
Dania menatap langit-langit kamar yang diselimuti debu tebal. Kamar yang baru beberapa hari ini ia tempati. Ia sangat merindukan keluarganya terutama ibunya yang entah bagaimana kabarnya.
Lolos dari maut merupakan suatu mukjizat yang tuhan berikan kepadanya. Disaat ia mulai pasrah kepada tuhan tentang hidup dan matinya.
Dania ditemukan seorang kakek dipinggir sungai ketika ia hendak pergi memancing ikan. Karung besar yang teronggok dipinggir sungai itu mengundang rasa penasaran kakek untuk membuka isi dari karung besar tersebut. Setelah dibuka barulah si kakek terkejut mendapati se onggok tubuh perempuan yang tengah terkulai lemas.
Kakek mengecek urat nadi perempuan tersebut ternyata ia masih hidup. Kakek berlarian meminta bantuan kepada Rahman teman memancing kakek.
Kakek dibantu Rahman membawa tubuh Dania kerumah kakek karena di rumah Rahman tidak mungkin membawa pulang tubuh Dania kerumahnya. Ia sudah menikah dan berkeluarga.
Kakek dan Rahman membaringkan tubuh Dania diatas kasur. Ia meminta kepada nenek untuk segera melepaskan pakaian Dania yang basah dan menggantinya dengan pakaian yang kering. Tak lupa untuk mengoleskan minyak angin disekujur tubuh Dania agar ia menjadi hangat.
Nenek melakukan apa yang kakek suruh. Dengan telaten ia mengganti baju Dania dan mengoleskan minyak angin keseluruh tubuh Dania agar ia tetap hangat.
Kakek tidak habis pikir mengapa ada orang yang tega berbuat hal sekejam itu pada seorang perempuan. Membuat ia sangat benci pada orang yang telah berbuat jahat kepada Dania.
"Mudah-mudahan perempuan itu bisa cepet siuman ya kek, kasihan orang tuanya pasti mencarinya" ucap Rahman kepada kakek yang kini tengah beristirahat di kursi panjang depan gubuk. Kakek menggangguk setuju. Ia kembali kekamar nenek untuk melihat keadaan Dania.
"Belum siuman?" tanya kakek pada nenek, nenek hanya menggelengkan kepalanya. Kakek menatap wajah Dania yang sedikit lebih baik tidak seperti pertama kali ditemukan wajah yang pucat dan juga bibir yang membiru.
Ia jadi teringat pada anak semata wayangnya yang dulu seusia Dania. Ia diperkosa oleh orang-orang yang biadab membuat anak sang kakek menjadi depresi hingga akhirnya bunuh diri. Kakek sangat sedih ia sangat menyayangkan kepergian anaknya yang sangat ia cintai.
"Bangun nak.. Bangun.." gumam kakek disamping tubuh Dania. Namun Dania tetap diam tak bergerak.
"Kek.. Dia siapa?" tanya nenek setelah kembali dari dapur. Ia membawa segelas teh manis panas ditangannya.
"Kakek gak tau, kakek lagi mancing tiba-tiba mata kakek melihat karung besar dipinggir sungai. Setelah kakek buka ternyata isinya.." kakek tidak melanjutkan ucapannya ia memberikan isyarat kepada tubuh Dania yang masih tidak sadarkan diri.
"Ya ampun, kasihan sekali kamu nak" ucap nenek sembari menitikkan air mata. Kakek mengangguk meratapi nasib Dania.
__ADS_1
Dua hari telah berlalu Dania telah siuman. Perlahan air mata Dania mengucur deras kala mengingat apa yang telah dilakukan Dirga kepadanya. Ia sangat membenci Dirga tapi Dania tidak punya kekuatan untuk membalasnya. Ia hanya bisa merutuki dan memaki Dirga didalam hati.
Keesokan harinya kesehatan Dania semakin membaik. Namun ia masih tidak diizinkan untuk melakukan pekerjaan rumah oleh nenek dan juga kakek. Ia merasa bosan. Hingga akhirnya ia memilih untuk menemani kakek yang tengah menikmati secangkir kopi di depan gubuknya.
"Kek.. saya belum sempat mengucapkan terima kasih karena kakek telah menyelamatkan saya, saya gak tau lagi kalo gak ada kakek mungkin saya akan..." mata Dania mengembun setelah mengucapkan kata-kata itu.
"Tidak apa nak, semua ini berkat kuasa tuhan, melalui kakek kamu bisa selamat" jawab kakek. Dania mengangguk perlahan.
"Jadi, apa kakek boleh tau mengapa kamu bisa sampai seperti ini?" tanya kakek hati-hati
"Sebelumnya saya mau perkenalkan diri saya kek, nama saya Dania" ucap Dania sembari tersenyum tipis kepada kakek.
"Sebelum kejadian ini saya mempunyai kekasih perbandingan hidup kami sangatlah jauh, dia orang kaya sedangkan saya hanya orang miskin yang menggantungkan hidup padanya" ujar Dania sembari menatap pohon-pohon tinggi yang menjulang didepan gubuk.
