
"Selamat Pagi Nona Akira,"
"Selamat Pagi Mbak,"
Zea Akira Rudolf anak tunggal dari keluarga kaya yang tidak suka menggantungkan hidupnya pada nama belakang nya.
Nama Akira Rudolf cukup terkenal dikalangan pengusaha karena dirinya dikenal sebagai sosok yang tidak pernah ikut dalam semua urusan yang menyangkut bisnis keluarga nya.
Sebagai calon pewaris tunggal sosok Akira Rudolf masih enggan untuk ikut campur dalam urusan bisnis keluarga, dirinya lebih memilih bekerja sebagai manager artis dan menyembunyikan identitas siapa dirinya yang sebenarnya.
"Tuan besar dan Nyonya besar sudah menunggu untuk sarapan, Nona," Kata pelayan pribadi nya mengingatkan.
Akira tersenyum.
"Sebentar lagi Mbak," Kata Akira yang masih sibuk mencatok rambut panjangnya.
"Biar saya bantu, Non,"
"Gak usah, bentar lagi juga selesai kok."
"Mbak hari ini bagian beresin apartemen kan? Jadi Mbak siapin tenaga aja buat nanti." Kata Akira sedikit tertawa.
Sebagai seorang anak tunggal dari keluarga kaya tidak heran jika Akira mendapat fasilitas mewah untuk menopang hidup nya.
Salah satunya apartemen mewah yang cukup sering menjadi tempat nya menghabiskan waktu, Akira akan pulang ke rumah 1x dalam seminggu.
Emang separah apa apartment Nona Akira?
Akira yang sebelumnya telah meminta kepada kedua orang tua nya untuk hidup mandiri langsung di tolak.
Karena khawatir terjadi sesuatu yang buruk jadi mau tidak mau dirinya harus menerima tawaran pelayan pribadi yang sudah ditentukan oleh sang ibu.
"Mbak nanti sekalian pesan bunga buat di sana yah, yang kemaren udah pada layu."
Pelayan itu mengangguk paham.
Orang terdekat Akira pasti tahu betul jika Nona muda yang satu sangat menyukai tanaman.
"Bunga yang di apartment kenapa cepet layu yah, Mbak?"
"Padahal masih belum lama loh."
Akira yang sudah siap untuk sarapan berjalan menuruni tangga sambil sedikit curhat pada pelayan nya.
__ADS_1
"Mungkin pengaruh suhu ruang, Non."
"Mau Bunda cariin orang yang paham buat ngerti penataan ruangan?"
"Atau mau pindah apartment?"
Akira yang baru saja duduk di meja makan langsung menggelengkan kepalanya.
"Gak gitu Bunda,,"
"Akira cuman sedikit curhat aja sama Mbak ini kok malah manjang kemana-mana, pake acara bilang pindah apartment segala."
"Yah lama-lama istri Ayah jadi hiperbola !!"
"Haha itu Bunda kamu, sayang." Jawab sang Ayah tertawa.
"Loh emang salah ya kalo Bunda pengen anak gadisnya nyaman gitu lagian masih ada beberapa unit lagi apartment kita yang masih kosong, iya kan Yah?"
"Mulai lagi mulai." Kata Akira malas.
"Mbak, Bunda sombong ya ngomongin properti Mulu." Bisik Akira pada si pelayan.
Si pelayan tersenyum kecil.
"Ya kita makan dinner santai aja gak usah yang formal, gimana Nak?"
Deg
Akira yang baru memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya langsung berhenti mengunyah.
Salah satu permintaan yang sulit bagi Akira adalah membawa sang kekasih untuk berkenalan dengan orang tua nya.
Menjalin hubungan secara tertutup dari banyak orang sangat sangat menyiksa.
"Akira, Ayah ngomong loh kok malah diem sih." Tegur sang Bunda.
"Umm ya Bunda,,"
Gimana cara nya ya supaya keinginan Ayah sama Bunda bisa aku wujudin?
"Dalam waktu dekat, Yah."
Dengan cepat Akira menjawab agar tidak lebih diberikan pertanyaan tentang sang kekasih.
__ADS_1
"Akira atur waktu dulu ya, biar pas juga gitu moment nya."
Akira tersenyum menggambarkan banyak arti.
Ya Tuhan gimana aku bisa ngomong sama dia supaya mau ketemu Ayah sama Bunda, ini udah kesekian kalinya Ayah minta ketemu.
Tolong aku, Tuhan jangan sampai hubungan aku ini malah buat Ayah sama Bunda kecewa.
"Oke secepatnya ya, Sayang."Ujar Jackson tersenyum.
"Siap Ayah." Jawab Akira tersenyum.
Tak ingin terlalu lama terjebak dalam banyak pertanyaan yang tidak bisa Akira jawab, ia sarapan sangat cepat.
"Pelan-pelan, Sayang." Tegur sang Bunda.
Akira tersenyum malu.
"Ya Bunda, Akira baru inget kalo hari ini ada janji sama salah satu PH." Jelas Akira membuat alasan.
"Kamu gak capek, Nak? Bunda perhatiin kamu kerja dari pada sampe malem tapi bayaran nya gak seberapa." Kata sang Bunda.
"Kamu itu pewaris tunggal dari RG yang seharusnya gak perlu kerja kayak sekarang ini, Bunda gak mau kamu sakit."
Akira tersenyum lalu mendaratkan kecupan manis dikening Bunda tercinta nya.
"I'm okey, I'm happy."
"Mungkin untuk saat ini aku sedang nyaman dengan identitas seorang manager artis tapi kita kan gak tau apa yang akan terjadi besok, bisa aja aku meninggalkan semuanya dan kembali menjadi Zea Akira Rudolf yang sesungguhnya."
Huh,,,,
Letica menghela nafas panjang sesaat setelah putri nya selesai berbicara.
Tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain mengangguk sambil tersenyum pasrah harus mengalah.
"Sampai kapan, Sayang?"
"Jika Bunda dan Ayah bertindak apa kamu akan kuat menerima semuanya."
"Diam nya kami bukan berarti kami tidak mengetahui seperti apa kehidupan mu sebagai seorang wanita biasa."
"Dengan cara apa agar kamu bisa kembali dan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya."
__ADS_1
"Kebohongan seperti sekarang."