
Hari ini aku harus bangun pagi-pagi.
Pekerjaan rumah sudah menunggu,habis,bersih-bersih rumah,aku harus mencuci pakaian, mandi, setelah itu kepasar membawa kue-kuenya bibi untuk dititipkan kewarung-warung kopi.
Entah mengapa akhir-akhir ini,kayla tidak membantuku.Dia hanya mengerjakan yang ringan-ringan saja.
Kayla bukan orang asing bagiku, dia adalah teman sekolahku, sewaktu duduk disekolah dasar.
Kami berpisah setelah kenaikan kelas, ia dibawa bibi untuk tinggal bersamanya. Ia yatim setelah ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu. Hampir putus sekolah, kalau bibi Nia tidak datang,aku yakin ia sudah disawah atau dikebun untuk bekerja.
Hari ini aku terlambat kesekolah. Lina pasti marah padaku, karena hari ini jadwal piket kami, aku juga harus membersihkan ruang guru,maklumlah aku bekerja separuh waktu disekolah, untuk mencari uang tambahan biaya sekolahku.
Aku tidak mau membebani bibi, untuk kebutuhan sekolahku.
"Nin!".
Bisa tepat waktu ngak sih?,aku sudah selesai membersihkannya, kamu baru datang. Ucap Lina marah-marah padaku. Aku juga tidak mau terlambat, aku tinggal diruamh bibi, pantaskah aku bersikap seperti tuan rumah. Sedangkan Lina anak yang punya segalanya, tidakkah ia mengerti dengan keadaanku.
"Maaf?"hanya itu yang bisa katakan.Udah jangan marah-marah dong, kataku untuk merayunya. sebagai gantinya, piket pulang aku yang mengerjakan semuanya, oke?".
Baiklah aku setuju, janji yah.
Iyah, jawabku untuk meyakinkannya.Aku setengah berlari menuju ruang guru, benar saja gelas kotor masih ada.
Aku mengambilnya untuk dicuci.
Baru datang, Nin.
Pak Budi.Iya, pak?.
Maaf,pak? saya harus kebelakang. Pergelangan tanganku masih sakit, karena banyaknya cucian hari ini.
Aku meletakkan panci yang berisi air diatas kompor, setelah itu aku memasukkan gula,kopi dan teh kemasing-masing gelas dan lalu menuangkan air yang sudah matang kedalam gelas dan meletakkannya dikantor.
Belum hilang rasa letihku,lonceng pertanda masuk telah berbunyi.
Teng, teng, teng.
Ah,capek banget.
"Hai, Nin!"
"Hai Rafi?".
Hari ini, kok lemes sih?,tanya Rafi padaku.
Rafi adalah anak pindahan dari jawa.Ganteng, manis dan bersahaja.Idola teman-temanku disekolah.Buatku,itu biasa-biasa saja.
"Capek, Raf! jawabku.
Ayo kita masuk, hari ini pelajaran matematika?,Rafi menarik tanganku, setengah berlari.
Hal yang seperti inilah, membuat teman-teman disekolah merasa iri padaku, karena bisa dengan Rafi idola anak perempuan.
Akhirnya,aku sampai juga dirumah.
"Assalamulaikum!".
"Walaikum salam.
Baru pulang,Nin!,tanya bibi padaku.
"Iya, bi!".
Cepat ganti baju, makan siang dan cari adekmu Adit.
Adekmu harus tidur siang dan setelah itu bantu kakek diwarung, mereka lagi sibuk. Pekerjaan yang lainnya, biar Kayla yang menyelesaikannya.
Baik, bi?,jawabku. Hari ini aku sangat lelah,dari subuh sampai siang aku belum mengistirahatkan tubuhku. Sekarang aku harus mencari adit. Ya Allah,kuatkan aku menggapai cita-citaku.
Aku pergi mencari Adit, aku tahu Adit tidak berani bermain sangat jauh, paling jauh yah kerumah Sisil. Karena, Adit menyukai Sisil,maklum cinta anak TK.
"Assalamualaikum!"
Walaikum salam. itu Nina yah?
Iya, bu?.
Adit ada, bu?, tanyaku kepada ibunya Sisil.
__ADS_1
Oh, ada?,masuklah, ucap ibunya Sisil.
Terima kasih, ucapku.
"Adit, kita pulang?".Pintaku.
Ngak mau, jawab Adit.
Besok Adit boleh lagi bermain sama Sisil.
Hari ini,Adit tidur siang dulu,yah.
Janji, tanya Adit.
Janji,jawabku saling menautkan jari kelingking.
Ayo, kita pulang.Adit pamitan sama Sisil.
Sisil, aku pulang. Besok kita main lagi,yah.
"Iya.
Sekarang, tubuh Adit bertambah berat. Sangat beda saat pertama kali bertemu sama Adit.
Sudah sampai, ayo Adit masuk.
"Bi!
