Cinta Noda Hitam

Cinta Noda Hitam
Ancaman Dirga 2


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Reva dan ibunya masih menunggu Feri pulang kerja untuk memastikan kebenaran tentang gudang pabrik mereka yang terbakar. Ratih tak henti-hentinya menelpon suaminya namun nomor ponsel Feri sama sekali tidak dapat di hubungi.


"Reva.. Ini kenapa nomor telepon ayah kamu enggak aktif" Ratih nampak sibuk dengan ponsel ditangannya. Reva mencoba menenangkan ibunya dengan mengelus pundak Ratih.


"Sabar bu, mungkin ayah sedang dalam perjalanan pulang" dalam hati Reva ia pun sangat mengkhawatirkan ayahnya.


"Tapi perasaan ibu gak enak" tiba-tiba Ratih terduduk lemas di sofa membuat Reva menjadi panik.


Dalam kepanikan telepon rumah berbunyi bi Inah sang asisten rumah tangga segera mengangkat telepon tersebut.


"Mbak Reva.. Ada yang ingin bicara dengan mbak" ucap bi Inah setelah ia menerima panggilan telepon tersebut.


"Siapa bi?" tanya Reva penasaran.


"Katanya dari pak Dirga mbak" jawab bi Inah. Reva segera mengambil alih telepon tersebut


"Ha..hal..lo.." ucap Reva ragu-ragu


"Halo.. Menantuku" jawab Dirga dengan suara beratnya.


"Pasti kamu sangat khawatir dengan keberadaan papamu" Jantung Reva berdegup kencang ia yakin saat ini ayahnya pasti ada ditangannya.


"Apa dia bersama anda? Kumohon lepaskanlah dia" mohon Reva


"Hmm.. Bagaimana ya, sebenarnya saya tidak mau melakukan ini tapi papamu benar-benar keras kepala. Dia tidak mau mendengarkan perkataan saya" geram Dirga


"Oke.. Pak.. Lalu sekarang saya harus apa supaya bapak bisa melepaskan ayah saya?" tanya Reva yang sedang berusaha untuk tenang.


"Datanglah ke kafe X jam 7 malam disana kita akan berbincang-bincang santai" Reva terdiam setelah mendengar ucapan Dirga


"Oh.. Iya jangan membawa siapapun kalau memang kamu khawatir akan keselamatan papamu" lanjut Dirga lagi.

__ADS_1


"Apakah setelah kita bertemu anda akan melepaskan ayah saya?" tanya Reva


"Tergantung jawabanmu nanti" setelah itu telepon ditutup secara sepihak oleh Dirga membuat Reva merasa kesal.


"Siapa nak, siapa yang menelpon?" tanya Ratih penasaran. Reva terdiam cukup lama.


"Pak Dirga bu, kata ayah dia orang paling licik dalam dunia bisnis. Reva yakin ini semua pasti rencana orang bernama Dirga itu" Ratih nampak terkejut mendengar ucapan Reva. Ia sama sekali tidak tahu menahu soal Dirga.


"Apa?? dia orang licik? Berarti ayah diculik sama dia, kita harus telepon polisi nak?" teriak ibu panik.


"Ibu tenang saja, mudah-mudahan ayah baik-baik saja, justru kalau kita menelpon polisi kita semakin sulit bertemu dengan ayah" Ratih menangis sejadi jadinya ia sangat khawatir dengan keadaan suaminya. Bukan hanya Ratih didalam hati Reva pun ingin menangis tapi ia tidak mau membuat ibunya tambah sedih.


Malam sudah menunjukkan pukul 7. Reva menarik napasnya dalam-dalam. Ia sudah bersiap untuk pergi ke kafe X. Ia berjalan menuruni anak tangga karena kamarnya berada dilantai atas. Ibunya nampak harap-harap cemas memaksa dirinya untuk ikut setelah tahu bahwa Reva akan bertemu dengan Dirga. Orang yang paling berbahaya.


"Jangan bu, ibu tidak boleh ikut.. Pak Dirga tidak mengizinkan siapapun untuk ikut sama Reva" ucap Reva dengan pelan


"Tapi ibu khawatir dengan keselamatan kamu Reva, ibu takut kamu kenapa napa" mohon Ratih.


