
Setelah kejadian itu aku lebih memilih untuk tidak menghubungi Radit lagi. Aku tak mau merasakan sakit hati untuk yang kesekian kalinya. Berhubungan kembali dengan mereka hanya akan membuat kepala menjadi pusing. Ditambah pekerjaan di kafe yang tidak ada hentinya. Berawal dari sebuah tantangan yang diberikan oleh Maya membuat aku sedikit tergiur untuk memenangkannya. Ya.. pasalnya Maya akan memberikan aku 10 juta perbulannya jika aku menang dalam tantangan tersebut. Tentu saja tak hanya itu ia juga akan memberikanku voucher menginap di korea. Ya ampun itu adalah impianku untuk bertemu dengan oppa korea😍. Awalnya aku hanya bekerja dihari weekend saja karena pengunjung banyak sekali berdatangan dihari weekend. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini pengunjung semakin bertambah banyak padahal ini bukan hari weekend.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, segera kupacu motor matic kesayanganku menuju tempatku bekerja. Disana sudah ada motor Aris, Nia, Dewi dan juga Mita serta motor milik pak Arif yang sudah terparkir rapi. Segera kuparkirkan motorku disamping motor pak Arif dan berjalan memasuki kafe tempatku bekerja. Kulangkahkan kaki ini menuju ruangan pak Arif tempat kami biasa melakukan breefing pagi.
Entah mengapa perasaanku sungguh tidak enak ketika aku telah sampai diruangan pak Arif. Nampak sekali Aris, Nia, Dewi juga Mita seolah menghindari tatapanku ketika aku beradu pandang dengan mereka.
"Oh.. Alysa sudah datang?" ucap pak Arif dengan nada yang sedikit ketus. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan bertanya dalam hati apa yang sedang terjadi?.
"Semuanya boleh keluar kecuali Alysa?" mendengar ucapan pak Arif membuat Aris, Nia, Dewi dan juga Mita segera berjalan keluar secara bergantian.
"Ada apa ya pak?" tanyaku penuh dengan nada kebingungan. Pasalnya pak Arif yang biasa ramah hari ini terasa sedikit berbeda.
"Hari ini kamu saya pecat" ucap pak Arif tanpa basa basi. Aku hanya melongo mendengar ucapan pak Arif. Ini tidak masuk akal, aku bekerja disini selalu melakukan tugasku dengan baik dan tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Kenapa tiba-tiba aku dipecat?. Sungguh sulit dipercaya.
"Loh.. salah saya apa pak? kenapa bapak tiba-tiba pecat saya?" aku merasa tidak terima jika harus dipecat tanpa sebuah kesalahan. Itu sangat melukai harga diriku.
""Pokoknya kalau sudah dipecat ya sudah, gak usah banyak tanya, nih bayaran kamu selama satu bulan ini!" ucap pak Arif sembari menaruh amplop berwarna cokelat diatas meja. Aku yang merasa bingung hanya bisa menatap bungkusan berwarna cokelat itu yang isinya lumayan tebal. Rasanya gajiku tiap bulannya tidak setebal itu.
"Ini sebenarnya ada apa sih pak, jangan bikin Alysa bingung deh" aku menatap wajah pak Arif yang sedikit terkejut karena melihat kedua mataku yang mulai mengembun.
"Ngapain kamu nangis? kamu pikir saya akan terenyuh melihat air mata kamu?" entah mengapa dada ini terasa sesak mendengar ucapan yang keluar dari mulut pak Arif. Aku sungguh tidak menyangka jika pak Arif yang baik hati itu ternyata seperti ini.
"Sekarang juga kamu boleh pergi dan ingat jangan pernah kamu tunjukkan lagi wajah kamu ditempat ini" duaar.. entah mengapa dada ini terasa meledak ketika mendengar ucapan pak Arif yang terdengar begitu menyakitkan. Aku tak dapat berbicara apa-apa lagi aku lebih memilih untuk pergi dari ruangan yang terasa pengap ini.
__ADS_1
Ketika aku hendak keluar dari ruangan pak Arif nampaklah Aris, Nia, Dewi dan juga Mita tengah membawa kue ulang tahun beserta topi ulang tahun. Mereka kompak menyanyikan lagu ulang tahun didepanku. Seketika aku terkejut dengan ulah mereka. Ingin sekali aku menjitak kepala mereka satu persatu tapi niat ini aku urungkan mengingat ini adalah hari ulang tahunku. Ya.. saking banyaknya pikiran yang bercabang membuat aku melupakan bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku🤭.
"Kok diem aja kak.. tiup lilinnya dong" ucap Mita yang usianya berbeda 2 tahun dibawahku. Dewi dan Nia nampak tersenyum usil. Sedangkan Aris dia sibuk memakaikan topi ulang tahun dikepalaku. Risih sih tapi biarlah mungkin dia ingin menunjukkan sikap perhatiannya padaku
"Kalian tau gak apa yang kalian lakukan itu jahat" ucapku dengan nada merajuk. Mereka semua nampak tertawa kecil begitupun pak Arif yang hanya bisa berdehem pelan.
