." Sahut Alex gelagapan.


"kenapa? Ada masalah? Cerita donk. Jangan kayak cewek, kalo ada masalah bukanya cerita, malah maen tebak-tebakan."


"ga ada kok."

__ADS_1


"kangen sama orangtua? Pulang sana ke palembang."


"apaan, nggak lah. Aku duluan lah ya. Kebelet nih." Alex berlalu dari kantin.


Hingga pelajaran kembali berlangsung pun Alex masih tidak bisa fokus karena ucapan Isz tadi.


_apaan sih. Kan, emang Isz anak nya gitu, kok aku yang jadi sensi_ Batin Alex.


_tapi kan aku tadi ada di belakangnya dia, masa dia gatau ada aku_ Alex masih bergumam sendiri dlam hati.


"Hasssshhh." Alex tiba-tiba mendesah frustasi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.


"ya,, yang duduk ditengah. Silahkan maju kedepan." Pak Kuntjocro guru Fisika yang kebetulan menawarkan kepada siswa untuk mengerjakan soal dipapan tulis pun langsung menunjuk Alex untuk maju kedepan. Yang di tunjuk masih tidak sadar.


"Silahkan, segera. Kok malah balik duduk." Imbuh pak Kuntjoro kemudian.


"Eh iya pak, ada apa?" Alex terkejut spontan berdiri yang disambut tawa riuh dari teman-teman sekelas.


"Ada apa gimananya? Ayo maju."


"Iya ngapain maju pak?"


"Kerjakan soal, apa lagi? Mau gantikan saya ngajar? Mana mungkin bocah kaya kamu bisa. Nggak kan? Sudah, maju aja. Tidak usah pura-pura melamun." Terang pak Kuntjoro panjang.


"Saya tidk bisa pak." hardik Alex sekenanya

__ADS_1


"Lalu ngapain tadi ente berisik. Saya kira karna mau maju kerjakan soal dipapan ."


"Anu pak itu, tadi saya."


"Ngelamun yaaaaaaa??" ledek pak Kuntjoro. Anak-anak pun kembali riuh tertawa.


Saat kelas sedang rame, pas Isz lewat mau ketoilet. Toilet sekolah dari arah kelas Isz memang melewati kelas XI IPA. Isz menengok kedalam kelas yang kebetulan juga Alex menengok keluar kelas.


"cup ah.." Isz menggoda Alex dengan kiss bye yang dibuat secentil mungkin. Membuat Alex kembali bengong masih menatap keluar kelas.


"Saudara,,, ah,,, siapa namanya?"


"Alex pak." sahut salah satu siswa.


"Ehemmm ya. Saudara Alex."


"Iya pak."


"Bagaimana soal di papan? 10 poin lho."


"Ah bapak suka maksa." Kemudian dengan malas Alex maju kedepan.


"Beri tepuk tangan yang meriah untuk sang pemberani kita." seru pak Kuntjoro yang justru malah membuat siswa sekelas kembali tertawa.


"Yang mana pak?" Tanya Alex lagi.

__ADS_1


"Itu yang dipapan. Masa yang dibuku. Gimana sih."


__ADS_2