Cinta Noda Hitam

Cinta Noda Hitam
Ulang tahun Widia


__ADS_3

Radit adalah sahabat dan juga cinta pertamaku ketika aku masih sekolah dulu. Tawanya yang khas itu selalu membuat hati ini berdebar. Walaupun sebenarnya aku tau cintaku ini hanya bertepuk sebelah tangan tapi aku sangat menikmati setiap kebersamaan yang selalu dilewati bersamanya.


Setelah lama berpisah aku dipertemukan kembali dengan Radit di kafe tempatku bekerja. Canggung tentu saja itu yang kurasakan karena ia datang bersama Widia.


Widia termasuk satu sekolah juga denganku hanya saja aku dan dia berbeda kelas. Dulu dia adalah primadonanya sekolah, karena wajahnya yang cantik banyak sekali para kaum adam yang berlomba untuk mendapatkan hati sang primadona termasuk Radit orang yang secara terang-terangan menaruh hati padanya.


Setelah mengobrol sebentar kami saling bertukar nomor. Sebenernya aku sempat mengganti nomor ponselku karena aku ingin move on dari Radit tapi ternyata takdir berkata lain. Aku malah dipertemukan dengan orang-orang di masa laluku😌. Akhirnya kamipun saling bertukar nomor ponsel dengan alasan untuk menjalin tali silaturahmi.


Hari ini adalah ulang tahun Widia, ulang tahun pujaan hati Radit. Malas sebenarnya untuk sekedar datang menyalaminya toh aku dan Widia tidak begitu akrab. Kami hanya saling sapa jika ada Radit disekitar kami. Itupun Widia yang selalu memulai pembicaraan jika sedang bersama Radit. Tapi jika Radit menghilang dari hadapanku sifat aslinya mulai terlihat. Ia menganggap seolah diriku ini hanya angin lewat saja. Jangankan diajak ngobrol dilirik pun enggak😏.


Aku memakai dress berwarna peach dipadukan dengan blazer berwarna senada. Rambut hitam panjangku kubuat curly bagian bawahnya, tak lupa memoleskan make up agar terlihat lebih fresh. Maklum saja dalam keseharianku, aku jarang sekali memakai make up. Bukannya tak suka hanya saja aku tidak sempat melakukannya.


Ponselku berdering pertanda panggilan masuk dari seseorang. Setelah kuangkat ternyata itu Radit, dia sudah menungguku di depan rumah. Aku melirik jam diponsel ternyata sudah pukul tujuh malam. Dengan terburu-buru kusambar kado kecil yang sudah kusiapkan diatas meja rias dan menaruhnya kedalam tas pestaku. Aku segera berlari menuruni anak tangga karena kamarku berada dilantai atas.


"Widiihh.. siapa nih, cantik bener?" Aku melirik papa yang sedang asik berbincang bersama mama diruang tamu. Tak kuhiraukan perkataan papa bisa panjang jika harus meladeni omongan papa.


"Ma.. pa.. Alysa berangkat yaa mau ke acara ulang tahun temen" ucapku sembari mencium punggung tangan kedua orang tuaku. Mama mengernyit sebentar.


"Berangkat sama siapa?" papa pun ikut penasaran sepertinya.


"Dianter temen" jawabku singkat. Segera kulangkahkan kakiku menuju pintu. Agar orangtuaku tidak berlama-lama menahanku dirumah.


"Pulangnya jangan malem-malem" teriak mama dari balik pintu namun aku masih mendengarnya. Kulihat Radit sudah berdiri disamping mobilnya. Penampilannya nampak gagah dengan setelan jas berwarna hitam.


"Maaf ya lama" ucapku penuh rasa tidak enak. Radit hanya diam tak menjawab perkataanku.


"Dit..?" aku melambaikan kedua tanganku diwajahnya dan itu sukses membuat dia terkejut.


"Maaf Sa.." ucap Radit malu-malu sembari menggaruk tengkuknya. Entah apa yang ada dipikiran Radit, aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya itu.

__ADS_1


"Yaudah langsung jalan yuk.. takut entar keburu mulai acaranya" Radit mengangguk setuju mendengar saran dariku. Ia segera membukakan pintu mobil disebelah sopir untuk memintaku duduk disampingnya. Aku terhenyak baru kali ini Radit memperlakukanku semanis ini.


Dengan malu-malu aku mendudukan diriku di kursi mobil seraya mengucapkan terima kasih yang dibalas anggukan dan senyuman manis dari Radit.


Sesampainya ditempat tujuan aku sedikit tercengang rupanya pesta ulang tahun Widia diadakan dihotel mewah yang cukup ternama. Kupikir Widia akan mengadakan pesta dirumahnya mengingat Radit pernah memberikan alamat rumah Widia kepadaku.


