
Andre merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur karena seharian ini tenaganya terkuras habis dihari pernikahannya. Ia melirik jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam. Matanya terasa berat hingga akhirnya ia pun tertidur dengan lelapnya.
Reva yang baru saja membersihkan diri menghampiri suaminya yang terlelap diatas kasur. Matanya menatap wajah Andre yang tampan. Guratan Alis yang tebal, hidung yang mancung dan bibir yang tebal membuat siapun yang melihat akan tergoda dengan suaminya. Meski pernikahan ini dilakukan dengan sangat mendadak tapi Reva tetap berusaha menerimanya. Ia tidak ingin kedua orangtuanya berada dalam bahaya Karena Dirga telah mengancamnya.
Flashback on:
Reva yang tengah asik memainkan ponselnya harus berpasrah diri karena daya ponsel tersebut telah habis. Dengan langkah gontai ia berjalan kearah meja riasnya untuk mengambil kabel pengisi daya. Sayangnya charger miliknya tidak ada disana. Reva menggerutu kesal dicarinya charger itu kesetiap sudut kamarnya.
Setelah 15 menit mencari akhirnya Reva teringat sesuatu. Apa yang dicarinya saat ini rupanya ada dimeja kerja milik ayahnya karena Feri telah meminjamnya. Reva mengetuk dahinya dengan keras. Entah mengapa akhir-akhir ini ia menjadi pikun.
Langkah kaki Reva berhenti tepat didepan meja kerja ayahnya. Matanya menyisir apa yang ada diatas meja kerja tersebut. Tiba-tiba pandangan matanya terhenti pada satu lembar foto. Foto seorang lelaki tengah memakai kaos berwarna hitam dengan jaket berwarna navi. Tidak ada senyuman diwajahnya tapi entah mengapa mampu membuat Reva terkesima.
"Ganteng" puji Reva sembari memperhatikan selembar foto yang kini berada ditangannya.
Tiba-tiba suara deheman datang dari belakang Reva. Seketika Reva menoleh mendapati ayahnya tengah memperhatikan dirinya yang tengah asik memegang foto ditangannya.
"A..ayah sejak kapan ayah disini?" tanya Reva gugup. Ia menaruh kembali foto yang tadi ia pegang.
"Sejak ayah mendengar kata GANTENG dari mulut kamu" ucap Feri ayah Reva. Muka Reva memerah menahan malu.
Feri mengambil foto yang tadi Reva simpan diatas meja kerjanya. Matanya menelisik mengamati setiap inci wajah yang tercetak difoto itu.
__ADS_1
"Kamu tahu, dia adalah anak Dirgantara" ucap Feri sembari menatap Reva. Reva terkejut mendengar ucapan sang ayah.
"Dia adalah orang paling berbahaya dan licik dalam dunia bisnis, siapapun yang berani berurusan dengannya maka siap-siap saja orang tersebut akan mengalami nasib yang buruk dan yang lebih parahnya lagi ia akan pulang hanya meninggalkan nama" lanjut Feri lagi.
"Ayah sendiri tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan Dirgantara pada keluarga kita sampai dirinya mau menyerahkan anaknya untuk dinikahkan denganmu padahal dia tergolong keluarga yang kaya raya dapat dengan mudah mendapatkan perempuan manapun yang ia inginkan" Feri menatap wajah Reva yang memucat.
"A..ayah lalu kita harus bagaimana?" tanya Reva yang kini mulai panik.
"Tenanglah.. Sebisa mungkin ayah akan mencoba untuk menolak perjodohan ini" ucap Feri seraya menenangkan putrinya.
Sebulan telah berlalu Dirgantara kembali meminta lebih tepatnya memaksa Feri untuk menjodohkan anak mereka. Tentu saja Feri dengan keras menolak perjodohan ini karena Feri tidak ingin anaknya terjerat dalam bahaya.
"Anda harus menyetujui perjodohan ini pak Feri bagaimanapun dengan pernikahan bisnis ini kita akan sama-sama diuntungkan" ucap Dirgantara sembari duduk menyilangkan kakinya dengan angkuh. Feri menatap tajam kearah Dirga ia benar-benar curiga dengan apa yang sedang direncanakan oleh Dirga.
"Sombong sekali kau Feri, lihat saja akan kubuat kau menyesal" Dirga segera berlalu setelah melontarkan kata-kata tersebut. Didalam hati Feri ia sungguh takut jika keselamatan keluarganya akan terancam.
Dan benar saja hanya dalam hitungan detik ponsel Feri telah berdering menampilkan deretan nomor tidak dikenal.
"Halo pak.. Saya sedang berada disalah satu pabrik milik bapak yang berada dikota A. Saya bisa saja menghancurkan pabrik ini dengan sekali arahan dari tuan Dirga. Bagaimana menurut bapak?" tanya orang dibalik telepon itu. Jantung Feri seketika berdetak dengan cepat. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Hei, siapa kamu jangan bercanda ya" teriak Feri dengan panik.
__ADS_1
"Saya orang yang diperintahkan tuan Dirga untuk menghancurkan pabrik anda" tiba-tiba ponsel Feri bergetar rupanya si penelepon mengirim foto bagian pabrik yang sudah dipasang bom waktu.
"Hei.. Jangan main-main ya" Feri berteriak dengan kencang hati dan pikirannya terasa sangat kacau. Telepon tiba-tiba mati membuat Feri menjadi resah.
Ditengah keresahan Feri sekertarisnya tiba-tiba mengetuk pintu dengan sedikit keras.
"Pak.. Permisi saya menerima kabar dari pak Louise gudang pabrik di kota A kebakaran" ucap sekertarisnya dengan panik. Seketika Feri terkulai lemas. Keringat dingin bercucuran. Rupanya ancaman dari Dirga benar-benar terbukti. Dirga memang orang yang licik dan berhati dingin ia tidak segan-segan untuk menjatuhkan lawannya.
"Tolong sambungkan saya dengan pak Dirga" setelah mendengar perkataan Feri sekertaris itu segera mengangguk dan pergi keruangannya untuk menelepon Dirga.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki Feri berjalan duduk di meja kerjanya memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia menolak perjodohan anak-anak mereka.
Telepon Feri berbunyi menandakan kalau ia akan disambungkan dengan Dirga oleh sekertarisnya. Feri menarik napas dalam-dalam bersiap untuk jawaban yang akan ia berikan.
"Halo.." suara berat dan tegas itu menyambangi telinga Feri ketika ia mengangkat gagang telepon.
"Apa maksud anda memerintahkan orang untuk membakar gudang dipabrik saya?" tanya Feri penuh emosi. Terdengar suara tawa dari ujung telepon
"Bukankah saya sudah katakan anda akan menyesal jika menolak permintaan saya karena saya benci penolakan dalam bentuk apapun" terang Dirga. Feri memijit pelipisnya dengan keras.
"ini belum seberapa.. Anda tau kan kalau saya bisa bertindak lebih" Dirga tersenyum licik dibalik teleponnya.
__ADS_1
"Dengar Dirga sampai kapanpun saya tidak akan pernah menerima perjodohan ini camkan itu" teriak Feri dengan kencang. Ia mematikan telepon itu secara sepihak.
Berurusan dengan Dirga merupakan sesuatu yang sangat fatal. Dan Feri tahu kehidupan kedepannya pasti akan sangat sulit. Ia sangat takut dengan ancaman Feri tapi ia lebih takut lagi jika anaknya harus dijadikan korban dalam urusan mereka. Ia tidak mau menghancurkan masa depan putrinya dan menyerahkan Reva ke tangan orang yang berbahaya.