
Acara tujuh bulanan Nina dihadiri banyak tamu undangan, beda saat pertama kali mereka mengadakan acara yang sama sepuluh tahun yang lalu.
Tak ada senyum manis yang diperlihatkan Fahris tatapan tajam dan juga dingin menghiasi sepanjang acara.
Tapi untuk kali ini sangatlah beda. Kebalikan sepuluh tahun dengan lalu.
Keceriaan diwajahnya terlihat jelas, kadang-kadang Fahris mengecup manis perut sang istri, mengelusnya dengan didepan banyak orang.
Ia tidak perduli dengan tanggapan orang lain. Sama saat pesta pernikahannya dengan Nina. Selalu memperhatikannya dengan penuh cinta dan sayang. Gadis mungil yang ia tunggu cukup lama untuk dapat menjadi miliknya seluruhnya.
Ia sangat menjaga sang istri, ini adalah cucu pertama yang sangat dinantikan keluarga besar pak Joko dan Ibu Tarti, pemilik hotel "Palma".
Fahris dan Nina serasi dengan pakaian couple mereka yang berwarna dusty untuk memberitahukan kalau anak yang dikandung Nina berjenis kelamin perempuan.
Dan para undangan couple dresscorde babybule warna favorit kedua orang tua sicalon baby.
Selly bisa melihat kebahagiaan dimata Fahris,wajahnya lebih segar, lebih hidup setelah menikahi kekasih hatinya yang telah lama ia tunggu-tunggu.
Selly menitikkan airmata bahagia, karena tahu betapa hancurnya hidup Fahris selama ini, tertekan dengan pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
__ADS_1
Mengetahui anak yang dikandung istrinya bukanlah anaknya. Diturunkannya jabatannya dengan dalih perpindahan tempat tugas oleh mantan mertuanya, menjadi pelengkap deritanya.
Tapi saat menemukan Nina, ia berubah seratus delapan puluh derajat. Senyum manis tersungging indah dibibirnya.
Lebih banyak menyapa karyawan yang sedang bekerja, memperhatikan kesejahteraan mereka dan lebih peduli.
Itulah Fahris sekarang dimata Selly.Bukan hanya Selly yang lain juga memuji perubahan sikap Fahris.
Nina bahagia bisa melewati pase ini, perkiraan dokter kalau ia tidak bisa bertahan sebelum usia kehamilan tujuh bulan, buktinya ia bisa.
Ia tidak akan melupakan ini, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah padanya. Senyum bahagia dari keluarga, sahabat dan tamu undangan memberinya semangat untuk bisa melahirkan putriku.
Kenangan yang aku berikan untuk orang yang paling aku cinta,yang masih menungguku selama sepuluh tahun dengan keyakinan kalau kami akan bersama kembali.
Hari aku bisa bertahan, besok aku belum tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Aku ingin bermanja dengan seluruh keluargaku, karena aku takut tak ada hari esok untuk bisa melupakan kasih sayang dan cintaku pada mereka.
Aku tahu ia akan sedih ketika kepergianku, setidaknya ada putri kesayangannya yang akan menemani hari-harinya.
"Nak".
__ADS_1
Jaga ayah ketika ibu tidak mampu bertahan. Hibur ayah ketika ia bersedih mengingat ibu. Jaga kehormatan keluarga ketika badai datang. Jadila benteng yang kokoh untuk keluargamu.
"Ada apa?".
"Apakah kamu cemburu pada putrimu, karena akan menjadi sainganmu?", canda Fahris kepada Nina yang sejak dari tadi mengelus perutnya yang besar.
Ia mencebikan bibirnya mendengar kata-kata yang diucapkan Fahris. Fahris mengecup bibirnya karena gemes melihatnya dan menurutnya sangat imut.
Fahris mendapatkan pelototan mata dari Nina, ia malu dilihat banyak orang membuat tawa Fahris pecah.
Semua mata tertuju melihat kearah keduanya, membuat Nina menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan Fahris.
Semua melihat hanya bisa tersenyum manis kearah keduanya.
Mas.
Iya.
Jangan lakukan itu Nina malu,ucapnya dengan masih bertahan dalam pelukkan Fahris.
__ADS_1
Sampai kapan kalian seperti itu,membuat gue panas melihatnya. Nanti saja kalau acaranya udah selesai, baru kalian bermesraan semaunya. Ujar Raska yang gemes melihat keduanya.
Nina hanya bisa yengir merutuki kesalahannya, yang mendapat elusan dari sang mama yang melihat keluguan Nina.