
Aku siswa baru.
Aku melanjutkan pendidikanku disekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Saat aku meninggalkan desaku, usiaku baru 14 tahun.
Aku tinggal bersama kerabat jauh bapak,karena keinginanku untuk memperbaiki hidup dengan cara melanjutkan pendidikan. Aku tidak ingin seperti teman-teman sudah lulus sekolah dasar memilih menikah atau bekerja.
Aku tahu.
Aku hanyalah gadis miskin yang bermimpi terlalu jauh,kata saudara yang tidak setuju anak perempuan meneruskan pendidikan. Anak perempuan tempatnya didapur,dikebun atau disawah. Walaupun aku dihina saudara bapak, aku tetap pada pendirianku,meneruskan pendidikanku sampai hayat.
Orangtuaku mengizinkan aku untuk melanjutkan pendidikanku. Resiko yang harus ku terima,betah tinggal dengan saudara jauh bapak.Dan aku terima resiko itu untuk masa depan yang lebih baik.
Bapakku adalah petani biasa yang menghidupi 4 anak dan aku adalah anak tertua. Aku berjanji sama bapak kalau aku akan menjadi anak kebanggaannya.
"Pertama (Pasar)"
Aku tidak menduga kalau usiaku baru 14 tahun bisa jatuh cinta, bukankah itu tidak wajar.
Hari ini seperti bisa, pulang sekolah belanja kepasar(ini bukan shoppying), maklumlah bibiku adalah pedagagng kue kecil-kecilan.
"Nina!"
itu suara bibi memanggilku.
"Yah!".
Sebentar bi?,nina ganti baju dulu, jawabku. Lalu aku bergegas menemui bibi.
Bibi memberikan daftar bahan yang harus dibeli.
"Nin!",ini daftar bahan kue yang harus kamu beli, dan jangan lupa ambil uang titipan kue tadi pagi, ucap bibi.
Baik bi, jawabku.
"Nina pergi, bi?
"Yah, hati-hati".
Aku cepat-cepat pergi kepasar takut kesorean, karena aku tidak bisa menggunakan kendaraan apa pun. Kata bibi jalan kaki saja.
Siang ini panas banget,sih!,gumamku sambil menyekah keringat yang menetes.
Mengapa bibi membeli banyak bahan hari ini?, ngak ada tukang ojek lagi, capek banget, gumamnya dalam hati. Aku berdiri dekat pohon untuk berteduh dengan mengibas-bisakan kedua tanganku untuk mengurangi gerah yang ku rasakan.
"istirahat dulu, ah!".
Setelah penatku hilang, aku berjalan lagi sambil membawa keranjang belanjaan yang memenuhi kedua tanganku. Baru saja beberapa langkah, seperti ada yang memanggilku.
"Adek...?"
Aku pun berhenti dan berbalik melihat kebelakang,pak polisi.
"Yah, ada apa, lagi?", keluhku melihat pak polisi datang mendekatiku.Aku memang sering melewati kantor polisi yang ada disini, karena letaknya tidak jauh dari jalan raya, karena ini adalah jalan utama dan tidak ada jalan alternatif lainnya.
"Maaf, pak?".
"Ada apa yah!", tanyaku dengan meletakkan belanjaanku dibawah.
Adek menjatuhkan, ini nih?", ucapnya dengan memberikan dompetku yang jatuh.
"Ooh, terima kasih pak?" jawabku yang langsung mengambil dompetku dari tangannya..
Polisi itu hanya tersenyum dan berlalu pergi, dan begitu juga dengan diriku.
"Assalamualaikum".
"Walaikumsalam?"jawab Kayla kakak sepupuku.
"Nin!", belanjaannya banyak banget sih. Tanyanya padaku.
"Kenapa tidak menungguku?" ucap kayla.
Kelamaan, jawabku!.Tanya aja tuh sama bibi, "mengapa belanjaanya lebih banyak dari biasanya?",jawabaku. Aku harus istirahat berkali-kali dipinggir jalan,ucapku yang berlalu pergi dari hadapan Kayla.
"Bi!", belanjaan hari ngak seperti biasanya, lebih banyak,tanya kayla.
Kita mendapat orderan kue, jawab bibi sambil memasak untuk makan malam.
"Siapa yang order,bi?",tanyaku pada bibi.
Bu Anton, jawab bibi.
Kayla.
Ibu Anton tuh siapa sih?,tanyaku pada kayla.
Istri kepala polisi yang kantornya sering kamu lewati, kalau pergi kepasar?",jelas Kayla padaku.
"Oooh, ucapku?".Maklumlah, aku baru tinggal dengan bibi sekitar 2 bulanan,jadi aku belum mengetahui apa-apa.
"Kedua (pertemuan)"
Hari ini aku mengantar pesanan kue ibu Anton, pesanannya ada 3 jenis kue dalam jumlah yang banyak, Kayla hanya membantuku sampai didepan kantor, karena hari ini gantian dia yang berbelanja kepasar.
