
Apartment Akira
Moana yang sudah sendiri di apartment milik sahabat nya kini membaringkan tubuhnya menunggu sang sahabat kembali.
Sementara si pelayan pribadi sudah pamit pulang karena dirasa pekerjaan nya sudah selesai.
Sebenarnya tidak pulang hanya pindah unit apartment.
Ya seperti kesepakatan antara Akira dengan sang Bunda, si pelayan akan selalu ada di dekat Akira tapi tidak tinggal bersama melainkan tinggal di unit apartment persis sebelah milik Akira.
Karena apartment yang ditempati Akira saat ini adalah milik RG yang tak lain adalah keluarga nya.
"Gak paham,"
Moana menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apartment semewah ini bisa di tempatin sama si Zea,"
"Mana di lantai ini tempatnya orang-orang kaya lagi,"
"Emang uang si Zea sebanyak apa sih sampe bisa nempatin neh apartment,"
"Belum lagi dia bisa bayar orang buat beresin apartement ini,"
"Emang gak salah gue punya temen kayak si Zea,"
Moana yang cukup sering berada di apartment Akira selalu tertarik pada beberapa lukisan yang terpajang rapi nan indah di dinding ruangan.
"Zea memang sangat unik selain menyukai bunga dia juga menyimpan lukisan,"
"Aku yang gak paham seni dan arti keindahan cuma bisa bilang buat apa sih Ze kamu habisin uang kamu buat beli bunga yang nantinya bakal layu terus di buang dan ini lukisan cuma bakal jadi pajangan aja,"
"Umm aku jadi penasaran lukisan-lukisan ini karya siapa dan berapa harga nya atau aku coba search aja di google gitu ya,"
Loading,,,
Dan muncul lah..
Moana melotot melihat hasil pencarian nya tentang lukisan yang terpajang di dinding apartment Akira.
"Mo lu lagi ngapain?" Tanya Akira yang sudah berada tepat di belakang Moana.
Terlalu serius mencari informasi tentang lukisan yang terpajang di dinding apartment Akira sampai-sampai Moana tidak sadar jika sahabat nya telah kembali.
"Lu harus jelasin semuanya ke gue sekarang !!" Kata Moana menarik Akira untuk duduk.
Akira memanyunkan bibirnya sembari menatap Moana dengan tatapan bingung.
"Jelasin apaan sih orang gue baru dateng."
"Ini nih."
Moana menunjukkan hasil pencarian nya tentang lukisan milik Akira.
Sementara Akira hanya mengatakan satu kata. "Oh."
"Bukan oh yang mau gue denger, Ze !!"
__ADS_1
"Harga satu lukisan segini dan Lu punya satu dua tiga empat arhh pokoknya itu yang nempel di dinding."
"Gue mau nanya serius neh, Lu dapet duit buat beli tuh semua lukisan dari mana neng?"
"Gue tahu pendapat lu sebagai manager artis kagak seberapa."
Akira yang mendapat banyak pertanyaan hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya yang selalu bersikap aneh bin ajaib.
"Cengengesan Lu, jawab!!"
"Jawab yang mana, lagian Lu nanya ya satu-satu gitu loh jangan nyerocos kayak kereta."
"Gini deh gue persingkat, Lu dapet duit buat beli tuh lukisan mahal darimane? duit siapa?"
Akira tiba-tiba tertawa kencang.
"Sebenarnya apa sih yang ada di otak Lu Moana?"
"Jangan bilang sekarang Lu lagi mikir kalo gue itu dapet uang dari hasil minta ke gadun, ke sugar Daddy, Iya gitu yang ada dalam pikiran Lu?"
"Ya gimana yah,"
"Lu cantik, pinter, body oke, gimana gak jadi inceran para gadun coba."
Plak,,
Akira mendaratkan jitakan nya tepat di tengah-tengah kepala Moana.
"Aw sakit, Zee !!