"Maafin kami ya bep.. habisnya akhir-akhir ini kami lihat kamu tuh murung banget gak ada senyum-senyumnya jadi kami berinisiatif untuk memberikan kejutan buat kamu" ucap Nia seraya merangkul pundakku.
"Iya betul awalnya kami juga gak setuju sih sama ide konyolnya si Aris apalagi pak Arif katanya paling gak bisa marahin kamu" sambung Nia sembari melirik kearah pak Arif.
"Oh.. jadi biang keroknya kamu ya Ris, pak Arif juga boro-boro gak bisa marahin darimana? ngena banget ampe sini.. belajar akting dimana sih pak jago bener aktingnya?" akhirnya keluar juga unek-unek yang selama ini aku pendam.
"Maafin ya.. kalo enggak gini kan gak seru" ucap Aris dengan wajah menyebalkannya. Aku hanya mendengus kesal mendengar ucapannya.
"Makasih ya semuanya.. kupikir aku benar-benar akan meninggalkan kalian, soalnya aku udah nyaman banget punya temen-temen sebaik dan sepengertian kalian, dan untuk pak Arif makasih banyak ya.. udah mau ikutin kegilaan mereka, terima kasih juga karena bapak enggak jadi pecat saya" ucapku sedikit menyindir pak Arif.
"Ah.. kamu jangan diambil hati ya.. tadi kan cuma bercanda" pak Arif terlihat salah tingkah membuat aku tak kuasa mwnahan tawa.
"Haha.. iya pak.. saya gak marah kok cuma saya kesel aja sama yang udah bikin ide gila ini" aku tersenyum sembari melototi Aris yang hanya tersenyum miring.
"Ya udah yaa.. cepetan dong kak tiup lilinnya.. pegel nih" rengek Mita membuatku tersadar bahwa aku belum meniup lilin yang berada di kue ulang tahunnya. Tunggu.. ada yang ganjal dengan kue itu, membuat otakku dipaksa berpikir dengan keras.
"Udah jangan kelamaan, kasian tuh Mita dari tadi megangin kue" cecar Aris. Aku mengalah dengan pikiranku dan segera meniup lilin ulang tahun.
__ADS_1
"Yeaayy.. akhirnya setelah penantian tujuh purnama" teriak Mita setelah lilin ulang tahun itu kutiup. Ia meletakkannya diatas meja pak Arif. Semuanya bertepuk tangan dengan riang. Tanpa di sengaja aku melihat jam di ruangan pak Arif sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
"Pak.. ini kan udah jam 9, kenapa belum buka kafe?" tanyaku kepada pak Arif. Pak Arif dan yang lainnya terkejut. Kepala mereka kompak menoleh kearah jam dinding yang tergantung diruangan kerja Pak Arif.
"Astaghfirullah.. ayo cepetan buka cafenya" teriak pak Arif dengan panik. Aris, Nia, Dewi, dan Mita segera berlari keluar ruangan sambil kocar kacir. Tinggallah aku dan pak Arif berdua.
"Pak.. maafin kami ya.. gara-gara kami bapak jadi repot" ucapku merasa tidak enak.
"Gak apa-apa kok, hari ini kafe memang sengaja buka agak siang soalnya untuk merayakan hari ulang tahun kamu, daaan.. untuk membalas apa yang sudah mereka lakukan" ucap pak Arif sambil tersenyum.
"Maksud bapak apa ya?" tanyaku sedikit tidak mengerti. Pak Arif hanya tersenyum sembari berbisik dengan pelan.
"Hari ini karena mereka telah bekerja keras maka mereka semua mendapatkan lembur!!" ucapan pak Arif sukses membuatku tak dapat menahan tawa begitupun pak Arif sendiri. Mungkin inilah konsekuensi yang harus mereka terima jika berurusan dengan beliau.
"Baik pak.. kalau begitu saya permisi" ucapku sembari pamit keluar dari ruangan pak Arif.
Aku terkekeh kecil mengingat ucapan pak Arif, mungkin dalam hati pak Arif ia ingin menolak namun emang dasar kelakuan para karyawannya yang selalu usil membuat pak Arif merasa tidak enak jika ia tidak ikut berpartisipasi dalam rencana mereka.
Kulihat mereka tengah sibuk dengan aktifitas mereka seperti meyapu lantai, mengelap meja, mengepel dan lain sebagainya. Aku segera mengambil alat pembersih kaca untuk membersihkan kaca depan yang sedikit buram. Ini adalah kebiasaan ditoko kami setiap satu jam sebelum toko buka. Agar kafe tetlihat selalu bersih dan pelanggan merasa nyaman.
Ketika aku sedang asik mengelap kaca di depan kafe, mataku menangkap sosok pria jangkung tengah memarkirkan motor yang tergolong lumayan mahal itu disamping motorku. Tubuh tinggi dan tegap itu seolah tak asing dimataku. Aku mencoba mengingat-ingat siapa orang itu. Namun diriku sama sekali tidak dapat mengingat siapa orang tersebut mengingat ia masih mengenakan helm full face dikepalanya.
hayoo.. siapa orang yang di lihat Alysa? simak di chapter berikutnya yaa🤗🤗
__ADS_1