Cinta Sederhana Orang Kaya

Cinta Sederhana Orang Kaya
Diam Atau Bergerak


__ADS_3

Dreettt


Dreettt


Dreettt


Dreettt


"Aroma dari masakan Lu selalu bikin nagih tau gak, Zee." Ucap Samuel menyesap aroma harum dari masakan yang baru saja mendarat di meja makan.


Dreettt


Dreettt


Dreettt


Akira yang sejak satu jam sibuk dengan peralatan dapur tidak menyadari jika ponselnya terus bergetar


"Gimana? Enak?" Tanya Akira mengamati ekspresi dari Moana dan Samuel.


"Ummmm sedap nyeee." Jawab Moana menggelengkan kepalanya.


Akira tersenyum senang.


"Masakan yang Lu buat gak pernah gagal selalu berhasil buat lidah gue bergoyang-goyang." Ucap Samuel.


"Lu kata nih masakan bawa orkes dangdut masuk mulut Lu, Sam !" Timpa Moana.


"Sampe tuh lidah bisa bergoyang-goyang, gak paham !!"


"Diiihh nih bocah sensi bener apa sih salah gua ke Lu ?!" Kata Samuel


Dreettt


Dreettt


"Eh tuh hp Lu geter, Ze." Kata Moana melirik ponsel Akira yang tergeletak di mini bar.


Akira mengerutkan keningnya sambil menatap layar ponsel.

__ADS_1


Bunda? Kok nelpon nya ke nomor ini sih tumben banget.


"Kalian makan aja duluan gue angkat telepon dulu." Kata Akira sedikit menjauh.


Samuel dan Moana hanya menjawab dengan anggukan kecil dan Akira pun menjawab telepon dari sang Bunda.


"Hallo Bunda?"


"Kamu kemana aja sih Bunda telponin dari tadi gak di jawab-jawab."


"Bunda baru nelpon sekali ini mana ada berkali-kali, suka hiperbola deh !!"


"Hp pribadi kamu dimana nak ku?"


"Hehe iya ada di kamar Bunda, aku belum cek."


"Maaf Bunda."


"Kenapa Bun? Ada hal penting sampe nelpon beberapa kali."


Akira berjalan masuk ke kamar dan melihat ponsel pribadi yang hanya dikhususkan untuk orang-orang tertentu ternyata memiliki beberapa notifikasi.


Salah satu nya telpon dari sang Bunda.


"Singapore?"


"Kok dadakan sih Bunda, emang ada apa? Bunda sama Ayah kan baru dua Minggu yang lalu dari sana."


Moana yang mendengar samar-samar obrolan Akira sedikit mengerutkan keningnya.


Ternyata orang tua sahabat nya bisa dengan mudah bulak balik luar negeri.


"Minggu ini ada pesta perayaan atas terpilihnya Xaren menjadi pemimpin rumah sakit disana."


"Kamu lupa, sayang?"


Akira terdiam dan otak nya memutar kembali memory yang sempat terlupakan untuk sesaat.


Pesta? di akhir pekan?

__ADS_1


Itulah yang kini muncul dan sangat menggangu untuk Akira.


"Minggu ini kamu sibuk, Nak?"


"Umm Minggu ini aku ada undangan pesta ulang tahun, Bun."


"Dan rasanya gak enak kalo aku gak dateng ke pesta itu."


"Aku akan menghubungi Xaren untuk meminta maaf karena gak bisa hadir di pesta perayaan nya."


"Bunda gak apa-apa kan kalo aku gak ikut ke sana?"


"Oh ternyata kamu udah ada undangan pesta juga, oke gak masalah kok lagian Xaren juga pasti bakal ngerti."


"Maaf ya gak bisa nemenin Bunda."


"Gak apa-apa sayang, mau dibawain apa nanti? ada yang lagi kamu pengen?"


"Umm gak ada deh Bun tapi kalo ada nanti aku berkabar."


"Baiklah anak kesayangan Bunda, keep healthy oke dan keep happy."


"Iyah Bunda bye.."


Huh,,


Akira menghela nafas panjang dan di dadanya seperti ada yang mengganjal hingga terasa sangat sesak.


Untuk menghirup udara pun terasa sulit.


"Zee ayo makan nih makan keburu dingin." Teriak Moana.


"Iyah bentar, Mo."


Dalam diam Akira tengah membulatkan tekad langkah mana yang akan dirinya ambil.


Akan diam dan melupakan semua cuitan tentang kekasih nya.


Atau akan bergerak dan mengeluarkan semua hal yang membuat dada nya terasa sesak.

__ADS_1


"Halo, cari semua hal yang berhubungan dengan laki-laki yang baru saja aku kirimkan identitasnya terutama kegiatan yang akan dilakukan minggu ini aku tunggu hasilnya 2 jam lagi."


Tut Tut tut


__ADS_2