
Pria bertubuh tinggi tegap itu membuka helmnya dan menaruhnya di motor berwarna merah dengan corak hitam. Seketika mata ini membulat lebar entah mengapa orang itu mirip dengan Andre, rivalku sewaktu disekolah dulu 'ya tuhaan.. Tapi apakah benar kalau orang itu adalah Andre? Kalau benar Kenapa aku harus dipertemukan lagi sama orang seperti itu' gumamku dalam hati. Aku segera mengalihkan pandanganku pada kaca di depanku. Berharap dalam hati semoga orang itu benar-benar hanya mirip dengan Andre.
"Pak Arif ada?" tanya lelaki itu dengan suara berat miliknya. Ya ampun ternyata suara orang itu nampak berbeda 180 derajat dengan Andre yang ku kenal dulu. Sewaktu Andre masih disekolah dasar aku sering sekali mengejek suaranya yang cempreng.
"Iya.. Ada di dalam" jawabku tanpa menoleh kearahnya. Bukannya aku tak sopan hanya saja aku sedikit malu jika tadi aku ketahuan curi pandang sudah memperhatikannya.
Setelah mendengar jawabanku tanpa basa basi lelaki itu berjalan kedalam kafe melewatiku begitu saja. Entah mengapa hati ini merasa dongkol dengan sikapnya yang seperti itu. Udah kayak ngobrol sama angin aja melengos seettt.. tanpa mengucapkan kata terima kasih😒.
"Siapa kak?" tanya Mita sembari melihat lelaki itu dengan tatapan terpesonanya. Aku hanya mengangkat bahuku pertanda aku tidak tahu. Aku melirik tubuh tinggi lelaki itu sudah berjalan masuk kedalam ruangan pak Arif.
"Ganteng ya kak" puji Mita sembari memeluk gagang pel yang berada ditangannya. Mendengar ucapan Mita membuatku hanya bisa menghela napas panjang sepertinya Mita sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Memang kuakui lelaki itu nampak berbeda ia mempunyai tubuh yang jangkung, berkulit putih bersih dan berpenampilan rapi tidak seperti Andre yang dulu aku kenal memiliki tubuh kurus, hitam, dan juga memiliki suara yang cempreng ditambah penampilannya yang aut-autan ngeliatnya aja bikin gerah.
"Sa.. dipanggil pak Arif tuh" ucap Aris yang kini tengah berjalan menghampiriku. Aku mengernyitkan dahiku sesaat. Untuk apalagi pak Arif memanggilku. Aku melirik Aris untuk bertanya perihal ucapannya namun Aris hanya mengangkat kedua bahunya. Segera kulangkahkan kakiku menuju ruangan pak Arif entah mengapa kali ini aku merasa deg-degan hatiku merasa tidak menentu.
Setelah didepan pintu ruangan pak Arif, kuketuk dengan pelan pintu kayu berwarna coklat itu. Terdengarlah suara pak Arif yang menyuruhku untuk masuk kedalam ruangannya. Dengan perasaan berdebar kuraih gagang pintu itu dengan pelan.
"Bapak panggil saya?" tanyaku ragu-ragu pak Arif segera menganggukkan kepalanya dan menyuruhku untuk duduk disamping lelaki yang mirip Andre itu hanya saja ia lebih glowing.
"Saya panggil kamu kesini untuk memperkenalkan personiel kita yang baru namanya Andre Mahardika mulai hari ini dia akan menjadi bagian dari kita" ucap pak Arif sambil tersenyum melirik aku dan Andre secara bergantian. Aku sungguh terkejut mendengar ucapan pak Arif kukira lelaki ini beneran hanya mirip dengan Andre rivalku itu tapi ternyata dia beneran Andre yang itu?
"Dan Andre ini Alysa partner kamu selama kamu bekerja disini, jadi.. saya minta tolong sama kamu Alysa supaya kamu mau mengajari Andre tentang tata cara melayani pelanggan dengan baik, saya harap kalian bisa bekerja sama, ya.." setelah mendengar ucapan pak Arif entah mengapa Andre terlihat biasa-biasa saja tidak ada rasa terkejut yang terpancar dari wajahnya. Apa karena dia sudah melupakan namaku sehingga ketika pak Arif menyebutkan namaku seolah-olah nama itu hanya sebuah nama orang yang baru saja ia dengar.
