
Lulus sarjana farmasi, Ayu melanjutkan mengambil profesi apoteker.Kini telah berjalan hampir 1 semester. Butuh waktu 6 bulan lagi hingga pengambillan sumpah profesi. Setelah kabar menyakitkan mengenai pernikahan Dodi dengan tunangannya, Ayu lebih banyak murung. Sudah tidak akan ada lagi harapan untuknya kembali dengan cinta pertama.
4 tahun lebih Ayu lewati sendiri, tanpa keinginan membuka hati. Selama itu pula Ayu lost contact dengan Dodi, bukan Ayu yang menutup diri, namun Dodi yang enggan menghubungi Ayu karena takut semakin menyakiti keduanya. Dodi lebih sering meminta Abdul yang menanyakan kabar dan kegiatan ayu, bahkan vidio call tanpa menampakkan dirinya, Ayu tidak pernah curiga karena Abdul pun beberapa kali memintanya menjadi kekasih. Tidak mungkin Abdul menghubunginya karena Dodi.
Sejujurnya Dodi masih berat melepaskan Ayu, namun ia tetap tidak bisa memilih Ayu karena Dodi tidak pernah bisa meninggalkan Fatma karena telah mengambil kperawanannya. Dodi mencintai Ayu dan menyayangi
Fatma, itu faktanya.
Disisi lain, Ayu pun sulit membuka hati kembali. Ayu masih terbayang masa lalu. Dia takut ketika mempunyai keberanian kembali untuk memulai suatu hubungan akan kembali dikecewakan. Perasaan Ayu untuk Dodi masih
sama meskipun telah dibohongi dan disakiti. Kenyataannya 4 tahun lalu, bukan Ayu yang akhirnya memutuskan Dodi, namun Dodi yang akhirnya memutuskan hubungannya dengan Ayu karena memilih Fatma. Ayu semakin kecewa, dia yang dibohongi namun dia pula yang diputuskan.
Ayu tengah duduk di salah satu bangku di jalan Malioboro, sejenak melepas stres sambil menikmati orang berlalu lalang. Ketika fikirannya jauh mengingat masa lalu, ponselnya berdering, nama Yayan muncul di layar ponselnya.
Ayu: “Assalamualaikum Yan”
Yayan : “Walaikum salam cantik. Gak lagi sibuk kan?”
Ayu: “Enggak, kenapa Yan?”
Yayan: “Aku sama Niluh hari Kamis minggu depan mau pengambilan sumpah. Kamu bisa ke Surabaya kah? Naik pesawat aja biar gak capek, nanti aku kirim tiketnya.”
Ayu: “Harus ya?”
Yayan : “Iya dong, ada yang penting soalnya, sekalian mau bahas sama kamu. Kamis sorenya Niluh juga tunangan, emang kamu belum dikabari? Gak pengen
datang?”
Ayu: “Ohh..iya, aku hampir lupa. Oke deh, Rabu aku berangkat, naik kereta aja. Ntar jemput ya di
Stasiun.”
Yayan : “Oke cantik. Sampai ketemu. Assalamualaikum.”
__ADS_1
Ayu : “Walaikum salam jelek.”
Disaat yang sama di kota berbeda, Yayan tersenyum menyiapkan kejutan untuk perempuan yang dicintainya. Laki laki bertubuh bongsor tersebut menghias kotak bludru warna merah bentuk hati dengan pita.
Yayan telah mengantongi restu orang tua Ayu dan orang tuanya. Dia bersiap melamar Ayu, kemudian melaksanakan pendidikan militernya. Semenjak Ayu jatuh hati dengan Dodi, Yayan bertekad menjadi prajurit perwira karir, berharap suatu saat Ayu akan luluh. Kini cita cita dadakannya akan segera terwujud setelah lolos berbagai macam seleksi penerimaan Perwira Karir Angkatan Laut. Yang ini Ayu juga belum tahu, Yayan merahasiakan sebagai salah satu kejutannya.
***
Hari Rabu yang ditunggu Yayan telah datang, dengan wajah sumringah ia menyambut Ayu di stasiun. Yayan terkejut melihat perubahan Ayu yang semakin terlihat cantik dengan hijabnya. Yayan lama tidak melakukan
facetime dengan Ayu hingga tidak mengetahui Ayu telah berhijab.
“Assalamualaikum cantik. Tambah cantik nih bidadari surgaku.”
