
Andre terbangun dari tidur panjangnya ketika sinar matahari menerpa wajahnya. Ia mendudukkan dirinya sembari mengusap wajahnya dengan kasar, pandangannya berkeliling mencari keberadaan Dania kekasihnya. Berulang kali nama itu dipanggil tetap saja tidak ada jawaban. Merasa khawatir akhirnya Andre mencari Dania keseluruh ruangan namun tak kunjung ia temukan keberadaannya. Andre mencoba menghubungi nomor ponsel Dania tapi semua sia-sia nomor itu sudah tidak dapat dihubungi lagi. Dania telah menghilang entah kemana. Ditengah pikirannya yang berkecamuk Andre dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka dengan paksa. Tiga orang pria dengan setelan rapi masuk kedalam rumah tersebut satu diantaranya adalah Dirga papa Andre. Andre segera berjalan menghampiri Dirga dengan penuh emosi, ia yakin ketidak adanya Dania diapartemen ini pasti karena ulah papanya.
"Dimana pa, dimana papa sembunyikan Dania?" Andre menatap Dirga dengan tatapan tajamnya. Dirga mendecih seraya berjalan masuk kedalam apartemen.
"Papa sama sekali tidak tahu dimana perempuan itu sekarang tapi yang papa tahu saat ini kamu telah dicampakkan" Dirga duduk di sofa tempat Andre tidur semalam matanya melirik kearah cangkir yang tergeletak rapi diatas nakas.
"Bohong, apa yang papa ucapkan itu hanya sebuah kebohongan pasti ini semua ada hubungannya dengan papa karena Andre tahu papa akan melakukan segala cara untuk memisahkan Andre dengan Dania" teriak Andre dengan kesal. Dirga tersenyum tipis ia bangkit dari sofanya menghampiri Andre yang menatapnya dengan tajam.
"Memangnya apa yang telah papa lakukan? Papa tidak melakukan apa-apa mungkin dia sadar diri untuk tidak memaksakan sesuatu yang tidak pada tempatnya" ucap Dirga dengan penuh kesombongan.
"Dania tidak mungkin meninggalkan Andre, Andre sangat mengenal Dania, dia sangat mencintai Andre dan dia tidak akan mungkin terpengaruh dengan orang-orang yang berusaha memisahkan hubungan kami" seketika Dirga tertawa dengan keras. Andre terdiam melihat Dirga, seolah-olah papanya itu telah melihat adegan paling lucu.
"Sungguh perempuan itu telah memerankan lakonnya dengan piawai, sehingga kamu dengan bodohnya percaya dengan apa yang sudah diucapkannya. Kamu seharusnya berterima kasih pada papa karena telah membuka kedok perempuan itu" Andre mengepalkan tangannya dengan keras sampai buku-buku jarinya memutih.
"Carilah perempuan itu kemana saja tapi ingat suatu saat nanti kau akan berterima kasih kepada papa jika akhirnya kau menemukan alasan kenapa dia lebih memilih meninggalkan kamu" Dirga berjalan angkuh seraya meninggalkan Andre yang masih diam tak bergeming. Pikirannya sangat kacau masalah kemarin saja belum selesai sekarang datang lagi masalah baru rasanya kepalanya mau pecah. Andre berteriak sekuat tenaga meluapkan emosi yang tertahan didalam hatinya. Dibenaknya ia selalu berpikir mengapa tuhan tak pernah memberikan sedikitpun kebahagiaan untuknya.
Andre berjalan keluar dari apartemen menuju mobilnya yang masih terparkir rapi diparkiran. Ia membanting pintu mobilnya dengan keras saat ini yang ada dipikiran Andre hanya Dania ia sangat mengkhawatirkan keberadaan perempuan itu.
*******************
__ADS_1
Dania tidak tahu mengapa orang suruhan Dirga membawanya ke sebuah ruangan sempit bersama orang-orang suruhan Dirga. Dania terlihat cemas sekaligus takut menatap orang-orang yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.
"Dimana tuan kalian, kenapa dia membawaku kesini?" Dania mencoba memberanikan diri bertanya pada orang suruhan Dirga. Tak ada jawaban dari mulut mereka itu yang membuat Dania merasa kesal.
"Hei.. Jawab.. Kalian tidak punya mulut?" Dania terus berteriak kepada dua orang pria itu. Merasa dirinya diabaikan akhirnya Dania membuang wajahnya kesembarang arah mencari celah agar ia bisa kabur dari ruangan tersebut.
Terdengar suara pintu yang dibuka dari luar, nampaklah sosok Dirga yang angkuh berjalan mendekati Dania. Ia memberi aba-aba pada kedua orang suruhannya untuk meninggalkan dirinya dengan Dania diruangan itu. Dania menatap dingin pria yang kini tengah menatapnya dengan tatapan merendahkan.
"Kenapa anda membawa saya kemari, bukankah anda sudah berjanji untuk membawa saya dan ibu saya keluar negeri?" tanya Dania penasaran. Dirga tertawa sembari memainkan dagunya sendiri.
"Saya berubah pikiran.. jika aku mengirimmu keluar negeri bisa saja kamu tidak menepati janjimu maka dari itu lebih baik kamu mati saja" Dirga mengeluarkan senapan angin berukuran kecil dari balik jasnya. Tangan kanan Dirga terangkat membidik dahi Dania seketika jantung Dania terasa berhenti. Kakinya terasa lemas dan tubuhnya terasa kaku, keringat dingin pun keluar dikedua kening Dania.
