Cinta Pertama (Ku Relakan Dia Untuk Bahagia)

Cinta Pertama (Ku Relakan Dia Untuk Bahagia)
Episode 6 (Berpisah)


__ADS_3

"Aku Kembali"


Hari ini aku bekerja seperti biasanya. Aku belum menemui Nina, karena ia sedang fokus menghadapi ujian akhir nasional.


Aku tidak ingin mengganggunya,karena ini permintaannya sendiri,agar mendapatkan nilai terbaik, untuk agar tidak mempermalukan diriku kelak, begitu polosnya,ia.


Saat pertama aku menemuinya,ia meminta ku untuk tidak sering bertemu,karena ia ingin memberikan nilai terbaik untukku.


Kalau aku bisa mendapatkan medali dan pigam karena menjadi yang terbaik, maka dia juga harus mendapatkan hal yang sama denganku.


Mas harus janji, sama Nina.


"Iya!".


Mas,tidak boleh gangguin Nina, dan tidak boleh kerumah Nina,janji.


"Iya, mas janji".


Janji, yah. Awas saja mas ingkar, ucapnya dengan ekspresi wajah yang mengemaskan.


Ku tengadahkan kepalaku, untuk menahan cairan bening agar tidak jatuh lagi.


Beberapa hari terakhir ini aku menjadi pria cengeng. Sedikit demi sedikit, aku mengumpulkan berkas-berkas untuk kepindahanku.


Hari ini terakhir mas gangguin, Nina.


Oke.


Iya, oke.


Ayo, Nina mau pulang. Candaan itu masih terngiang dikepalaku


Kalau mas ngak tahan bagaimana?",tanyaku mengerjainya.


"Mas!".


Udah gedek, jangan macam-macam. Ucapnya memarahiku,seperti orang tua memarahi anaknya.


"Ayo, Nina mau pulang. Lama kelamaan ada setan yang menggoda diantara, ujar Nina.


"Mas!".


Iya, ada apa?.


Seminggu yang lalu, Nina mimpi aneh deh.


Mimpi,apa?,kok jadinya bisa aneh.


Dalam, mimpi Nina.Mas Fahris jahat banget. Mendorong Nina, masuk kedalam kejurang yang dalam banget.


Nina kaget, untung hanya mimpi bukan kenyataan dan untungnya daerah sekitar sini tidak ada jurang, jadi mas tidak bisa melakukan itu padaku.


Itu berarti,Nina tidak berdoa untuk mas hal yang baik-baik, dengan menarik hidungnya.


"Mas,nakal. Nanti Nina mati tidak bernafas.


Biarin.


Nina.


Maafin mas, tidak lama lagi mimpimu akan menjadi kenyataan.


"Dirumah pak Anton"


Orang yang ditunggu-tunggu datang juga.Semua sudah berkumpul dirumah pak Anton,untuk mendengar cerita Fahris.


Wildan menghubunginya Fahris,untuk mendengar apa yang akan diceritakan Fahris.


"Hai!".


"Apa kabar semuanya?",tanya Fahris, saat ini ia agak pusing karena menghabiskan beberapa kaleng minuman yang bergambar bintang.


Kami semua dalam keadaan sehat.


"Hai!".


Fahris!.


Kamu ngerokok,sejak sejak kapan?",kalau Nina tahu ia akan menceramahimu dua hari dua malam, ucap Heru.


Entah,aku sudah lupa pikiran gue berat banget beberapa hari ini.


"Itu disamping loh apaan, jangan katakan kalau lo balik lagi kayak dulu?",kamu tidak kasihan sama Nina, nasheat Raska.


Lo, pulang bukannya berubah baik, malah balik lagi kayak dulu,Sarkas Wildan.


Aku bahagia saat mereka satu persatu memarahiku, seperti nyanyian ditelingaku untuk menghibur perasaanku yang sudah hancur.

__ADS_1


Hanya beberapa Kaleng bir,kalian mau?,kalau kalian datang kesini aku akan memberikan secara gratis.


