
Akhirnya aku pulang
Cukup lama, aku meninggalkan kota kelahiranku. Semenjak aku ditugaskan satu tahun yang lalu, itu sebagai persyaratan untuk aku melanjutkan pendidikan. Aku sudah berpamitan pada Nina, dan menceritakan semuanya. Awalnya dia sedih,setelah mendengarkan penjelasanku, ia pun memahaminya.
"Berapa hari lagi, mas pulang?",tanya Nina dengan menyandarkan kepalanya dipundak Fahris.
"Dua hari lagi?",jawabku.
Perlu bantuan, Nina ngak.
Ngak usah!, Nina belajar aja yang rajin. Setelah lulus sekolah, Nina harus melanjutkan tingkat selanjutnya.
Setelah selesai mas lamar,habis itu kita nikah.
"Jadi, nikahnya masih lama?",tanyaku dengan memanyunkan bibirku.
Emangnya mas mau menunggu?,tanyaku lagi.
"Iya!".
Mas kuat tunggu,Nina.
Fahris,agak kaget dengan pertanyaannya Nina yang terakhir."Nina, ngomong apa tadi? "Kemari, sudah pinter mancingin mas, yah? "Kesini kamu, biar mas hamilin,karena sudah berani nantangin,mas.
"Mas udah cukup, Nina geli, nih?".
Kita nikah aja,mas?,setelah Nina lulus sekolah ucap,Nina kepada Fahris.
"Ngak boleh sayang?",tubuh Nina masih kecil dan Fahris menunjuk perut Nina, dan berkata.
Disininya,Nina belum boleh di isi sama dedek bayi.
"Benarkah!"
"Iya!",ucap Fahris disertai dengan anggukkan.
"Kalau gitu, Nina harus menunggu berapa lama?",tanya Nina sedih.
Tiga tahun, jawabku.
"Berarti,mas puasa dong?".
"Nina....! mas cekek kamu,yah?".
Kemari, mas mau ngasih dedek bayi.Beraninya pancing-pancing, mas. Dari jauh Heru, Wildan dan Raska, hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat kelakukan mereka berdua.
***//***//***
"Pulang"
Setelah lama menunggu, jemputan pun datang?
"Udah lama, menunggunya den?",tanya mang udin buru-buru mendekati anak majikannya.
Tidak juga sih mang udin,santai saja. Ucapku.
Mang udin jadi heran, dengan perubahan Fahris.Karena mang udin tahu, watak dan perilakunya Fahris.
Kalau sudah marah, semua barang di hancurkan, kalau terlambat, menjemputnya, ia langsung marah-marah.
"Den Fahris ,berapa lama tinggal disini? ",tanya mang Udin.
Enam bulan,man. Ada beberapa pendidikan yang harus saya selesaikan,setelah itu kembali lagi untuk bertugas.
"Den Fahris sepertinya, bahagia?", ada apa, den?
"Maaf, kalau mamang udin lancang bicaranya".
"Ngak, apa-apa, mang udin?",hanya saja, saya kangen dengan masakkan mama.
Mendengar suara klakson, mobil, Mama Fahris langsung keluar,untuk menyambut putra kesayangannya. Fahris,membuka pintu mobil dan langsung mencium tangan ibunya serta kedua, pipinya yang tak lagi kencang karena usia yang tak lagi muda.
"Mbak Tia!'.
"Apa kabar?", ia juga mencium kedua pipi kakaknya.
Anak-anak, mbak Tia ada dimana!'tanya Fahris yang mencari keberadaan sosok kedua keponakannya.
"itu, diatas?", ujar Tia.
"Riska, Riski, omnya sudah datang, nih?".
Om Fahris...! teriak mereka kegirangan.
Kemari, peluk om?, ucap Fahris merentangkan kedua tangannya.
Jangan lari-lari lagi,nanti keponakan oom jatuh.
"Ma!".
Fahris kok ngak lihat papa, tanya Fahris kepada sang mama.
Papa mu, masih dikantor?, sore, baru pulang.
Ma, Fahris keatas dulu mau mandi, udah bau nih. Ucap Fahris belalu menuju keatas.
"Iya, habis itu kita makan?',Ucap mama bahagia melihat Fahris
"Oke, ma!"
"Ma, Fahris pulang dalam rangka apa?", tanya Tia kepada mamanya sesaat setelah Fahris naik keatas.
__ADS_1
Katany Fahris untuk melanjutkan studi Akademiknya
"Berapa lama, ma?" tanya Tia lagi!
Nanti tanya aja sama adekmu! karena mama juga ngak tahu.
"Ayo, ngomongin Fahris, yah?"
"Ngak!", kakak hanya bertanya, dalam rangka apa Fahris pulang kesini?", tanya Tia.
Pembicaraan mereka terhenti melihat kedatangan papa.
"Assalamualaikum".
Papa?
"Wa'alaikum salam.
Jagoan papa udah pulang.
"Iya, udah kangen sama keluarga,pa.
"Ayo, kita kemeja makan dulu?", ngobrolnya disana aja ucap sang papa.
Fahris,menceritakan mengapa ia harus pulang.
Fahris mendapat surat perintah,untuk melanjutkan akademik pendidikan selama enam bulan untuk menunjang karir Fahris, pa?
"Kalau calon istri, bagaimana, Ris?",tanya sang papa.
Fahris terbatuk kecil, mendengar pertanyaan papanya. Fahris belum mau menikah, kemungkinan tiga tahun lagi, pa.
"itu, kelamaan, Ris?".
"Apa kamu kuat,Ris?", tanya sang mama.