Aku sedikit minder mengingat kado yang kubawa mungkin tidak akan ada apa-apanya. Tapi biarlah toh mungkin kado dariku tak akan berarti apa-apa untuk Widia jangankan disimpan dilirikpun tidak akan.


Radit mengajakku untuk bertemu dengan Widia yang terlihat sedang asik mengobrol bersama teman-teman sekolahku dulu.


"Wid.. selamat ulang tahun yaa" ucap Radit sembari memberikan kado kecil yang ia keluarkan dari sakunya. Widia nampak sumringah ia memeluk Radit dengan erat. Aku segera mengalihkan pandanganku, walau bagaimanapun hati ini terasa sesak jika melihat orang yang disukai berpelukan dengan orang lain. Apalagi orang itu adalah orang yang ia sukai juga.


"Makasih ya Dit.. udah mau datang ke acara ulang tahun aku pake kasih kado segala lagi" ucap Widia yang kini telah melepaskan pelukannya pada Radit. Radit mengangguk dan menggeser badannya kesamping memberikanku kesempatan untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Widia.


"Selamat ulang tahun ya" ucapku sembari mengulurkan tanganku kearahnya. Diwajahnya nampak sekali aura ketidaksukaannya padaku sampai-sampai tanganku yang terulur masih mengambang diudara.


"Oke.. aku taruh disini ya kadoku" ucapku sembari berjalan kearah meja yang terpajang disamping kue ulang tahun Widia.


"Tunggu.." ucapan Widia sukses menghentikan pergerakan tanganku ketika aku akan menaruh kado diatas meja.


"Kemarikan.." teriak Widia setengah membentak. Aku mengernyitkan dahiku 'ada apa lagi ini' gumamku dalam hati.


Widia mengambil kado dari tanganku dengan sedikit kasar. Dan memandanginya dengan tatapan meremehkan.


"Perhatian semuanya.." teriak Widia membuat orang-orang yang berada dipesta itu nampak memalingkan perhatiannya kearah Widia.


"Hari ini aku mendapatkan kado ulang tahun dari sahabat Radit yang cantik ini, kalian kenalkan siapa dia?" ucap Widia pada teman-teman sekolahku dulu. Tentu saja mereka mengangguk mengiyakan ucapan Widia.


"Karena aku merupakan sahabat Alysa juga, aku akan memberikan kado yang paling spesial juga untuk dia" terang Widia membuat semua orang nampak menunggu ucapan yang akan dikeluarkan oleh Widia selanjutnya.

__ADS_1


"Radit.. boleh kamu berdiri disamping aku?" ucap Widia sembari mengerling manja pada Radit. Radit nampak salah tingkah. Ia berjalan kearah Widia dan berdiri disampingnya.


"Dan untuk sahabatku Alysa.. aku akan mengumumkan sesuatu hal yang sangat spesial untuk kamu, aku harap kamu akan menerima kado spesial dari aku ya" ucap Widia dengan senyum merekah diwajahnya.


Entah mengapa perasaanku tidak enak. Ingin sekali rasanya aku pergi dari tempat itu tapi rasanya sudah sangat terlambat.


"Aku akan menjadi seorang istri dari Raditya Putra" ucap Widia yang disambut kericuhan dari orang-orang yang berada dipesta ulang tahun Widia.


"Maksud kamu apa Wid?" tanya Radit dengan ekspresi terkejutnya begitupun denganku.


"Iya.. papaku dan papamu sudah menyetujui hubungan kita dan mereka telah sepakat untuk menjodohkan kita" mendengar ucapan Widia membuat Radit kembali ternganga.


Sedangkan aku hanya bisa diam menahan rasa sakit yang datang secara tiba-tiba.


"Bagaimana mungkin, kamu jangan bercanda Wid?" ucap Radit dengan ekspresi tak percaya.


"Beneran Dit.. kamu kok kaya gak seneng gitu?" Widia menatap Radit dengan tatapan tak sukanya.


"Bukan gitu Wid.. hanya saja ini terlalu mendadak, membuat aku menjadi bingung" Radit menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kamu gak suka sama perjodohan ini, atau kamu sekarang sudah jatuh cinta pada sahabatmu?" tanya Widia dengan nada kesal.


Aku terkejut mendengar ucapan Widia. Ia mengamati wajah Radit dan aku secara bergantian.


"Kita bicarakan ini lain kali ya.. papaku belum memberitahukan apapun tentang apa yang kamu katakan Widia" mendengar ucapan Radit membuat Widia emosi ia pun memilih pergi dari acara ulang tahunnya.


"Wid.. tunggu..!! teriak Radit seraya mengejar Widia yang telah menghilang dari kerumunan.


Aku hanya bisa diam melihat kedua orang itu pergi dari hadapanku. Sakit.. tentu saja.. Disaat aku mulai move on dia malah datang kembali dan mengejutkanku dengan berita yang sama sekali tak ingin aku dengar.

__ADS_1


__ADS_2