Cinta Pertama (Ku Relakan Dia Untuk Bahagia)

Cinta Pertama (Ku Relakan Dia Untuk Bahagia)
"Hasil Penantian Panjangku"


__ADS_3

Setelah sepuluh tahun berlalu, aku dipertemukan lagi dengan gadis mungilkuku, cinta gadis mungilku, yang kini tumbuh dewasa.


Akhirnya aku bisa bersamanya walau harus menunggu lama. Cintanya padaku tak kelang dimakan waktu.


Dia masih berharap,bisa bersamaku. Aku bersyukur dalam sujudku, karena masih berjodoh dengannya dan sekarang menjadi istrinya.


Pertemuan yang tidak disengaja,membuatku cepat-cepat menyuntingnya.


Sekarang kami sedang menantikan kelahiran anak pertama kami,yang berjenis perempuan sesuai dengan keinginanku.


Membuat ia cemberut padaku dan bibirnya maju beberapa centi, karena semua keinginan ku didengar Tuhan dalam tiap do'aku. Mas menang banyak, aku tidak kebagian. Mas yang lahir duluan tidak ingat sama Nina.


Lihat nih, Nina hanya kebagian tulang-tulang yang sudah dipotong-potong. Dagingnya juga tidak kebagian,semuanya mas yang ambil. Sampai jenis kelamin anak kita,mas juga ikut-ikutan nimbrung.


Ya, Allah.


Dia menang banyak, Nina mengeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum melihat suaminya yang bengong.

__ADS_1


Dokter yang memeriksa kandungan Nina harus menahan tawa melihat kemesraan keduanya.


Ya, Allah. Kamu buat hampir jantungan, sayang. Ucap Fahris yang mengecup wajah Nina saking gemesnya.


"Hahahak...!",Nina tertawa berhasil mengerjai suaminya yang bucin.


Fahris menenggelamkan wajahnya diperut Nina yang mulai membuncit, karena sudah empat bulan tubuhnya lebih berisi dan pipinya yang tirus sekarang berubah cabi.


"Bagaimana dengan keadaan istri dan juga anak kami, dokter?",tanya Fahris setelah duduk dihadapan dokter.


Dari hasil pemeriksaan, semuanya sehat-sehat saja, baik itu ibunya maupun babynya, jelas sang dokter kepada keduanya.


Fahris menatap kearah Nina, ia ingin mendengar kejujuran dari sang istri.


Nina mendonorkan ginjal untuk bapak,mas. Kami belum siap kehilangan bapak. Hanya ginjal Nina yang cocok dengan bapak.Nina tidak tahan melihat ibu menangisi bapak. Kalau Nina mendonorkan ginjal Nina akan mengurangi biaya perawatan bapak,jika menunggu donor dari orang lain,Nina akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.


Jelas Nina, kepada dokter dan suaminya. Fahris meletakkan kepalanya dipangkuan Nina. Nina merasa ada tetesan hangat mengenai telapak tangannya.

__ADS_1


"Maafkan aku, tidak mencarimu?", sehingga kamu berjuang sendiri. Fahris tidak segan mengecup pipi Nina dihadapan siapa pun, karena cintanya sangat besar hanya untuk Ninanya.


"Apakah akan berpengaruh dengan kandungannya, dok?", tanya Fahris yang tidak melepaskan tautan tangannya dan Nina.


Untuk sejauh ini belum ada,pak.Nanti kita lihat bulan berikutnya, yang perlu dilakukan ibu Nina lebih banyak istirahat dan jauhi mengangkat yang berat.


Saran dokter kepada keduanya.Setelah itu dokter memberikan resep obat untuk Nina konsumsi.


Sampai dirumah Fahris benar-benar menumpahkan rasa sedihnya. Peluknya Nina takut akan terpisahkan lagi.


Aku tidak akan kemana-mana, bayi besarku. Sakit ini sudah lama pergi, jangan khawatir.


Tapi aku sangat takut kehilanganmu lagi. Cukup sepuluh tahun kita berpisah. Terpisah jarak dan juga waktu, ucap Fahris memendamkan wajahnya kedalam pangkuan Nina.


Inilah yang ditakutkan Nina, kekhawatiran Fahris yang berlebihan. Cintanya yang membesar membuat Nina menyembunyikan rahasia besar tentang sakitnya.


Nina tidak di izinkan dokter untuk memiliki seorang anak. Itu semua membuat ginjalnya bekerja lebih ekstra. Nina hanya berharap bisa bertahan saat usia kandungnya menginjak bulan ketujuh. Memberikan kenangan terindah selama sisa umurnya yang tak lama lagi.

__ADS_1


Mas.


Aku ngantuk, ucapku manja dengan bergelayut manja dilengan Fahris. Senyum Fahris mengembang, ia membawa Nina dikamar bawah,sejak tahu Nina mengandung, Fahris pindah dikamar bawa demi Nina dan calon anak mereka.


__ADS_2