"Bisa dipahami?" tanya pak Arif kepadaku dan Andre yang masih sama-sama terdiam.
"Haloo.. Bisa dipahami?" ulang pak Arif lagi dengan suara yang lebih keras. Aku dan Andre segera mengangguk bersamaan.
"Baik.. Kalau begitu mulai hari ini kamu bisa langsung bekerja, disamping ruangan saya sudah ada loker pegawai beserta seragam di dalamnya kamu bisa pakai itu" ucap pak Arif kepada Andre. Ia hanya tersenyum sekilas.
__ADS_1
"Kalau begitu kalian boleh keluar dari ruangan saya, jangan lupa tutup pintunya" perintah pak Arif kepadaku dan Andre. Aku segera bangkit dari kursiku di susul Andre yang berjalan lebih dulu keluar dari ruangan pak Arif.
"Krekk.." setelah pintu ditutup aku segera mengantar Andre ke loker miliknya.
"Nih yaa.. Ini loker kamu, yang disana itu loker Aris, yang ini Nia, ini Dewi dan yang ini Mita" ucapku sambil menunjuk loker-loker yang berada didepanku. Andre tak mengatakan apapun sepertinya ia tidak tertarik dengan apa yang kutunjukkan padahal aku hanya memberitahunya bahwa tidak hanya aku yang akan bekerja bersamanya melainkan masih ada pegawai yang lainnya.
Andre membuka loker miliknya yang berada diposisi paling atas lebih tepatnya di atas kepalaku dan dia berdiri tepat dibelakangku. Aku yang masih berdiri dan berhadapan langsung dengan loker pegawai tentu membuat diriku menjadi agak kikuk. Apalagi punggungku sedikit menempel dengan tubuh Andre membuat detak jantungku semakin tidak menentu. Seketika aroma segar terhirup masuk kedalam hidungku. Aku tidak dapat bergerak seketika entah mengapa kakiku terasa kaku dan enggan untuk bergerak.
Secara tiba-tiba Andre membuka jaket berwarna hitam miliknya melipatnya sembarangan dan menaruhnya kedalam loker miliknya. Aku yang masih mematung didepan loker hanya bisa menahan napasku, ingin sekali aku pergi dari sini tapi lagi-lagi kaki ini terasa berat untuk dilangkahkan.
"Kamu mau tunggu aku sampai buka baju?" ucap Andre dengan nada suara yang tidak menyenangkan. Aku segera menelan salivaku, dengan susah payah ku langkahkan kaki ini menuju pantry tempat Aris biasa menyiapkan minuman untuk pelanggan.
"Hai Ris.." sapaku pada Aris yang tengah mengelap gelas-gelas yang kemarin sudah ia cuci. Aris menatapku sekilas tangannya masih asik mengelap gelas-gelas cantik itu.
"Pak Arif ngapain manggil kamu?" tanya Aris penasaran. Aku segera menjawab pertanyaan Aris.
"Terus sekarang dimana dia?" tanya Aris lagi. Aku segera mengendarkan pandanganku untuk mencarinya ternyata ia sedang bebicara dengan Dewi. Rupanya Andre telah selesai mengganti pakaiannya dengan seragam dari kafe. Nampak sekali aura ketampanannya bertambah padahal ia hanya mengenakan seragam kafe, bagaimana kalau ia memakai baju formal. Pikiranku mulai berkelana tak karuan.
Kulihat dari jauh entah mengapa mereka terlihat akrab atau mungkin mereka sama-sama pernah saling mengenal? Entahlah tapi pemandangan itu cukup membuatku merasa risih.
"Yaudah Ris, aku kesana dulu ya" ucapku pada Aris yang hanya dibalas dengan anggukan.
Andre dan Dewi seketika terdiam ketika aku datang menghampiri mereka. Ada apa dengan mereka apa mereka merasa risih dengan kehadiranku? Tak mau membuat pikiranku bertambah pusing. Aku segera mengajarkan Andre tentang apa yang ditugaskan pak Arif.