"Nin!"
Aku hanya sampai disini, tanya aja sama bapak-bapak polisi yang ada disana, dimana rumah bu Anton.
Oke, jawabku.
Aku, merasa sangat malu, karena aku memakai celana pendek dan baju kaos hitam, aku pikir Kayla juga ikut masuk, dengan mengucapkan bismillah aku memberanikan diri untuk masuk.
"Asssalamualaikum, ucapku?"
"Walaikum salam", jawab orang yang ada didalam.
Karena tidak ada yang keluar, aku mengucapkan salam lagi, kali ini agak keras.
__ADS_1
"Assalamualaikum,ucapku lagi?", seperti orang berteriak.
"Walaikum salam">
"Ada apa yah?", jawab seorang pria keluar sambil bermain ponsel.
"Cari siapa?",dia bicara tanpa melihatku, aku jadi agak kesel sedikit.
"Kok,diem!",tanyanya padaku.
"Maaf, pak!".
Saya mau bertanya rumah bu Anton itu dimana yah?, tanyaku padanya. Bapak tidak sopan sebagai orang dewasa, karena berbicara tanpa melihat lawan bicara, ucapku kesal.
Aku melihat ia menghentikan kegiatan bermain ponselnya,setelah mendengarkan suaraku yang sedikit keras.
"Hai?''.
Adek yang kemarin, yah.
"Maaf?",kalau ngomong sama orang yang lebih tua, suaranya harus pelan. Itu namanya tidak sopan,ucapnya menyindirku.Aku diam saja males untuk berdebat dengan orang yang tidak sadar diri.
Mari saya tunjukkan dimana rumah bu Anton, katanya dengan tersenyum manis, yang membuatku jengah.
Fahris, masih anak-anak tuh, jawab temannya yang ada didalam.
Ya,Allah. Siapa yang mau pacaran?, saya masih mau sekolah, gumamku sebel.
Dia hanya tersenyum mendengarkan candaan temannya.Sambil berjalan dia bertanya padaku, "rumahnya dimana?", tanyanya padaku.
No 90A, jawabku sengaja biar tahu betapa galaknya pamanku,biar dia takut.
"Oooh, rumahnya pak yanto, yah?",ucapnya.
"Kok,tahu!',tanyaku kaget, ingin mengerjainya malah aku yang dibuat kaget.
Saya biasa bertamu kerumahnya, ucapnya didekat kupingku,ang membuatku merinding.
"Hmm".
"Masih jauhkah rumahnya bu Anton?', tanyaku kepadanya.
"Itu yang ada tulisan namanya, ucapnya dengan mengangakt dagunya. Aku kaget ternyata rumah disini masing-masing ada namanya.
Perlu bantuan,tanyanya nya kepadaku.
Boleh,panggilin dong orangnya. pintaku!
"Ada acara apa,yah bu Anton beli kue sebanyak ini,tanyanya kepadaku?".
"Mana saya tahu?',saya bukan keluarganya bu Anton, saya hanya diperintahkan untuk mengantar pesanan bu Anton.
"Oooh!",saya kira kamu keluarganya,ucap Fahris dengan seringai nakal.
"Pak, tolong panggilin bu Antonnya,pintaku?, saya lagi males melihat bapak yang membuat saya kesel, bisa-bisa ulangan harian saya besok nilainya jelek karena bapak.
'Pak..!", tangan saya pegel,nih.
"Assalamualaikum,bu Anton?
"Walaikum salam, jawab bu Anton dari dalam!"
"Hai, nak Fahris!ada apa?",tanya bu Anton.
"Ibu pesan kue, yah?", tanya Fahris kepada bu Anton.
"Iya, untuk acara nanti malam.
Ini pesanannya udah datang."kamu siapa, nak? tanya bu Anton padaku.
Saya keponakannya bu Nia, bu?,jawabku.
"Ibu, kok baru lihat,yah?", yang saya tahu keponakan bu Nia hanya kayla, ucap bu Anton.
Saya baru dua bulan tinggal dirumah bibi. Datang dari kampung mau melanjutkan sekolah, jawabku.
"Ohh, cantik juga, ucap bu Anton memuji.
Ini kue, berapa uangnya?,tanya bu Anton.
Dua ratur ribu, jawabku.
Ini uangnya,terima kasih, nak..?".
Siapa namamu?, tanya bu Anton.
Nina.
Kasih tahu,bu Nia,bahwa tempat kuenya saya pinjem dulu?,yah bu jawabku.
"Nak,Fahris?".
"Iya,bu?"
Tolong antarkan anak ini kedepan,perintah bu Anton. Siap bu, jawabnya.
Terima kasih bu Anton,saya pulang.
Assalamualaikum.
Walaikum salam, jawab bu Anton.
"Jadi, kamu baru tinggal disini?", tanya pak Fahris kepadaku.
"Iyah,jawabku?".
Saya biasa kerumah pak Yanto, tapi ngak pernah lihat kamu. Aku hanya tersenyum,mendengarnya.