Kali ini Fahris,ngak bisa menahan batuk kecil yang ia tahan, karena perkataan orangtuanya, sehingga ia berlari kewestefel, yang tidak jauh dari meja makan.
Karena ia teringat ucapan yang sama dari kedua orang perempuan yang ia sayangi.
"Fahris, hanya sedikit kaget?, semua tertawa, karena melihat sikap Fahris yang masih kebingungan.
**//**//
"Nina Sakit"
Sudah satu minggu Nina terbaring ditempat tidur, karena sakit. Suhu tubuhnya kadang-kadang panas, kadang-kadang turun.
Nia, jadi bingung.
Dibawa kepuskesmas, Nina tidak mau.
"Iya, bi?",hubungi bi Kia untuk datang kemari.
Esok harinya, orangtua Nina datang.
"Ooh,syukurlah!",mas sama mbak udah datang.
Nina ngak mau dibawa kepuskesmas,mas saya pikir, Nina hanya demam biasa.
Bagaimana kalau siang ini, kita langsung bawa Nina, kerumah sakit?.
"Baiklah,saya ikut saja, mbak?.
"Kayla!
"Yah bi,ada apa?".
Kayla pergi kerumah pak Anton, pinjam mobil.
"Iya, bi?".
Kayla,mengayuh sepedanya sangat kencang, agar lekas sampai dikediaman pak Anton. Sesampainya, didepan rumah dinas pak Anton,Kayla langsung mengetok pintu.
"Tok, tok, tok!
"Assalamualaikum?"
"Walaikum salam?".
"Siapa,yah?", tanya bu Anton.
Saya Kayla keponakannya bu Nia.
"Iya, tunggu!".
"Ada apa, Kay?", tanya bu Anton
Pak Antonnya,ada bu?,tanya Kayla.
"Ada, mau dipanggilin?',tanya bu Anton.
"Iyah!",jawab Kayla dengan anggukkan.
"Kayla masuk dulu deh?",perintah bu Anton.
"Iya bu,terima kasih.
"Pa! ada Kayla didepan.
"Kayla siapa?",tanya pak Anton.
__ADS_1
Kayla keponakannya bu Nia,pak?,ujar bu Anton.
"Iya, tunggu!"
"Ada apa, Kay?",tanya pak Anton.
Pak Anton bisa antarkan Nina kerumah sakit, karena udah satu minggu Nina sakit.
"Bisa-bisa!", tunggu yah bapak ambil kunci mobil.
"Ada apa, pa?", tanya bu Anton, karena melihat suami panik.
"Nina, keponakannya bu Nia sakit, jadi dia minta papa bawa Nina kerumah sakit, jelas bu Anton.
Bawa juga Wildan untuk membantu.
"Iya,ma?".
Papa pergi dulu,ma!.
Raska, siap pak?
"Wildan mana?",tanya pak Anton.
Ada di dalam, jawab Heru.
"Minta dia untuk keluar,baik pak?".
Wildan dicari sama pak Anton.
"Ada apa?",tanya Wildan.
Ngak tahu, jawab Raska.
"Wildan ikut saya, siap pak?".
"Kayla, naik?,perintah pak Anton.
Ngak usah pak, saya pakai sepeda saja.
"Yah, udah hati-hati.
**//**//**//
"Sekarang,Nina sudah dirumah sakit?".
Dia diperiksa secara intensif.
Keluarga pasien Nina?, salah satu perawat memanggil.
Kami semua berdiri. Iya,sus.
Silahkan masuk dokter mau bicara, ucap sang perawat.
"Ayo, mas Haris dan mbak Kia harus masuk.
"Siang, dok?".
Siang, iya duduk?
Ibu dan bapak jangan kaget, yah. Anak bapak dan ibu terserang penyakit types, ususnya sudah mengalami pembengkakan dan terinfeksi, jalan satu-satunya adalah tindakan operasi.
"Orangtua, Nina jadi bingung?", harus nencari pinjaman dimana,terus membayarnya bagaimana? sedangkan kebutuhan sekolah Nina, ia cari sendiri.
"Mas Wildan!",
Nina ada dimana?.
"Hai, Nina udah bangun".
"Memangnya Nina kenapa sih?",tanya Nina bingung.
"Tadi, Nina pingsan!", lalu dilarikan kerumah sakit.
"Mas Wildan, bawa Nina pulang aja?", Nina diobatin dirumah saja.
"Kita tunggu keluarganya Nina, yah?".
"Hmhm!" Mas Wildan,panggil Nina ragu.
"Iya!", ada apa,Nin?,tanya Wildan.
"Nina boleh minta sesuatu ngak, sama Mas Wildan?.
"Boleh?",apa permintaannya?,tanya Wildan.
Tangannya mas Wildan mana?",tanya Nina. Wildan bingung dengan permintaan Nina.
Nina meletakkan tangan Wildan diatas kepalanya.
"Mas Wildan harus janji, mas Fahris tidak boleh tahu keadaan Nina sekarang!".
"Kenapa mas Fahris ngak boleh tahu?',tanya Wildan.
"Nina, mohon mas!, Nina ngak mau mas Fahris terganggu.
"Nina, mohon mas?", pinta Nina dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
"Wildan hanya mampu menganggukan kepalanya tanda setuju,karena ia tidak sanggup melihat Nina menangis.
Ini pertemuan pertama dan terakhir Wildan dengan Nina, karena tidak mempunyai cukup biaya, orangtua Nina membawanya pulang, itu pun mereka tidak mengetahuinya.
__ADS_1