
keesokan harinya, dimana semua rencana telah tersusun rapi namun tiba tiba dibuat kacau oleh sekelompok geng mafia lainnya, walaupun sampai tak memggagalkan tapi tetap saja itu menginjak harga diri blackrose bagaimana tidak ada dua orang polisi mengetahui transaksi itu padahal selama ini tidak pernah terjadi hal seperti itu dan benar saja ada kejanggalan akan hal itu, dan itu mengarah pada musuh dari blackrose
bruKk...braKK...
" sialan, siapa orang bodoh yang membocorkan ini, rey" teriak raina terlihat jelas wajahnya memerah menahan amarah yang telah memuncak
" sabar nona raina yang cantik kau sedang hamil, ingat orang hamil tidak boleh terlalu emosi itu bisa mempengaruhi janinnya" pinta rey sedikit khawatir dan ini juga alasan bagus agar tak dihukum oleh raina
" Huft.... bunuh kedua polisi itu, jangan sampai membongkar rencana kita " bentak raina namun tetap memperlihatkan tatapan tajamnya pada rey seakan akan ingin membunuh rey saat itu
" mati aku, tatapan itu sungguh mengerikan" batin rey ketakutan jika sudah seperti ini raina kadang bertindak seperti psikopat yang gila
" tenanglah, aku sudah membunuhnya" rey meyakinkan raina dan memeng benar dia sudah menembak mati kedua polisi itu
" awas saja kau kalau kesalahan itu terulang kembali, cucilah otak udangmu itu agar pintar dan ingat cari tahu siapa dalangnya" raina kembali menekankan suaranya dan itu membuat rey ketakutan dan tak berani memandang raina secara langsung
__ADS_1
raina kembali kekamarnya dan segera membaringkan dirinya , semenjak mengetahui dia hamil, dia seakan ingin terus bermalas malasan di tempat tidur dan rasanya tak ingin melakukan apapun saat ini
" rey benar benar menguji kesabaranku, ingin rasanya aku menembaknya " raina terus saja marah pada rey
*****
dikantor arga
" aku ingin tahu kabar raina, apa dia semakin cantik?hmm dan aku suka dengan namanya" ucap arga sambil terus membayangkan wajah cantik raina yang mempesona
" kenapa bos tak menyuruhku masuk, aish aku masuk sajalah peduli amat dia marah" joy seakan tak peduli kalaupun dia nanti harus di bentak oleh arga lagipula dia sudah biasa akan hal itu anggap saja makanan sehari hari
ketika masuk keruangan arga, joy melihat arga sedang senyum senyum sendiri bahkan tak menghiraukan keberadaan joy
" ada apa dengan bos seperti orang gila saja, tapi eh... jarang juga melihat dia tersenyum seperti itu " batin joy
__ADS_1
" bos " joy memberanikan dirinya untuk menyadarkan lamunan arga
" aish si bos ngelamunin apa sih sampai tak mendengar suaraku " ucap joy kembali, dia frustasi karna keberadaannya seakan tak dianggap oleh bosnya arga
" bos, woi " joy kembali membuka suaranya kali ini menggunakan suara yang keras, dan benar saja arga langsung tersadar menatap tajam ke arah joy yang berdiri tepat dihadapannya
" kapan kau masuk kesini" ucap arga ketus
" sejak tadi bos, apa yang bos lamunkan, hehhe jangan jangan wanita cantik itu ya ?" curiga joy sambil menaikan alisnya dia sengaja menggoda arga saat ini
" kalau iyya kau mau apa, lagipula sebentar lagi dia akan jadi milikku" ucap arga sombong
" gila, apa di mau dengan serigala sepertimu bos " batin joy lagi lagi tak percaya dengan apa yang arga ucapkan
" kau mengumpatku joy" arga kembali melayangkan tatapan tajam pada joy seakan telah menebak apa yang ada difikiran joy saat ini
__ADS_1
" ti..tidak mungkin bos, kau panutanku heheh " joy sebenarnya sangat takut jika arga marah padanya dan itu lebih buruk dari kematian