Satu persatu pelanggan mulai berdatangan sehingga kafe pun menjadi ramai. Dewi dan Mita nampak sibuk mencatat pesanan para pelanggan. Nia yang bertugas sebagai juru masak mulai menyiapkan pesanan yang telah ditulis oleh Dewi dan Mita.
"Kamu tuli ya? Saya gak mau dilayani sama kamu ngerti!!" teriak gadis tanggung dari samping jendela kafe. Mendengar teriakan itu aku segera datang menghampiri sekumpulan gadis yang tengah menatap tajam kearah Mita. Wajahnya nampak terlihat kesal membuat Mita hanya bisa terdiam menunduk.
__ADS_1
"Mohon maaf apa ada yang bisa saya bantu?" tanyaku pada sekumpulan gadis yang kini tengah menatap nyalang kearahku.
"Tolong katakan sama orang ini kalau saya tidak mau dilayani sama dia, saya maunya sama orang itu" tunjuk gadis berambut panjang dengan cat rambut berwarna blonde itu kearah Andre. Andre hanya meliriknya sekilas.
"Mohon maaf sebelumnya tapi orang itu sedang dalam masa training jadi anda bisa meminta pesanan yang anda inginkan pada pelayan lain" ucapku dengan nada sehalus mungkin. Gadis itu mengernyit tak suka.
"Dia pekerja kan? Ya sudah layani saja kami toh kami tidak keberatan jika memang dia masih belum bisa melayani pelanggan dengan baik" ucap gadis itu dengan nada yang sarkas. Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, percuma jika harus berdebat dengan anak kecil yang emosinya masih labil.
"Baiklah kalau begitu, Andre tolong kamu layani pelanggan kita ini dengan baik ya" ucapku dengan nada selembut mungkin padahal dalam hati rasanya ingin sekali aku berteriak kasar sembari memaki gadis tanggung itu. Andre segera berjalan kearahku dan bekerja layaknya seorang profesional. Aku sampai tertegun melihat apa yang ada didepanku ini. 'Kukira dia cupu ternyata suhu' gumamku dalam hati. Para gadis itupun nampak senang dan mereka memesan banyak sekali makanan. Hoki juga kedatangan si Andre ini tanpa sadar aku jadi senyum-senyum sendiriðŸ¤
"Kak.. jangan bengong masih banyak tamu tuh" bisik Mita ditelingaku. Seketika aku tersadar dengan apa yang sudah aku lakukan.
"Hayoo.. Kakak pasti lagi ngelamunin kak Andre ya?" ucap Mita membuat aku menjadi sedikit salah tingkah.
"Kok kamu udah tau nama dia?" tanyaku penasaran. Mita terkekeh melihat ekspresi wajahku yang seperti orang bodoh.
"Ya.. Kan udah kenalan" jawab Mita sembari mengedipkan sebelah matanya. 'Iya juga sih kan dia mau kerja disini jadi pasti kenalan dulu sama pegawai yang lainnya bodoh sekali aku ini' rutukku dalam hati.
"Kak.. Ayo kerja.." teriak Mita lagi menyadarkan kebodohanku yang entah mengapa terjadi berulang kali. Semenjak kehadiran Andre entah mengapa aku jadi kayak orang bodoh banyak planga plongonya ya ampuun🙈
"Sa.. Ada pelanggan yang minta dilayani sama kamu tuh" bisik Dewi ditelingaku sembari menunjuk sepasang pria dan wanita yang sedang duduk sembari membelakangiku.
"Oke.." jawabku sembari mengacungkan jempol kearah Dewi. Dewi hanya tersenyum tipis sembari berdiri menatapku dari kejauhan.
"Permisi.. Apakah anda ingin memesan sesuatu?" tanyaku pada kepada kedua orang yang kini tengah menatap kearahku. Setelah kedua mata kami saling beradu aku baru tersadar kalau ternyata mereka adalah...
Siapakah kedua orang itu lanjut di chapter selanjutnya yaa😊
__ADS_1