Dengan santai, Fahris meneguk bir yang ada di dalam kaleng.


"Fahris...!,teriak pak Anton.


"Apa yang terjadi nak Fahris?", kamu membuat bapak takut, nak.


Air bening yang sejak dari tadi Fahris tahan, akhirnya lolos juga.


"Mengapa tidak pak Anton saja yang menjadi orangtua saya?", ungkap Fahris tak tahan.


Mungkin hidupku tidak akan seperti ini, bahagia walaupun hidup sederhana.


Aku harus mengakhiri hubungan ku dengan Nina,pak.


Harus.Ucap Fahris yang masih menitikkan airmata.


Pak Anton tahu ada beban berat yang menghimpit Fahris, ia tahu dari airmata yang kembali jatuh dari sudut matanya.


Kamu udah gila, Ris?,ucap wildan tidak terima.


Aku,akan lebih gila lagi,kalau Nina ada didekat ku, Wildan.


Fahris,ada apa sebenarnya,


Jangan buat kami penasaran.


Aku dipaksa menikah oleh kedua orangtuaku, Raska.


Semua kaget, Heru sudah naik pitam dibuatnya karena tidak percaya dengan perkataan Fahris.


Kalau kamu sudah menikah,


"mengapa kau memberi harapan pada Nina"?, tanya Heru.


"Tenang, Her?,pinta Wildan".


Fahris, bicaralah dengan tenang, ucap pak Anton.


Aku sangat menyesal pulang kampung halamanku.


Aku menghamili Karenina, wanita yang sudah dijodohkan denganku. Sekarang usia kandungannya sudah dua minggu, "aku harus bagaiman?".


Betapa buruknya diriku, bukan. Aku, minta bantuan pak Anton dan ibu untuk memberi pengertian pada, Nina.


Nafas ku terasa sesak, melihatnya.Aku ingin membuang kenangan Nina dikepalaku.


Aku mohon bantuan kalian, rintih Fahris.Jka aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Nina.


Jadilah benteng untuk Ninaku, agar dia tidak hancur.


Fahris, memutuskan hubungan panggilannya secara sepihak, karena ia tidak mampu lagi untuk berkata-kata.


Tanpa sepengetahuan Fahris.Kakaknya mendengar semua pembicaraan mereka.


Gadis kecilnya,mampu mengubah semua sifat kasar Fahris.Dia, berbicara lembut dengan anak-anakku.


Bermain bersama mereka.Maaf,kakak tidak bisa membantumu. Adikku, sayang.


"Dirumah Pak Anton"


"Assalamualaikum".


"Walaikumsalam".


Nina?, bu Anton tersenyum saat melihat kedatangan Nina.


"Bagaimana ujiannya, Nin?" tanya bu Anton pada Nina.


"Alhamdulillah,baik. Ini hari yang terakhir. Nina jadi dek-dekan menunggu hasil pengumumannya,ucap Nina dengan wajah sumringah.


"Kok sepi,bu?",tanya Nina kepada bu Anton.


Masih keluar,Nin?,jawab bu Anton.


Tumben mas Fahris ikut-ikutan keluar.


"Cari siapa?".


Ngak nyari siapa-siapa, pak.


"Mengapa bapak dan ibu cari Nina?",butuh bantuan,Nina yah. Emangnya ada acara apa, bu.


"Nina!".


Ibu boleh bertanya,ngak.

__ADS_1


Boleh, ibu mau bertanya apa?",ucap Nina dengan lugunya.


Hatiku sudah merasa tidak tenang,mendapat pesan dari Kayla dan bibi, karena bu Anton, memintaku untuk datang kerumahnya.


"Nin,ada apa yah bu Anton cari kamu?",tanya bibi padaku.


"Ngak tahu, bi?",Nina juga bingung malam-malam lagi.


Bibi mau ngizin Nina keluar, seandainya Nina masih lama disana dan ngak boleh sama bu Anton.


