
Nina duduk berbaris dengan istri-istri lainnya untuk mendampingi suami mereka yang juga naik jabatan seperti mas Fahris.
Perutku yang besar menjadi pusat perhatian semua orang. Tangan mas Fahris terus menggenggam tanganku seperti tak ingin jauh dariku.
Aku kembali melihat wanita dalam mimpiku, berdiri diantara para perwira yang berbaris,tersenyum kearahku dan melambaikan tangannya padaku.
Pakaian yang ia pakai sama denganku dari warna sampai dengan modelnya.Aku seperti melihat duplikat diriku disana.
Fahris heran dengan Nina. "Mengapa ia melihat perwira polisi yang berbaris menjaga keamana?", ia ingin bertanya tapi ragu.
Acara puncak dimulai setelah nama-nama perwira dipanggil untuk naik diatas panggung menerima kenaikan pangkat dan juga jabatan.
Tapi kehadiran mas Fahris lah yang menjadi pusat perhatian para perwira lainnya, karena ia kembali menerima secara hormat jabatan yang pernah ia miliki dulu.
Aku tersenyum haru melihatnya,mama dan papa tidak ikut hanya menyaksikannya dari rumah melalui siaran langsung.
Saat mas Fahris turun dari panggung kebesaran setelah kata sambutan selesai diberikan.
Wanita yang mirip denganku tiba-tiba panik menunjuk kearah pria yang mendekati mas Fahris yang sedang menerima ucapan selamat atas kembalinya jabatannya.
Aku melihat sesuatu yang ia sembunyikan dari dalam jaketnya, aku berusaha melangkah mengimbangi langkah pria yang mendekati mas Fahris.
Aku tersenyum melihat kearah mas Fahris dan mendorong tubuhnya sehingga senjata yang dibawa pria itu tidak melukai mas Fahris.
"Jleb",aku merasakan senjata itu menusuk punggungku. Aku hanya ingin putri dan suamiku selamat, aku merelakan nyawaku untuk kedua malaikatku.
Pengelihatanku mulai kabur saat aku merasa darah membasahi pakaianku dan wajah panik mas Fahris melihat diriku yang tidak bisa bergerak.
__ADS_1
***//***
Nina....
Fahris berteriak melihat senjata tajam menusuk punggung Nina untuk melindungi dirinya.
Darah keluar dari luka tusukan senjata tajam bersamaan hilangnya kesadaran Nina.
Sayang..
Jangan pergi aku mohon, jangan tinggalkan aku lagi.
Aku mohon..
Ya Allah jangan Engkau ambil dia dari sisiku.
Jangan pergi, ucap Fahris tidak peduli lagi dengan pakaiannya yang kotor karena darah yang keluar dari luka tusuk Nina.
Airmata tidak berhenti keluar dari mata Fahris, rasa takut kehilangan menghantuinya.
Tangan Nina yang dingin menambah rasa paniknya, ia merasa ambulance yang membawanya kerumah sakit terasa bergerak pelan, ingin rasanya ia berteriak tetapi tidak mampu bersuara.
Sampai dirumah sakit keluarga sudah menunggu kedatangannya bersama tim dokter.
Mereka meletakkan tubuh Nina diatas bangker tempat tidur rumah sakit dan mendorongnya menuju ruang operasi.
Semua berkumpul didepan pintu kamar operasi menunggu dengan cemas dan khawatir.
__ADS_1
Fahris terdiam rasa takut kehilangan membuatnya tidak mampu berpikir jernih.
Nina tidak akan meninggalkan Fahris lagi kan, ma. Fahris berbicara dengan menggenggam kedua tangan mama Tarti.
Tidak lama salah satu dokter keluar dari ruang operasi.
Kami mencari suami pasien, tanya sang dokter.
Dokter meraup wajahnya kasar dan meminta mereka masuk keruangannya.
"Ada apa dokter?".
"Mengapa dokter membawa kami kemari, seharusnya dokter menyelamatkan istri saya?", ucap Fahris karena khawatir.
Silahkan duduk dulu, saya tahu kalian semua khawatir.
Tapi kami sebagai dokter lebih khawatir lagi,ucap sang dokter.
Lihatlah layar didepan kalian untuk mengetahui kondisi pasien.
Istri bapak hanya mempunyai satu ginjal,tetapi ginjal ini tidak sehat. Jika kami menyelamatkan istri bapak resikonya sangat besar.
Pertama jika kami menyelamatkan istri bapak, ia akan kehilangan anak dan juga rahimnya. Dalam jangka satu minggu bapak harus menemukan pedonor ginjal baru untuk menyelamatkan nyawanya.
Tapi jika tidak bapak juga kehilangan istri bapak. Tetapi jika bapak menyelamatkan anak bapak, ia hanya butuh satu bulan berada diruangan inkubator untuk pemulihan kesehatannya.
Kami memberi waktu lima belas menit untuk seluruh keluarga berpikir dan mengambil keputusan. Ini surat pernyataan untuk ditanda tangani.
__ADS_1
Kalau sudah selesai serahkan kertas ini keperawat yang berada didepan pintu ruang operasi. Ucap dokter sebelum berlalu pergi.