Cinta Pertama (Ku Relakan Dia Untuk Bahagia)

Cinta Pertama (Ku Relakan Dia Untuk Bahagia)
Penyakit Nina


__ADS_3

Nina bahagia masih bisa bertahan diusia kehamilan tujuh bulan. Dirumah orang-orangan sibuk menyiapkan tujuh bulananku. Mama, papa, mbak Yuni serta keluarga besar tidak mengizinkan aku untuk membantu bekerja.


Kalau sampai ketahuan, bapak itu akan memarahi semua orang. Sudah saya katakan, pada kalian semua,sembunyikan sesuatu yang membuat istriku ingin beraktifitas yang berlebihan, ucapnya memarahi semua orang.


Aku duduk disofa menghitung orang yang wara-wiri yang sibuk mempersiapkan acara selamatan tujuh bulanan kandunganmu.


Aku dikejutkan dengan kedatangan pak Anton dan istrinya.


"Assalamualaikum,bumil?" ucap bu Anton, yang membuatku tidak menyangka bukan hanya bu Anton, mas Heru,mas Raska, dan mas Wildan juga datang.


Semua membawa beserta istri dan juga anaknya, aku hampir saja meloncat kegirangan, setelah melihat pelototan mata dari mas Fahris.


Membuat semua menoleh kearah pintu. Sudah berdiri seorang pria yang berdiri gagah dengan memperlihatkan kekuasaannya sebagai pimpin.


Semua tertawa melihat aku mencebikan bibirku, kecewa dan juga segan serta patuh. Melihat ia melotot dengan sangarnya membuat nyaliku menciut.


Al hasil aku hanya berdiri memeluk mereka yang datang dan duduk lagi.


Apa kabar, pak, bu?" tanya Fahris tak lupa mencium punggung tangan pak Anton dan istrinya.

__ADS_1


"Alhamdulillah", kami masih diberikan kesehatan,nak?", ucap pak Anton.


"Halo, bro?", masih tokcer Nina bisa lo isi juga, ujar Wildan dengan tersenyum.


Dulu sangat kecil banget, gue sampai mikir kalau nikah sama gue dulu, "apakah bisa masuk?",ucap Fahris mengelus rambut Nina yang panjang.


Sekarang semenjak hamil lebih berisi, sahut bu Anton. Jadi imut, ngak cocok jadi bumil. Terima kasih, bisa memberi ibu dan bapak cucu,ucap bu Anton dengan mata berkaca-kaca karena bahagia. Sehat-sehat,nduk?",kalau Fahris melarang ini dan itu patuhi, itu semua demi kamu dan dedeknya.


Iya, Nina akan turuti semuanya. Nina tidak mau mas Fahris kepikiran juga.Obrolan mereka pindah dimeja makan, untuk makan siang bersama.


Kelucuan anak-anak memenuhi rumah Fahris dan Nina.Terasa indah dalam kebersamaan. Obrolan para laki-laki pindah kehalaman belakang.


Sepertinya ada sesuatu yang kamu giliran,Ris!",tebak Heru.


Kali ini aku sangat takut kehilangan dirinya,ucap Fahris menghapus airmatanya.


Nina sakit apa,Fahris?", tanya pak Anton tak percaya.


Ginjal. ucap Fahris dengan merapatkan matanya, airmata keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


"Bagaimana kamu tahu?",tanya Raska yang masih tidak percaya.


Dia mendonorkan ginjalnya untuk bapak, hanya ginjal Nina yang cocok untuk di donorkan. Itu dilakukan untuk menekan biaya pengobatan rumah sakit.


Aku baru mengetahuinya saat kandungan Nina masuk usia empat bulan.


Saat usia kandungnya memasuki usia tujuh bulan, aku sering melihat ia sering kelelahan. Aku diam saja dan tidak menanyainya, menyimpannya dalam hati, aku takut Nina pergi meninggalkanku dan itu pasti tidak kembali.


Aku harus, apa?",tanya Fahris kepada mereka.


Apakah kamu sudah bertanya kepada mertuamu?,tanya Heru.


Sudah dan mereka mengirimkan hasil medis, dokter juga sudah mengecek keaslian laporan kesehatan Nina.


Nina belum di izinkan untuk mengandung selama lima tahun sebelum pengobatannya selesai, karena kalau ia sampai ia mengandung ia harus menghentikannya.


Kalau sampai ia melanjutkannya, ia akan mengalami keguguran atau bayinya akan lahir cacat.


Menurut ibu, banyak pria yang melamarnya, setelah tahu penyakit yang di derita Nina, semua mundur tak sanggup membiayai pengobatannya,jika kelak menjadi istrinya.

__ADS_1


Hanya pernah ia berkata pada ibu, akan ada seorang yang menantinya, airmata adalah bukti cintanya padaku.


Kita akan menjaganya bersama-sama,jangan perlihatkan wajah sedihmu dihadapannya, ucap bu Anton memberi dukungan.


__ADS_2