
Dering panggilan telpon sudah berhenti ketika Dodi sampai di caffe. Dodi memesan kopi kemudian mencari tempat duduk dan menelpon balik Fatma.
"Halo mas... hmm.. sibuk ya?"
Dodi terdiam beberapa saat, kemudian mulai berkata," gak kok sayang. ini lagi di caffe sama temen. lagi ngopi, tadi masih ke toilet gak bawa hp. Sayang lagi apa?"
Biasanya Fatma pulang ke rumah orang tuanya ketika libur. Begitupun hari ini. Rumah Fatma dan Dodi berjarak 2 KM, hanya beda desa dalam 1 kecamatan.
"lagi dengerin bapakku sama bapaknya Mas ngobrol. Bapak mas ada disini, cerita kalo Mas sebenernya pesiar, tapi mau main ke rumah temennya. makanya aku telpon. aku boleh susul kesana? aku kangen sama Mas"
Mendengar kata kata Fatma, Dodi terkejut dan tidak sengaja menumpahkan kopi yang baru dia pesan.
"hmm... disini cowok semua. nanti sayang gak enak sendiri. bulan depan aja pulang, kita ketemuan."
Dodi semakin bingung dengan perasaannya, jelas Fatma ada di hatinya. Lantas, sebenernya apa yang dia rasakan kepada Ayu.
Rasanya Dodi tidak bisa memilih satu diantara keduanya. Dalam hatinya, "Bolehkah bila kumiliki keduanya. Aku menginginkan keduanya."
__ADS_1
"Sayang, gak apa kan? Sayang sabar dulu ya, nanti selesai pendidikan ini kita bisa merencanakan pernikahan."
Rayuan ini selalu diucapkan Dodi pada saat Fatma hampir marah. Dan benar saja, Senyum Fatma terukir indah dalam sekejap.
"Iya mas. Aku pasti selalu nurut sama mas."
30 meniy berlalu, Dodi merasa percakapan ini sangat membosankan dan ingin mengakhiri. Namun Fatma selalu menemukan topik baru untuk diperbincangkan, seolah tak ingin menutup telponnya.
Sementar di kamar hotel, Ayu bingung apa yang harus dilakukan. Saat Ayu hendak memejamkan mata, Ayu takut Dodi kembali dan melakukan khilaf. Ayu membuka ponselnya dan mulai melihat akun media sosilanya. Ayu menemukan foto Yayan dan Nia di beranda akun media sosialnya. Disana tertulis, "Belajar bersama si kecil."
Dahulu sebelum Ayu berpacaran dengan Dodi, Yayan selalu disampingnya, bahkan kebersamaannya terlihat lebih dari sekedar pacar. Ayu sedikit merasa kehilangan perhatian, kasih sayang, dan perlindungan dati Yayan.
Ketika Ayu sedang serius stalking media sosialjya Yayan, pintu terbuka dan Dodi kembali ke kamar dengan membawa beberapa makanan dan minuman.
Dodi menatap Ayu yang sedang terkejut seolah Ayu kepergok berselingkuh. Ayu memalingkan wajahnya dan segera mengunci layar ponselnya.
"Adek kok belum tidur, ada masalah kah?"
__ADS_1
Dalam hati Ayu, " masalahnya ya kakak, aku pasti gila mau mengikuti kakak masuk hotel."
"hmm, gak apa kak. cuma belum bisa tidur aja."
Dodi menaruh makanannya di meja, kemudian medekati Ayu kemudian mengelus kepala Ayy dengan lembut.
"Adek, kakak sayang banget sama adek. gak ada yang lain di hati kakak selain adek. jangan tinggalin kakak ya."
Ayu beranjak dari tempat tidur dan menuju meja, melihat makanan yang dibawa Dodi dan meraihnya dari meja. Seolah Ayu tidak bereaksi dengan kata kata Dodi. Padahal dalam hatinya, Ayu begitu tersentuh dengan kata kata Dodi.
"hmm... iya sama kak."
Ayu gugup menanggapi perkataan Dodi. Ayy berusaha menjauh dari dodi agar tidak terjadi sesuatu. Ayu duduk di sofa violet sambil memakan makanan yang dibawa dodi. Wajahnya terlihat canggung, Pipinya memerah dan salah tingkah.
Dodi menyadari tingkah laku dan ekspresi Ayu mendekati Ayu duduk di sofa. Dodi memegang dagu Ayu kemudian mengecup kening dan pipi Ayu. Dodi mengulang perkataan sebelumnya. "Kakak gak akan memakan adek malam ini. Adek gak usah takut."
Ekspresi Ayu semakin aneh. Detak jantungnya semakin cepat. Dan nafasnya semakin tidak teratur.
__ADS_1