"Lagian tuh kepala kotor banget isinya,"
Moana yang masih merasakan sakit di kepala nya memanyunkan bibir sambil mengekor mengikuti Akira ke ruang tamu.
"Emang uang Lu seberapa banyak sih? sampe bisa beli banyak lukisan mahal." Tanya Moana masih penasaran.
"Masih bahas masalah duit?!" Kata Akira membulatkan matanya.
"Iya iya gak lagi deh orang cuma nanya doang juga, sensi bener dah." Jawab Moana mengakhiri pembahasan tentang uang.
Satu detik,,
Dua detik,,
Tiga detik,,
Suasana di dalam apartment tiba-tiba hening tidak ada suara lagi.
Moana yang merasa sedikit bingung langsung mengalihkan pandangannya pada Akira yang ternyata sedang melamun.
Kenapa neh bocah? tiba-tiba bengong.
"Ze lu kenapa? dateng-dateng malah bengong jangan buat gue merinding ah." Ucap Moana menepuk pundak Akira.
"Gak tau, Mo." Jawab Akira singkat.
"Perasaan gue lagi gak karuan."
__ADS_1
Dih nih bocah kenapa sih kesambet setan mana coba. hampir 2 tahun lebih temanan sama dia baru sekarang gue liat dia gak ada gairah gini.
Atau dia kehabisan uang kali ya, tapi masa iya sih.
"Gak karuan gimana sih, Ze?" Tanya Moana.
Moana memposisikan tubuh nya menghadap menatap wajah Akira yang terlihat sedang memikirkan sesuatu hal.
"Kok gue tiba-tiba ragu ya sama dia !"
"Dia? maksud Lu pacar rahasia Lu itu."
"Hemm," Jawab Akira lemah.
"Ragu gimana? selama ini Lu selalu yakin dia tulus sayang sama Lu dan Lu selalu yakin kalo sometime kalian bakal married."
"Tadi gue meeting bahas kontrak baru dan tiba-tiba aja tuh orang bilang kalo Rexa punya pacar selain gue dan pacar nya itu juga seorang artis." Jelas Akira sambil menahan sesak di dadanya.
Deg
"Dihh yang bener, Ze !"
"Wah bener-bener nih si Rexa gak bersyukur udah punya pacar kayak Lu, masih juga selingkuh."
"Tapi gak tau kenapa hati gue malah bilang kalo gue yang jadi selingkuhannya, feeling gue bilang Rexa udah lebih dulu pacaran sama tuh cewek." Kata Akira semakin lemah.
Moana yang cukup dekat dengan Akira dan tahu betul seperti sahabat nya kini merasa sangat kesal mendengar keluh kesah sang sahabat.
2 tahun berteman baik baru kali ini Moana mendengarkan curhatan sedih Akira.
Biasanya sosok Akira selalu terlihat happy tidak ada beban dalam hidupnya.
"Malam ini dia ngajak gue dinner di tempat biasa." Jelas Akira.
"Tempat yang sama dengan suasana yang sama selama hampir 2 tahun? apa Lu gak bosen atau coba minta buat ganti tempat gitu."
"Jangan sampe Rexa milih tempat itu karena alasan privasi nya sangat terjaga dari banyak pihak."
"Ya mungkin cewek itu."
Deg
Moana menatap Akira sambil mengangkat bahunya.
"Inikan cuman opini gue doang."
"Ya mudah-mudahan semuanya gak bener."
"Tapi yang gue gak ngertinya lagi dan semakin buat gue ragu, Rexa selalu nolak buat ketemu sama orang tua gue, Mo."
Moana menghela nafas.
"Iyah juga sih padahal ini udah hampir 2 tahun kalian pacaran."
"Tapi ngomong-ngomong orang tua Lu dimana ?" Tanya Moana penasaran.
"Apa mereka gak pernah kesini?"
__ADS_1
"Gue yang balik rumah, Mo." Jawab Akira singkat.
"Udah jangan negatif thinking, mending Lu siap-siap buat ntar malem."