
"Papa gak mau tau, pokoknya besok lusa kamu harus menikah dengan Reva" suara itu terdengar jelas ditelinga Andre manakala dirinya dipaksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai. Andre menggeram frustasi begitu melihat papanya pergi meninggalkan Andre dan mamanya diruang tamu.
"Kenapa ma, kenapa harus selalu Andre yang terus menerus jadi korban kegilaan papa" Andre meremas kuat kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut itu. Anita selaku mama Andre hanya bisa menenangkan putra bungsunya dengan cara mengusap punggungnya dengan pelan.
"Andre kamu tau sendiri kan kalau papa tidak akan pernah bisa dibantah, perkataannya adalah mutlak dan lagi mama lihat Reva itu anak yang baik papa pasti tidak akan gegabah dalam memilihkan jodoh untukmu" kata-kata Anita membuat Andre tertawa dengan keras.
"Kalau memang dia baik dimata kalian kenapa harus Andre yang dijodohkan? kan ada kak Aris orang yang selalu sempurna dimata papa dan mama dia pasti sangat senang menerima perempuan yang baik menurut mama itu" cecar Andre membuat Anita bingung harus mengatakan apa.
"Pokoknya Andre menentang keras perjodohan ini, katakan pada papa jangan pernah mencari Andre kalau hanya untuk menghancurkan kebahagiaan putranya sendiri" Andre melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Andre.. Mau kemana kamu?" teriak Anita sembari berlari mengejar Andre namun Andre tidak peduli ia berjalan dengan cepat keluar dari rumah meninggalkan mamanya yang kini sudah menangis tersendu-sendu.
Andre menjalankan mobilnya ditengah gelapnya malam. Pikirannya sungguh sangat kacau mengingat perkataan papanya yang selalu terngiang-ngiang dikepalanya. Andre sangat benci papanya, sedari kecil ia selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya membuat dirinya muak dan selalu membangkang setiap perkataan papanya. Selama ini Andre cukup bersabar selama percintaannya tidak ada yang mengganggu tapi jika berhubungan dengan masa depannya Andre tidak akan tinggal diam. Mobil Andre berhenti tepat didepan apartemen Dania kekasihnya. Andre segera keluar dari mobil menuju pintu apartemen Dania, disitu Dania sedikit terkejut melihat kedatangan Andre pada tengah malam.
"Sayang, tumben kamu kesini malem-malem begini?" tanya Dania setelah membuka pintu apartemennya. Dengan wajah kusut Andre meminta kepada Dania untuk menyuruhnya masuk kedalam terlebih dahulu. Dania mengangguk dan membuka lebar-lebar pintu apartemennya. Andre segera mendudukkan dirinya disofa milik Dania.
"Lagi ada masalah ya?" Dania berjalan menghampiri Andre sembari membawa secangkir teh hijau ditangannya.
"Tapi tenang saja aku akan berusaha menolak keinginan papa" lanjut Andre lagi sembari membelai wajah cantik Dania. Dania masih terdiam ia bingung harus mengatakan apa. Disatu sisi ia sangat mencintai kekasihnya itu tapi disisi lain ia hanya seorang perempuan yang terlahir dari keluarga yang biasa saja membuat dirinya merasa minder untuk mengatakan kalau Andre harus menolak perjodohan itu.
__ADS_1
"Hari ini aku bermalam disini ya, enggak apa-apa kan?" pinta Andre pada Dania. Dania mengangguk senang dia segera merapihkan kasur miliknya. Andre tersenyum pilu ia harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa terlepas dari perjodohan itu. Apalagi perempuan yang disebutkan mamanya itu sama sekali tidak ia kenal. Andre tak habis pikir bagaimana ia bisa menjalani pernikahan tanpa sebuah cinta? Itu sesuatu hal yang mustahil. Andre tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rumah tangganya bisa berjalan tanpa cinta pasti akan selalu timbul masalah setiap hari karena ke tidak cocokan hati masing-masing.
Kepala Andre terasa berat mungkin terlalu banyak memikirkan tentang perjodohan. Andre memejamkan matanya dengan perlahan hingga akhirnya ia tertidur jauh kealam mimpi. Dania menghampiri Andre yang telah terlelap, tanpa terasa kedua matanya mengembun dan air mata itu terjatuh dengan deras di pipinya. Dania mengingat percakapan tadi siang bersama papa Andre yang meminta agar dirinya menjauh dari kehidupan putranya tentu saja dengan iming-iming cek seharga milyaran rupiah yang membuat Dania terasa terhina. Apakah mencintai seseorang itu harus sesakit ini hingga ia harus merelakan orang yang paling dia cintai. Tapi Dania juga bimbang karena ibunya saat ini tengah berjuang melawan kanker payudara stadium akhir dan tentunya membutuhkan banyak sekali biaya pengobatan. Apalagi fasilitas dirumah sakit itu kurang memadai ditambah sang ayah yang tidak bertanggung jawab meninggalkan ibunya yang sedang sakit hanya untuk bersenang-senang bersama wanita lain membuat Dania geram dan sakit hati. Dania tidak ingin merepotkan kekasihnya pasalnya permasalahan yang Andre hadapi sendiri tidak dapat ia temukan jalan keluarnya. Mengajak kekasihnya untuk kabur dihari pernikahannya nanti hanya akan mencari mati karena papa Andre akan melakukan berbagai cara untuk mewujudkan keinginannya. Dania mengepalkan kedua tangannya ia ingin marah pada keadaan yang menimpa dirinya seakan-akan ia ditakdirkan untuk tidak pernah bahagia. Dania menghapus air mata dipipinya dengan kasar,
mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh kencang. Dengan langkah tertatih Dania berjalan menuju tempat tidurnya mengambil selimut tebal yang sudah tersimpan rapi diatas kasurnya. Dengan penuh kehati-hatian Dania menyelimuti tubuh Andre yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Selamat tidur sayang" lirih Dania seraya menghapus kedua air mata yang menggenang dipipi putihnya. Dania tak kuat menahan tangisnya ia segera melangkahkan kakinya menuju tempat tidur mencurahkan segala perihnya hidup yang sedang ia jalani.
Hari sudah menjelang pagi Andre masih terlelap diatas sofa karena semalam secara diam-diam Dania membubuhkan obat tidur kedalam teh hijau yang diminum oleh Andre. Disana Dania sudah bersiap dengan koper ditangannya. Ya.. Dania telah memutuskan untuk memilih pengobatan ibunya, ia akan membawa ibunya berobat keluar negeri dan memulai kehidupan baru disana. Langkah kakinya terhenti tepat didepan Andre. Dania ingin sekali memeluk Andre untuk mengucapkan salam perpisahan namun ia urungkan mengingat ucapan papa Andre untuk pergi secara diam-diam. Dania berjalan keluar apartemen dengan hati yang terluka meninggalkan kekasih yang selama ini selalu memperjuangkannya.
__ADS_1
"Selamat tinggal Andre" ucap Dania setelah perempuan itu berada didalam mobil hitam suruhan papa Andre. Mobil berjalan meninggalkan apartemen yang Andre beli untuk Dania menyisakkan kehampaan dan rasa sakit dihati Dania.
Sementara itu di sebuah ruangan rahasia Dirga menampilkan senyum bahagia karena anak buahnya telah berhasil membawa Dania keluar dari apartemennya. Ia bangkit dari kursinya menuju kamar yang sedari tadi terkunci dari luar. Terdengar sayup-sayup suara dari kamar tersebut. Kamar yang selalu menjadi bagian dari pentingnya peristiwa yang terjadi didalam keluarga Dirgantara.