Ini Adit udah pulang, Nina kewarung yah?, pamitku pada bibi.
Iya, hati-hati.
Aku melebarkan langkahku untuk lebih cepat sampai kewarung,Kakek.Nafasku masih tidak teratur, saat sampai kewarung,kakek.
"Kakek!".
Eh,Nina?,ada yang bisa Nina bantu, kek? tanyaku pada kakek.
"Iya, ada?" ucap kakek.
Ambil gelas diatas meja,lalu bawa kebelakang, setelah itu bersihkan mejanya, baik, kek. Jawabku memungut gelas diatas meja.
"Selamat sore, pak Harun!"
Sore juga,pak?.
Rame, hari ini pak?, tanya salah satu perwira polisi kepada kakek.
Alhamdulillah, ucap kakek.
Mau pesan apa nih,tanya kakek kepada mereka.
"Nin! tolong layani mereka?, panggil kakek Harun dari luar.
Baik, kek? jawabku,lalu aku mengambil kertas dan pulpen.
Aku mendekati meja mereka.
"Selamat sore, pak!".
Mau pesan minuman apa, tanyaku kepada para perwira polisi ini.
"Kok, kita ketuaan banget sampai harus dipanggil, bapak?".
Terus, saya harus panggil apa? tanyaku pada mereka.
"Panggil,saja mas,oke?".
Baiklah.
Kakek Harun, kami boleh kenalan ngak sama cucunya,tanya salah satu perwira polisi.
Boleh, jawab kakek.
Nama kamu siapa?,tanya salah satu perwira polisi yang berkulit putih.
Nina, mas! jawabku
Nina atau hanya Nina
__ADS_1
Nina Pradita Putri, jawabku.
Mas,cukup panggil Nina aja jawabku kesal.
Mas, yang ini mau pesan apa?,tanyaku.
Masa panggil mas yang ini,sih?,tanya dulu dong mas ini namanya siapa?. Rasanya inginku jitak aja kepalanya kalau tidak ingat pepatah. Tamu adalah raja.
Oke, baiklah.
Aku menraik nafas dalam-dalam dan mengeluarnya perlahan-lahan, sebelum melayani tingkah pola orang dewasa yang tidak tahu diri.
Mas namanya siapa?,tanyaku dengan suara yang pelan.
Heru.
"Oh...Mas Heru".
Mas Heru pesannya apa?.tanyaku kepadanya.
Cappucino susu, saya tulis mas,yah.
selanjutnya mas yang disamping mas Heru?, "namanya siapa?",tanyaku lagi.
"Wildan!".
"Mas Wildan pesan apa?",tanyaku lagi.
Jus alpukat.
Lalu yang ditengah, namanya siapa?.
Raska!
"Mas Raska pesan apa?".
Teh es manis.
Yang terakhir, namanya siapa?.
Fahris!
"Mas Fahris pesan apa?",tanyaku
Kopi yang kemarin. Aku sedikit kaget mendengarnya.Aku memandang wajahnya karena kebingungan.
Kopi kemarin, mas Fahris mengulangi lagi pesanannya.
"Iya,oke?",jawabku sangat gugup,karena matanya sangat tajam menatap kearahku dan tubuhnya sangat harum. Parfum apa sih yang di pakai!, bertanyaku dalam hati.
Kakek baru saja membuka warungnya.
Mengapa mas Fahris pesan kopi?".
Kemarin apa maksudnya, yah?, ah buat bingung aja tuh orang.
Fahris hanya tersenyum manis, melihat kebingungan Nina.
"Oh, iya?,minggu kemarin, mas Fahris namu kerumah.
Nina menempelkan telapak tangan didahi setelah mengingat pesanan Fahris.
Setelah selesai membuat minuman.
Nina membawanya kemeja mereka. Minumannya sudah datang.
Aku tersenyum,memperhatikan tingkah laku mereka yang seperti anak kecil. Aku meletakkan minuman mereka dengan mengingat nama-nama mereka.
"Ini cappuccinonya mas Heru,yang ini jus alpukatnya mas Wildan, yang ini teh manisnya mas Raska dan yang ini kopinya mas Fahris.
"Sudah ingat!".
Aku sangat kaget,karena mas Fahris sudah berada dibelakangku, aku hampir saja membentur meja. Dengan cepat, ia merangkul pinggang,sehingga aku masuk dalam pelukkannya.
"Wajahnya sangat tampan, dada bidang ini.Parfumnya sangat harum,aku rasa semua perempuan pasti menyukainya.
Tiba-tiba dadaku terasa sesak, jangan-jangan wajahku sudah memerah.
Mas Fahris,tolong lepaskan pelukkan mu?,ucapku lirih, sambil menundukkan kepala. Karena baru pertama kali ini didekati seorang pria dengan jarak sedekat ini.
__ADS_1
Aku bersyukur,untungnya yang datang hanya mereka, kalau pelanggannya rame, mau disimpan dimana rasa malu ini.