Nina nginep yah,bi. tanyaku harap-harap cemas. Kalau tidak boleh besok saja,ucapku lagi.


Jangan..,jangan,Nin. Bibi ngak enak sama bu Anton.


Bibi, Izinkan dan boleh nginep jika kemalaman.


"Iya!,terima kasih, bi.


Nia, sangat menyayangi Nina? karena selalu menurut dan patuh.


Ia tidak pernah melanggar peraturan didalam rumah ini,yang membuat Nia sedih,karena Nina hanya tinggal satu minggu untuk tinggal dirumahnya.


"Nina, ngak boleh sedih, yah?".


"Nin!.


Jika mas Fahris mu pergi bertugas ditempat yang jauh dan tidak bisa kembali lagi Nina mau ngak melupakannya.


"Nina,harus apa?", tanya bu Anton pada ku.


Nina, tetap menunggu, ucapku tegas.


Kalau mas Fahris tidak kuat menunggu, Nina.


"Nina, bersikap bagaimana?".


Nina tidak mengerti,"apa maksud semuanya ini?".


Kalau mas Fahris tidak kuat menunggu,Nina. Nina akan melepaskannya.Kalau mas Fahris tidak menyukai Nina lagi, tidak menyintai Nina lagi.


Nina rela berpisah dengannya. Nina, sudah tidak bisa memendung air matanya,ia sudah mendengar semua penderitaan Fahris,tentang wanita yang sudah mengandung anaknya saat ini.


Aku keluar menuju kamar mas Fahris. Mas buka pintunya, aku tahu kamu ada didalam, mas.


"Tolonglah mas buka pintunya?", Nina, ingin lihat mas Fahris terakhir kalinya.


"Buka pintunya,mas?",Nina mohon,mas.


Fahris membuka pintu kamarnya, Nina langsung menghambur kedalam pelukannya,menangis sekeras-kerasnya.


Fahris sudah tak sanggup membendung air matanya, merengkuh tubuh Nina yang semakin kurus.


"Tubuhmu semakin kecil sayang, jiwamu begitu kuat?, batin Fahris.


Mas,tidak memiliki keberanian untuk berkata jujur padamu.


Nina,tahu semua mas. Ucap Nina dengan linangan airmata.


"Dari mana Nina bisa tahu?" tanya Fahris kaget.


"Dari matamu, mas?",ucap Nina.


"Dari mata,maksudnya?, Fahris sedikit dibuat bingung.


Kamu sudah banyak menangis, sama seperti bapak, saat Nina koma dan hilang kesadaran.


Malam, itu Nina dan Kayla diminta bibi pergi kerumah,bu Anton untuk meminjam buku resep kue.


Nina ngak sengaja mendengar semuanya.Nina, hanya diam saja seolah-olah tidak tahu.


Mas, masih ingat mimpi yang Nina ceritakan? "Fahris, hanya bisa menganggukan kepalanya.


Nina,sudah mempersiapkan diri.


Jadilah orangtua yang terbaik, jangan sakiti dia mas, jangan hancurkan hidupmu mas.


Yang sudah kau jauhi,jangan kau dekati lagi. Kalau memang kita berjodoh, Allah pasti memberikan jalan untuk kita bersatu.


Nina,kembalikan gelang ini pada pemiliknya. Mas izinkan malam ini,Nina memeluk mas Fahris.


Nina ingin tidur dipelukkan mas Fahris. Semoga kau bahagia mas.Itulah malam terakhirku bersama Nina


Setelah kejadian itu, aku tidak pernah melihat Nina.


Dia benar-benar menjauhiku,bukan Nina yang tidak kuat berpisah, tetapi akulah yang tidak mampu melupakannya.


Pernikahanku dengan Karenina juga tidak bertahan lama,ternyata anak yang ia kandung bukanlah anakku.

__ADS_1


Hidupku benar-benar hancur.Hanya satu harapanku, maukah Nina kembali padaku.Kalau kami berjodoh, pertemukanlah kami kembali.


__ADS_2