__ADS_1
Terima kasih,pak.Saya mau pulang,permisi. Ucapku kesel melihat sifat sok akrabnya.
Didepan,kayla sudah menungguku.Kok, lama banget sih,capek tahu, kayla kesel padaku.
"Hai, pak Fahris, apa kabar!" sapa Kayla kepada pak Fahris dengan ramahnya.
"Hai juga!
Dari mana,pak Fahris?, tanya Kayla.
Dari rumah bu Anton, ini ngantarin teman kamu, jawabnya.
Terimakasih,pak Fahris?, ucap Kayla kepada pak Fahris.
Oke! balasnya. Lalu aku dan Kayla pulang.
"Dikantor Polisi"
Fahris, tidak sadar kalau teman-temannya sedang memperhatikan tingkah lakunya. "Hai?", senyum-senyum sendiri, itu anak masih kecil. Mau kamu apakan itu, anak?, tanya teman-temannya.
"Ha, kalian ada-ada saja.
Jelaslah untuk dipacari.Bila perlu dijadikan istri,ucap Fahris sambil tersenyum manis dengan sedikit mengangkat alisnya.
Gila, kamu.
Biarin ajalah?,Fahris juga bingung, "mengapa dia bisa berbicara seperti itu?", yah sudahlah gumamnya dalam hati..
"Dirumah pak Yanto"
"Adit!".
Ayo dong mandi.Kak Nina capek nih diajak berlari terus. Dalam hitungan ketiga, kalau tidak mendekat sama kakak, jangan tidur sama kakak.
Kak Nina,pulang aja?,ucapku kepada adikku adit.
Kak Nina jangan pergi, nanti adit ngak ada yang boboin?, bapak sama mama sok sibuk, ngak ada yang mau bermain sama adit. Kalau lagi ngambek adit sangat lucu dan menggemaskan.
"Ketiga (Bertamu)"
"Tok, tok, tok!.
Nina, Kayla! tolong buka pintu, sepertinya ada tamu?, perintah bibi dari dalam kamar.
"Iya bi, jawabku?".
Kay, tolong dong buka pintunya, aku males banget, nih? rayuku kepada kayla.
Ngak bisa Nin, aku lagi ngerjakan tugas nih, untuk hari senin?, ujar Kayla.
"Yah,sambil berjalan keluar aku menggerutu menuju pintu depan."Siapa sih, malam minggu datang kerumah, ngak tahu apa kalau masih ada anak usia dibawah umur 17 tahun menggerutu didalam hati.
"Assalamualaikum!"
Aku sangat kaget saat membuka pintu, berdiri tegak seorang pria tinggi,gagah, berpenampilan rapi.
Walaikum salam.
Jawabku kesel melihat siapa yang datang, sok kegantengan.
"Hai, pak Yanto ada?', tanyanya padaku.
"Hai,juga!".
Ada,silahkan masuk pak Fahris, akan saya panggilkan dulu pak.
"Silahkan duduk?, ucapku sebelum berlalu pergi.
Aku melangkah kekamar paman yang tidak jauh dari ruang tamu. Aku pun mengetok pintu kamar, paman dan bibi.
"Tok, tok, tok!"
"Bi, ada tamu yang mencari paman!".
"Yah,tunggu?",bibi membuka pintu kamar lalu bertanya, "siapa, sih tamunya?" tanya bibi kepadaku.
"Pak Fahris jawabku santai".
"Buatin minum sekalian cemilannya, perintah bibi padaku.
Iyah, jawabku melaksanakan perintah.
"Nin, siapa yang datang?", tanya Kayla padaku.
Mau tahu atau mau tahu banget, tanyaku balik bertanya pada Kayla
Mau tahu banget, jawab tante Eva dari belakangku.
"Haa...tante Eva ngagetin?" Tante Eva tertawa melihat ekspresi wajahku yang agak pucat, karena kaget.
"Siapa?", tanya tante Eva kepadaku.
Pak Fahris, puas.
Puas,banget. Pak Fahris cowok idaman,ganteng, tajir,body atletis.Ujar tante Eva memuji.
"Woek, mual Nina dengarnya.
Udah,mau buat minuman dulu, nanti bibi teriak-teriak lagi. Tapi,tante Eva yang keluar bawa minumannya kedepan. Nina lagi males, nih?, ngak mau,nanti om Iwan marah sama tante.
"Kay, tolong dong?",pintaku dengan memasang senyum yang sangat manis. Kayla tidak bersuara,hanya memperlihatkan buku kepadaku,dan berarti tugasnya belum selesai.
Aku berjalan keruang tamu, membawa nampan yang berisikan minuman teh hangat dan cemilan, lalu memberikannya kepada pak Fahris, paman dan juga bibi.
"Mari, nak Fahris,silahkan diminum.
Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, karena mataku sudah mengantuk, aku pun tidur dikamar adit, adek sepupuku yang sangat lucu.
__ADS_1