Cinta Pertama (Ku Relakan Dia Untuk Bahagia)

Cinta Pertama (Ku Relakan Dia Untuk Bahagia)
Artami


__ADS_3

Atiya Alishba Artami nama putri kecilku dan Nina. Setelah Nina aku memutuskan merawat putri kecilku tanpa bantuan babysister, karena ada mama dan kak Yuni yang sering membantuku untuk merawatnya.


Artami akan rewel jika disentuh luar dari keluarga. Inilah alasannya aku tidak memakai jasa babysister untuk merawat Artami.


Dua tahun kepergian Nina, Artami adalah pusat kebahagiaanku. Aku melepaskan jabatan penting demi merawat putri sematang wayangku.


Weekend ini semua sahabat ingin berkumpul dirumah, memperingati dua tahun kepergian Nina.


Artami tidak mau lepas dari gendonganku. Menyembunyikan wajahnya diceruk leherku. Malu melihat orang asing yang datang kerumah.


Membuat kakak-kakaknya gemes ingin menoel pipinya yang cabi.Membuatku sangat bahagia ia bisa memanggilku ayah dan Nina bunda dengan menunjuk foto Nina yang sedang hamil besar.


Memakai baju yang kebesaran seorang istri aparat kepolisian,yang terletak didekat tangga menuju kamar.


"Yah..,Nda...?",Artami bertepuk tangan dan mencium fotoku dan Nina.


Yah..


Cup! Artami mengecup pipiku.


Nda...


Cup! Artami mengecup foto Nina.

__ADS_1


Iya, itu bunda, nak. Kembali airmata bahagia keluar dari sudut mata Fahris melihat kegirangan sang putri berhasil memanggil bunda pada Nina, walaupun sang bunda telah tiada.


Aku membawa putriku turun kembali kebawah,untuk memberitahukan semua anggota keluarga kalau putriku sudah bisa bicara.


"Ada apa, kok turun lagi?", tanya mama Tarti melihat Fahris duduk disofa dimana semua orang masih berkumpul.


Apa lagi melihat matanya berkaca-kaca seperti habis menangis.


Artami bisa bicara, ma. Artami bisa memanggilku ayah dan Nina dengan panggilan bunda.


Mama Tarti ikut bahagia mendengarnya.Artami mungkin bingung,matanya berkedip berkali-kali melihat mama Tarti mengeluarkan airmata.


Ti... ngis...


Tangannya yang mungil meraba pipi mama Tarti yang basah.


Mama Tarti memeluk tubuh mungil sang cucu, karena tahu kalau ia sedang menangis. Cucunya yang perasa.


Yah...ngis.. Ti.. ngis. Ia menunjuk arah keduanya yang sedang menangis bahagia. Semua tertawa melihat kelucuan bayi Artami, yang menjadi pusat perhatian keluarga.


"Apakah kamu ada disini, sayang?",aku ingin merasakan kehadiranmu, Fahris merapatkan matanya untuk merasakan sentuhan lembut orang yang dinantinya.


Fahris bisa merasakan harum sang istri dan membuka matanya,melihat Nina bermain dengan Artami yang berada dalam gendongannya.

__ADS_1


Artami yang berceloteh dengan bahasa planetnya bersama bundanya, membuat aku merasa utuh diantara kedua bidadariku.


Entah mengapa melihat cucu dan putranya tertawa bahagia bersama, mami Tarti merasa ada kehadiran Nina disana.


Tak mungkin cucunya berceloteh sendiri kalau tidak ada yang bersamanya.


Nina sayang terima kasih,nak. Walaupun kehadiranmu hanya sesaat tetapi kehadiranmu sangat berarti.


Mengembalikan dia yang hampir tidak bisa mama raih hatinya, menjadikan ia penyayang keluarga dan dia yang selalu ada untuk keluarga.


Setelah lelah bermain Artami tidur dengan tenang dalam dekapan Fahris, senyumnya terukir indah dalam tidurnya.


Lelah setelah bermain dengan bunda, bahagia bisa melihat bunda. Ucap Fahris dengan mengecup dahi Artami sebelum keluar dari kamar menemui para sahabatnya.


"Bagaimana, Artami sudah tidur?",tanya Raska dengan memukul pundak kokoh Fahris.


Sudah. Hari ini ia bermain dengan bundanya,seperti itu setiap memperingati hari kepergian Nina.


Aku bisa melihat dari mata Artami saat melihat foto bundanya. Ia akan tersenyum geli seolah-olah dia bisa melihat bundanya dan mengajaknya bermain. Ungkap Wildan, yang memahami tatapan mata Artami.


"Apakah kasus Nina ada perkembangan?", tanya pak Anton kepada Fahris saat mereka semua berkumpul.


Sudah.

__ADS_1


Masa laluku yang membuat Ninaku harus pergi bukan sakitnya yang Nina harus pergi.


Airmata itu kembali meleleh dari sudut mata Fahris. Menyesal tidak bisa berpisah secara baik-baik yang akhirnya menimbulkan dendam.


__ADS_2