"Anak saya telah kamu racuni sehingga dia tidak pernah patuh pada ucapan saya" Dirga mencengkram kedua pipi Dania dengan kasar membuat Dania menutup kedua matanya menahan rasa sakit dikedua pipinya, nyawanya saat ini berada diujung tanduk.
"Itu bukan karena saya, itu karena anda terlalu pilih kasih terhadap putra sendiri" Dirga membanting tubuh Dania kelantai secara kasar setelah mendengar ucapan Dania. Matanya tersulut penuh emosi ingin menghabisi nyawa Dania secepatnya. Ketika Dirga hendak menarik pelatuk ditangannya ia dikejutkan dengan bunyi telepon yang berada disaku jasnya. Dirga mengalihkan pandangannya pada layar ponsel yang kini sudah berada ditangannya. Nama Andre tertera disana, Dirga melirik Dania yang sedang menangis sesenggukan.
"Halo.. Papa dimana?" tanya Dirga dari sambungan telepon. Dirga berjalan menjauh dari Dania berharap puteranya itu tidak mengetahui keberadaan kekasihnya itu.
"Papa sedang meeting, ada apa?" tanya Dirga tanpa basa basi. Andre terdiam sesaat entah mengapa tadi ia seperti mendengar suara perempuan sedang menangis dan perasaan Andre mengatakan bahwa Dania sedang bersama papanya disuatu tempat.
__ADS_1
"Pa.. tolong beritahu Andre keberadaan Dania pa, Andre mohon" kedua mata Andre seketika mengembun, ia sangat mengkhawatirkan Dania sekarang. Dirga memanfaatkan kelemahan Andre untuk menyetujui pernikahannya yang akan dilangsungkan esok hari.
"Tapi kamu harus berjanji kepada papa untuk meninggalkan perempuan tidak tahu malu itu dan menyetujui pernikahanmu besok " ucap Dirga dengan penuh penekanan. Berat rasanya menyetujui permintaan papanya yang keras kepala itu namun saat ini Andre harus mengesampingkan egonya, papanya yang nekat itu bisa saja melakukan apapun kepada kekasihnya itu. Andre benar-benar mengkhawatirkan keadaan Dania sekarang.
"Baik.. Andre akan penuhi semua keinginan papa, tapi Andre harus memastikan keberadaan Dania, bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja" Dirga menatap tajam Dania, mengancamnya untuk tidak mengatakan apapun tentang perlakuan kasar yang ia lakukan tadi terhadapnya. Dirga memberikan ponsel miliknya kepada Dania dengan tatapan yang sangat tajam tak lupa ia menyalakan loudspeaker aga ia bisa leluasa mendengar percakapan mereka berdua.
"Halo.." ucap Dania dengan suara seraknya. Andre terdiam sesaat ia yakin bahwa Dania habis menangis. Ingin sekali Andre menanyakan dimana keberadaannya tapi itu tidak mungkin mengingat disana ada papanya.
"Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu pergi tanpa persetujuanku?" tanya Andre dengan nada penuh kekhawatiran. Dania tidak bisa menahan air matanya ingin sekali ia mengadu pada kekasihnya itu namun itu semua tidak terwujud saat tangan Dirga merampas paksa ponsel yang berada ditangan Dania.
"Kamu dengar kan kalau ia baik-baik saja, sekarang penuhi permintaan papa" ucap Dirga dengan nada dinginnya.
"Oke fine, tapi papa harus ingat jika papa menyentuh Dania seujung jari saja papa akan tau akibatnya" jawab Andre dengan penuh emosi. Dirga tersenyum puas paling tidak ia tidak perlu repot-repot mengeluarkan banyak tenaga dihari pernikahan putranya.
"Ya.. Akan papa usahakan..." Dirga menutup panggilan telepon itu secara sepihak. Keinginan Dirga telah terpenuhi waktunya ia membereskan Dania, perempuan yang saat ini menatapnya dengan penuh ketakutan.
"Bawa dia pergi dari sini kalau perlu lenyapkan!" perintah Dirga pada kedua orang suruhannya. Dania mulai panik ketika dua orang suruhan Dirga memegang kedua tangan Dania dengan erat. Dania meronta sekuat tenaga agar ia bisa lepas dari cengkraman kedua orang tersebut.
"Lepas.. Lepaskan saya.. Kalian mau bawa saya kemana?" Dania diseret kedua orang itu keluar dari kamar. Dengan sekali hentakan dikepala, Dania terkapar tidak sadarkan diri. Dirga tersenyum puas melihat Dania pingsan, ia memerintahkan kedua orang suruhannya itu untuk membuangnya kedalam sungai yang berarus tinggi sukur-sukur kalau Dania mati maka perbuatan kejinya tidak dapat diketahui orang lain. Kedua orang itu mengangguk, salah satu dari mereka membawa karung untuk memasukkan tubuh Dania kedalamnya. Setelah Dirga memastikan kedua orangnya itu bekerja dengan baik Ia menyuruh kedua orang suruhannya itu membawa karung berisi tubuh Dania kedalam mobil cadangannya dan menyuruhnya untuk membuangnya.
__ADS_1