“Walaikum salam Yan. Cantik dong, kan cewek. Eh,btw sejak kapan aku jadi bidadari surgamu? Kebanyakan halu nih orang.”
Yayan hanya tersenyum mendengar Ayu.
“Ini kerumah kamu Yan? Atau ke tempat Niluh?”
“Ke tempat Niluh aja ya, rumahku kedatangan tamu penting banget. Gak enak kalo kamu ikut aku ke rumah. “
“Tumben, biasanya Tante Toni langsung ngambek kalo aku gak mampir rumah kamu dulu setelah sampe sini. Wajib katanya ke rumah kamu dulu. Yaudah, ayok.”
Mereka bercerita tanpa henti sepanjang perjalanan. Tak terasa sampai di depan rumah Niluh. Sebelum turun dari mobil, Yayan menydorkan papper bag ke Ayu, Ayu menerima kemudian melihat isinya.
“Itu seragaman sama keluargaku besok. Biar sama kaya mama dan Yani. Besok dijemput Papa sama mama jam 7 ya. Niluh berangkat sama aku jam setengah 6. See you cantik.”
“Oke jelek, makasih ya. “
***
Keesokannya, Ayu telah bersiap memakai kebaya lengan panjang warna salem setelah drama memilih hijab. Ia tidak membawa hijan yang sesuai, akhirnya memilih warna coklat tua senada dengan bawahannya.
“ Assalamualaikum Om, Tante. Apa kabar?”
“Walaikum salam sayang, alhamdulillah om sama tante sehat. Yuk berangkat.”
__ADS_1
Acara demi acara telah dilalui selama proses pengucapan sumpah. Hingga akhirnya selesai acara, Yayan, keluarganya dan Niluh beserta calon tunangannya kembali ke rumah Yayan dengan 2 mobil yang berbeda. Ayu tidak curiga apapun karena hari ini hari bahagis, pasti ada perayaan makan makan di rumah Yayan.
Sesampainya di rumah Yayan, Ayu turun digandeng mama Yayan. Tubuh Ayu menegang ketika memasuki rumah disambut kedua orangtuanya dengan senyum sumringah. Belum selesai keterkejutannya, Yayan mendekat dan menggenggam tangannya menuju ruang keluarga yang sudah dihias cantik. Banyak bunga mawar merah menghiasi ruangan, ada pula tulisan “Will you marry me Ayy?”
Yayan mendudukkan Ayu di kursi kemudian ia mengeluarkan kotak bludru warna merah yang sudah ia hias beberapa hari yang lalu dan menyerahkan kepada Ayu. Ayu speechless, hanya meneteskan air mata haru. Ayu
menerima dan membuka kotak tersebut, ia langsung menutup mulutnya dengan tangan
karena terkejut. Yayan kembali menggenggam tangan Ayu.
“Ayy, selama aku mengenalmu 7,5 tahun, dari awal hingga saat ini, aku tak mampu menghilanghkan perasaanku untukmu. Aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu. Aku ingin melindungimu sepanjang sisa umurku sebagai
istriku, ibu dari anak anakku kelak. Aku tahu kamu belum memiliki perasaan cinta untukku, namun beri aku kesempatan untuk membuatmu mencintaiku dengan caraku. Bukankah untuk seorang wanita lebuh
baik dicintai daripada dicintai?”
“Ayy, aku sudah meyakinkan hatiku. Dan aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersamamu, jadi maukah kamu menjadi istriku? “
“Aa aku...” Ayu tergagap sambil melihat kedua orangtuanya meminta bantuan.
“Ayah sudah tahu semuanya nak, Yayan sebenarnya sering main ke rumah. Seandainya kamu setuju, ayah juga merestui kalian,ayah yakin Yayan bisa membahagiakan dan melindungimu. Ayah dan papa Yayan bersahabat dari dulu. Sekarang pilihan ada di kamu.”
“Ayooo terima aja mbak.” Kata Yani.
Niluh mendekat sambil membisikkan di telinga Ayu, “Saatnya membuka hatimu, sahabatku. Berbahagialah.”
Ayu bangkit memeluk Niluh sambil menangis. Sungguh ia
bingung harus bagaimana, namun ia tidak ingin membuat kecewa kedua orangtuanya.
__ADS_1
Ayu melepaskan pelukannya pada Niluh, kemudian mendekat ke Yayan.
“Bismillah...Iya...aku...bersedia menjadi istrimu.”