"Dia orang yang sangat baik hanya saja perlakuan orang tuanya sangat tidak adil kepadanya, itulah yang membuat dia menjadi anak yang pembangkang"
"Dia memberi saya sejumlah uang untuk bisa menjauhi putranya, awalnya saya ragu tapi karena ibu saya membutuhkan uang banyak untuk melakukan operasi jantung terpaksa saya menerima tawaran itu" air mata Dania mulai menetes di pipi putihnya.
"Tapi setelah saya melakukan perintahnya orang licik itu tidak menepati janjinya, dia malah melakukan ini semua kepada saya" Dania menangis kala ia mengingat kembali apa yang Dirga lakukan kepadanya.
"Saya sangat merindukan ibu saya, saya tidak tahu keberadaan ibu saya sekarang bagaimana?" mendengar cerita Dania membuat kakek merasa sedih dan iba. Ia berusaha menenangkan Dania.
"Tenanglah nak, tuhan tidak tidur, tuhan pasti akan membalas apa yang telah orang itu lakukan kepadamu. Dulu kakek juga memiliki seorang anak perempuan dia sangat cantik usianya mungkin sama sepertimu" ucap kakek
"Dia seperti gadis-gadis desa lainnya mengharapkan cinta dari seorang pria kota yang sedang berkunjung kedesa untuk melakukan sebuah penelitian"
"Secara diam-diam dia sering bertemu dengan salah satu lelaki kota tersebut. Itu membuat kakek geram karena kakek khawatir jika lelaki itu akan menyakiti anak perempuan kakek satu-satunya" Dania menghentikan tangisnya rupanya ia penasaran dengan cerita kakek selanjutnya.
"Dan itu benar-benar terjadi, hari dimana seluruh jiwa dan raga kakek terasa hancur melihat putri kesayangan kakek pulang dengan kondisi yang mengenaskan. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya hanya isak tangis yang selalu terngiang di telinga kakek. Itu benar-benar menyakitkan" Kakek mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
__ADS_1
"Setiap malam ia selalu berteriak dan menangis secara bersamaan terkadang ia melukai dirinya sendiri. Ia selalu meminta maaf kepada kakek dan nenek karena ia tidak dapat menjadi anak yang baik. Sampai pada akhirnya ia memilih untuk mengakhiri hidupnya selamanya" kakek tidak dapat membendung air matanya lagi. luka yang sempat mengering kini mulai basah lagi. Dania pun tidak kuasa menahan tangis. Ia menangis bersama dengan kakek.
******
Setelah kepergian Andre dan juga Riko hati nenek menjadi tidak tenang. Ia khawatir jika kakek dan juga Dania berpapasan dengan Andre dan juga Riko dijalan.
Selang beberapa lama hati nenek sedikit lega Rupanya kakek dan juga Dania datang dari arah lain.
"Nak.. Tadi ada orang sepertinya sedang mencarimu, mereka menunjukkan foto yang sangat mirip denganmu " ucap nenek pada Dania yang baru saja pulang memancing ikan bersama kakek. Dania tahu orang itu adalah Andre dan juga Riko sahabatnya.
"Siapa nek?" tanya kakek penasaran.
"Dua orang lelaki sepertinya mereka orang dari kota karena mereka membawa mobil" jawab nenek
"Lalu kau jawab apa?" kakek mengajak nenek dan Dania masuk kedalam gubuk
"Nenek jawab saja tidak melihat orang yang berada di dalam foto itu, lalu salah satu dari mereka masuk kedalam untuk memastikan keberadaan kamu, beruntungnya saat itu kamu masih diluar bersama kakek sampai akhirnya mereka memilih untuk pergi" kakek mengangguk menyetujui apa yang dilakukan oleh nenek.
"Mulai saat ini kamu harus berhati-hati nak, jangan sampai mereka mencelakaimu untuk yang kedua kali" Dania mengangguk setuju ia pun mulai khawatir dengan keselamatannya.
"Kakek.. Nenek.. sepertinya Dania tidak bisa tinggal disini lagi, Dania takut jika mereka akan kembali lagi kesini" ucap Dania dengan nada yang bergetar.
"Tidak boleh, justru itu akan sangat membahayakanmu nak, kakek dan nenek tidak mengijinkan" jawab kakek dan nenek bersamaan. Dania terdiam ia sangat takut jika Andre kembali mencarinya.
"Kami akan merasa sangat senang jika kamu mau menemani kakek dan nenek disini" ucap kakek sembari berjalan menuju kamarnya.
"Apa yang dikatakan kakek benar nak, untuk saat ini tetaplah disini sampai keadaan membaik jangan merasa direpotkan karena kakek dan juga nenek sama sekali senang dengan kehadiranmu disini" nenek mengelus punggung Dania yang berguncang. Ia sangat ketakutan.
"Terima kasih Nenek.. Terima kasih.." ucap Dania dengan linangan air mata.
__ADS_1