
Ayu memasukkan kembali uang ke dalam amplop. Ayu baru saja menyadari ada Yayan yang melihatnya. Kemudian Yayan berbalik dan keluar dari kelas. Wajahnya terlihat muram, tatapan matanya tajam sehingga teman sekelas lain tidak ada yang berani menyapa.
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Saat itu Ayu bersiap pulang. Sebelum pulang ke asrama, Ayu mengirimkan pesan singkat untuk Dodi.
"Kakak, apakah uang di dalam amplop ini juga dikirimkan ke Ibu sama Bapak? Rencananya malam ini aku pesiar mau kirim paket sekalian belanja."
Pesan singkat Ayu tidak segera dibalas, kemudian Ayu keluar kelas melewati lorong sekolah untuk pulang ke Asrama.
Ayu melamum sepanjang lorong, setiap mengingat adegan ciuman tadi, jantungnya berdegup sangat kencang.
Tanpa sadar Ayu melewati sekelompok orang berpakaian doreng yang sedang membersihkan taman di sekolah. Iya, itu kakak kakak Caba.
Ayu melihat Dodi, Dodi menatap tajam ke arah Ayu. Muka Ayu memerah kemudian segera bergegas menuju Asrama.
Teman teman Dodi sudah mengetahui bahwa Dodi berpacaran dengan Ayu. Yang paling dekat bernama Abdul.
"Dod, kamu serius sama Ayu? Dia terlalu baik untuk disakiti. kalau kamu mau senang senang disini, carilah yang lain." Abdul tahu temannya tidak mungkin serius dengan Ayu, Dodi sudah memiliki tunangan dari dia kecil.
Dodi sedikit emosi, "diam kamu, ini urusanku."
Sebelumnya Abdul lah yang memberitahu Dodi, bahwa ada Siswi farmasi yang selalu memperhatikan Dodi. Sebenarnya Abdul sendiri tertarik dengan Ayu, awalnya Abdul kira, dialah yang diperhatikan Ayu. Tapi kemudian Abdul menyadari, Ayu tertarik sama Dodi, bukan dia.
Nasihat Abdul berlanjut di dalam Asrama Caba, " Dod, tolong jangan sakiti Ayu, atau kamu menjadi musuhku."
__ADS_1
Dodi kaget mendengar kata kata teman dekatnya itu. Kemudian Dodi beranjak dari duduknya mendekati Abdul.
"Apa maksudmu? Apa dia adikmu?"
"tidak...tidak... tapi aku merasa dia bukan orang yang tepat untuk disakiti." Abdul menutupi perasaanya dengan rapi.
"Abdul, aku mencintai Ayu, aku sedang memikirkan jalan terbaik untuk bersatu selamanya dengan Ayu. Makanya aku meminta Ayu untuk mengirim paket ke rumah atas nama dia."
"Lalu, bagaimana bila orangtuamu tetap tidak bisa memutuskan pertunanganmu? Siapa yang kamu pilih?" Abdul berharap Dodi menjawab memilih Ayu karena tidak ingin melihat Ayu terluka.
"Aku pilih Fatma, bagaimanapun dia tunanganku, aku tidak bisa melukai orangtuaku."
Jawaban Dodi membuat Abdul emosi, Abdul Dodi dan memukul wajah Dodi hingga tesungkur jatuh. Dodi kaget dengan reaksi Abdul, tidak pernah menyangka bahwa Abduk memukul wajahnya.
Teman teman Dodi yang lain berusaha memisahkan agar Dodi tidak membalas pukulan Abdul dan Abdul tidak memukul Dodi lagi.
"Abdul... kamu yang memulai. Akan aku balas suatu saat."
Keributan di Asrama malam itu tidak diketahui Bingsis, tidak ada yang berani melaporkan atau mereka semua akan dihukum.
Pukul 23.00, Dodi menyadari belum membalas pesan singkat Ayu, sedangkan Ayu sudah mengirimkan paket untuk orang tua Dodi beserta uang 500ribu di dalamnya.
Nama pengirimnya pun disamarkan oleh Ayu, hanya menulis inisial D.A, maksudnya Dodi Ayu.
__ADS_1
Dodi menelepon Ayu. Ayu yang sudah tidur terbangun getar ponselnya.
"Halo kakak." Suaranya serak khas bangun tidur.
"maaf kakak membangunkan adek, kakak baru baca pesan adek. jadinya gimana tadi dek?"
"ohh...udah aku kirim kak, uangnya tak masukin paket. Pengirimnya hanya aku kasih inisial. Rasanya gak pantes kalo aku tulis nama aku."
Sambil Ayu beranjak dari tempat tidur menuju ruang makan agar tidak mengganggu yang lain tidur.
"Adek, sebenernya uangnya buat Adek. Tapi gak apa, nanti kalo bisa jalan bareng lagi kakak beliin apa yang adek mau."
"Tapi aku maunya kakak aja gimana? boleh gak?" Jawab Ayu dengan genit.
Dodi "..."
"kok diem kak, gak mau ya?"
"Iya boleh, kakak buat Adek aja. Nanti kita berjuang bersama ya."
Dodi memang masih merahasiakan tentang statusnya yang telah bertunangan.
mendengar kata kata berjuang Ayu merasa bingung, kenapa harus berjuang?
__ADS_1