
Aku dengan terpaksa membubuhkan tanda tanganku diatas surat pernyataan. Memilih putriku untuk diselamatkan.
Mengingat pesan Nina didalam candaannya.Separuh jiwaku telah pergi setelah alat penompang hidupnya dilepas dari tubuhnya.
Wajah itu berseri saat akan dikafan, kembali mataku berembun saat dirinya dimasukkan kedalam liang lahat. Meninggalkan diriku dan putri kami didalam inkubator rumah sakit.
Nina Pradipta Putri, gadis mungil yang ku cintai saat berseragam putih biru.
Sangat mungil dan tetap menjadi mungil bagiku. Senyumnya selalu terukir dibibirnya yang mungil, walaupun didalam kepedihan.
Dia tidak pernah mengeluh disaat teman-teman usianya bisa bermain dan berjalan-jalan.
Ia sibuk bekerja untuk mendapatkan sedikit rupiah untuk biaya hidup dan pendidikannya,karena ekonomi keluarganya yang tidak mampu membiayai pendidikannya.
Kalau gadis lain memiliki jari-jari tangannya halus dan mulus, dia berbeda. Jarinya terasa kasar karena banyaknya pekerjaan yang harus ia kerjakan sebelum belajar.
Ia mengungkapkan kesedihannya lewat untaian doa,mengadu dan bercerita meminta ketegaran dalam setiap derita yang akan dilaluinya.
Ia tidak pernah mengeluh, mengapa ia dilahirkan dari keluarga yang tidak berkecukupan.
__ADS_1
Ia selalu mengucapkan syukur,karena dibalik deritanya sang pencipta telah menyiapkan sesuatu yang istimewa untuknya.
Ninaku berbeda, walaupun ada nama yang sama tidak akan sama dengan Ninaku.
Ninaku pergi kepangkuan ilahi, tempat dimana ia seharusnya kembali. Tugasnya didunia ini sudah selesai.
Meninggalkanku seorang diri memikul beban berat membesarkan putri kami seorang diri bersama kenanganya yang tidak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidupku.
Kenangan darinya untukku dan juga keluarga yang harus dijaga. Ia benar putriku lebih mirip diriku, hanya satu yang mirip dengan Ninaku lesung pipinya dan warna bibirnya.
Bibir itu yang selalu menjadi canduku untuk selalu mengecupnya. Kadang-kadang membuatnya jengkel jika aku tidak tahu tempat mengecapnya.
"Mas".
He..he.. he.. he..
Aku hanya terkekeh mendengar protesnya, yang tidak terima kalau bibirnya selalu aku jadikan sasaran keisenganku.
Dek.
__ADS_1
Kalau nanti keluar dari perut bunda,jangan kayak ayah. Suka nyosor, nanti pasanganmu ilfil,dek. Bisa-bisa ia juga marah kayak bunda sama ayah.
Mengingat itu kembali airmatanya meleleh jatuh diatas pusaran Nisan sang istri, dengan terisak ia mengecup lama rasanya tak ingin meninggalkannya.
Aku mengikhlaskanmu, sayang.Tapi izinkan aku tetap merindu dan mencintamu. Sama seperti dulu,tunggu aku dipintu surga.
Saat berdiri Fahris merasa sekelilingnya berputar, ketika ingin melangkah tubuhnya sempoyongan dengan cepat Raska menahan tubuh agar tidak jatuh mencium tanah.
Terima kasih Raska, gue udah tidak sanggup berjalan, ucapnya lemah.
Jangan biarkan dirimu larut dalam kesedihan,pikirkan putrimu. Jika dirimu selemah ini, dengan siapa ia harus berlindung.
Kembali Fahris menitikkan airmata mendengar nasehat dari sahabatnya, memeluk erat tubuh Raska untuk menguatkan dirinya.
Terimakasih, kamu, Heru, Wildan,pak Anton dan istrinya selalu ada untukku dan Nina. Kalian yang menjadi saksi pasang surutnya hubungan kami berdua.
Dia selalu bersamamu Fahris, tidak jauh. Rasakan keberadaannya melalui untaian doamu,ucap Raska mengusap punggung Fahris yang kokoh.
Jadilah sosok yang kuat, kami mendukungnya. Kami akan datang melihat putri kalian agar ia tidak merasa kalau ia sendirian.
__ADS_1
Putrimu punya ibu. Kami yang akan menjadi ibunya. Ucap istri Raska, Heru dan juga Wildan.
Aku bahagia mempunyai sahabat seperti mereka, demi Nina aku harus membuktikan bahwa aku bisa membesarkan putriku.