"Hati-hati Reva ibu akan selalu mendoakan keselamatanmu" pasrah Ratih sembari mengurai pelukannya. Reva mengangguk ia segera pamit pergi menemui Dirga.


Reva melirik mobil hitam yang sudah terparkir di depan rumahnya. Matanya menajam saat seseorang keluar dari mobil tersebut.


Lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah menatap Reva dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Masuklah.. Kita bicara di dalam mobil saja" ucap Dirga sembari membukakan pintu mobil untuk Reva. Reva sedikit ragu tapi ia memberanikan diri untuk masuk kedalam mobil tersebut.


"Perkenalkan saya Dirga" Dirga mengulurkan tangannya pada Reva. Reva tidak membalasnya membuat Dirga kembali menarik tangannya.


"Saya tahu, kamu pasti penasaran dengan apa yang terjadi belakangan ini" Perlahan mobilpun bergerak meninggalkan rumah Reva. Dirga menatap jalan raya disampingnya.


"Saya orang yang paling tidak suka dengan penolakan" sambung Dirga lagi

__ADS_1


"Saya sudah meminta izin kepada papamu untuk menjodohkan kamu dengan anak saya, tapi papamu sungguh sangat keras kepala dia malah menolak perjodohan ini" ucap Dirga panjang lebar.


"Kau tahu, perjodohan ini sangat menguntungkan untuk perusahaan saya dan juga perusahaan papamu. Kita akan barsatu menjadi perusahaan besar, cobalah kamu bayangkan" ucap Dirga dengan serius.


"Benar-benar licik pantas saja ayah menolak perjodohan ini, anda benar-benar ular pak Dirga" geram Reva. Dirga tertawa lebar.


"Dengar.. Saya tidak akan melepaskan Feri jika kamu tidak menyetujui perjodohan ini" teriak Dirga membuat Reva ketakutan.


"Pak Dirga kenapa harus saya dan ayah saya yang bapak pilih, bukankah diluar sana banyak sekali anak pengusaha yang lebih sukses daripada saya dan ayah saya" Reva mengepalkan kedua tangannya di paha.


"Kamu tidak usah banyak tanya, sekarang keputusan ada ditangan kamu, kamu tahu kan saya paling tidak suka ditolak" Dirga mengambil ponselnya yang berada disaku jasnya. Sepertinya ia akan menghubungi seseorang.


"Sambungkan!!" perintah Dirga pada seseorang diujung telepon.


"Halo.. Siapa ini?" tanya Feri dengan suara lemahnya. Terlihat didalam video tubuh Feri diikat dengan mata tertutup kain.


"A..ayah.. Ayah.. ayah dimana sekarang beritahu Reva yah" teriak Reva dengan kencang. Gambaran ayahnya didalam video membuat Reva menjadi takut.


"Reva.. Anakku.. Ja..." telepon tiba-tiba dimatikan oleh Dirga. Reva yang sangat khawatir tak kuasa menahan tangisnya.


"Pak Dirga.. saya mohon, lepaskan ayah saya.. Saya berjanji saya akan melakukan apapun yang anda minta" tangis Reva pecah kala Dirga menyunggingkan senyum penuh kemenangan.


"Kau hanya harus mengikuti aturan main saya" jawab Dirga dengan senyuman licik diwajahnya.


Flashback off...


"Heh.. Bangun.." Andre menggoyang-goyangkan tubuh Reva yang masih terlelap disampingnya. Reva menggeliat. Perlahan matanya terbuka sedikit demi sedikit.


Reva yang sedikit pusing buru-buru mengucek matanya dengan sedikit kasar. Orang pertama yang Reva lihat adalah Andre. Seketika mata Reva terbuka lebar.


Reva segera bangkit dari kasur Andre ia sungguh tidak sadar kalau dirinya ketiduran. Apalagi posisi Reva tadi terbilang cukup dekat dengan Andre.

__ADS_1


"Ma..maaf.. Tadi aku ketiduran" Reva berjalan kikuk kearah kamar mandi yang berada didalam kamar Andre. Rasanya ia sungguh malu dengan kejadian tadi. Setelah pintu kamar mandi tertutup Andre hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis melihat kegugupan Reva.


__ADS_2