Cintamu Setipis Kertas

Cintamu Setipis Kertas
1. Mulai Mengenal Tabiat


__ADS_3

"Brakkk...Bugggh" Dia membanting roda belajar berjalan milik bayiku sampai membuat satu rodanya patah.


Bogem mentahnya mengenai tulang pipi kiriku hingga membiru. Putriku yang kala itu masih belajar berdiri dan ada di kasur busa tipis di sebuah kamar petak kos - kosan, merangkak mendekatiku, berdiri memegang kakiku lalu menangis histeris.


"Hua. Huaaa. Huaaa." ku raih dan ku gendong Pertiwi dalam dekapanku.


Aku diam tak menyambung lagi pembicaraan dengannya daripada keadaan semakin buruk.


Keadaan berangsur tenang. Aku menyibukkan diri mengurus bayiku. Pertengkaran pun berhenti.


Namun, suamiku tak mau perduli tentang kesibukan pekerjaan rumah dan mengasuh bayi. Sedangkan dia selalu menuntut ada masakan ketika pulang dan berangkat kerja.


Bertambah lagi, selalu saja ada komentar - komentar pedasnya pada apapun yang ku lakukan.


"Anak sudah satu tahun itu ndak usah minum susu. Makan saja sudah cukup. Pampers itu dipakai malam saja, biar ndak boros uangnya."


Semua itu membuat beban berat padaku. Andai mentalku ndak tahan banting, mungkin aku sudah kena baby blues.


ASI masih mengalir saja, itu sudah Alhamdulillah. Jiwaku masih waras dan badanku masih sehat adalah suatu anugerah terbesar di hidupku.


Aku harus kuat. Kalau aku sakit bahkan mati...bagaimana dengan anakku? Itulah yang membuatku harus berusaha fit bertahan menghadapi kejamnya hidup bersama suami.


Suatu hari, dia mendapatkan proyek kecil. Setidaknya, dengan begini, penghasilan bisa stabil selama beberapa bulan.


Aku ingin bisa memiliki uang sendiri, karena pemberian suami tidak menentu kalau bukan proyek sendiri. Pemberiannya tergantung pekerjaan dan suasana hati.


Sore itu, aku main ke kosan tetanggaku yang biasa mengkreditkan perabotan, makanan, pakaian dan lain - lain.


"Teh, aku minta tolong. Ambilin aku kulkas 2 pintu ya? Mau tak pakai jualan es, supaya aku ndak kesulitan uang lagi. Tapi aku mencicilnya seminggu sekali ya teh?"


Si teteh yang dikenal baik dan penolong itu mengiyakan permintaanku.

__ADS_1


"Mbak mau ambil kulkas merk apa? Kalau mbaknya nyicil 100 ribu per bulan, berarti bayarnya hampir 3 tahun ya? Aku kasih harga 3 juta ya? Gimana? Kalau mbaknya mau, besuk saya kirim barangnya?"


Setelah ku timbang - timbang, rasanya itu murah dan terjangkau oleh danaku. "Ya, teh. Saya mau."


Besuknya, ketika suami pulang kerja, kulkas sudah berada di kamar kami yang seuplek. Dia heran, bibirnya terkatup rapat dan sorot matanya mulai terlihat sinis.


"Darimana kamu dapat ini?" Dingin sekali suaranya menginterogasiku.


"Aku hutang di teh Aisyah. Bayarnya nyicil. Tenang, aku ndak akan ambil dari uang pemberianmu."


Aku menjawab kecurigaannya dengan nada suara datar tapi tegas.


"Terserah. Awas kalau sampai kamu membuat masalah." nada mengancam keluar lagi dari mulutnya.


Begitulah kehidupan rumahtanggaku. Aku berusaha mencari solusi supaya keuangan membaik, tapi yang kudapat bukannya support melainkan ancaman.


Aku diam tak melanjutkan omongan. Sambil menyusui bayi, aku memikirkan, akan jualan es apa ya enaknya? Lalu ku putuskan membuat es dari pop ice yang rasanya sudah disuka anak - anak.


Selama 1 bulan menyisihkan uang dan membuat es secara bertahap freezer sudah penuh. Aku kembali menemui teh Ai untuk membelikanku 4 tremos es. Karena sistem pembayarannya mencicil, tentu harganya agak mahal. Aku maklum akan hal itu.


Barakallah. Allah memudahkan langkahku. Jualanku laris setiap harinya. Kesibukanku semakin bertambah. Alhamdulillah bayiku tidak rewel, sehingga pekerjaan lancar dan angsuran kulkas serta tremos berjalan baik.


"Listrik seharusnya kamu bayar sendiri, karena yang pakai itu kamu. Jangan minta lagi uang dariku."


Suatu malam, dia berucap itu padaku, manakala ketua lorong kamar petak menarik iuran listrik.


Mengapa aku bilang tempat tinggal kami adalah kos? Karena ruangannya per petak, listriknya bareng - bareng, dan kamar mandinya umum. Bagiku, yang dinamakan kontrakan itu adalah berupa rumah. Setidaknya kamar mandi, dapur dan listriknya private per kamar sewa.


" Deg," keterkejutanku bertambah mendengar kalimatnya.


Awalnya aku tahu kalau suamiku pelit dari komplainku dulu mengenai uang belanjanya yang tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari selama seminggu. Ternyata sifat pelitnya itu sudah mendarah daging.

__ADS_1


"Protes saja. Kamu harus bisa mencukupkan uang itu. Kos dan listrik sudah tak bayari. Kamu harus bisa menggunakan uang yang ada. Jangan mengeluh terus. Kamu kerja sendiri sana, kalau uang belanjaku kamu anggap kurang."


Itu adalah awal pengetahuanku tentangnya yang ternyata perhitungan.


"Lho Yah. Kan biasanya sampean kasih aku uang listrik 20. Ya tolong itu tetap pean kasih. Untuk tambahan karena ada kulkas, biar aku yang bayar." Aku mencoba bernegoisasi dengannya.


"Pakai saja uang pemberianku setiap Minggu itu. Kan kamu sudah jualan. Uangmu pasti sudah banyak. Masih untung aku bayari sewa kontrakannya dan susu Pertiwi. Kamu tuh kalau soal uang, kurang saja bawaannya."


Dengan entengnya dia mengatur dan ingin tau soal penghasilanku.


"Lho yah, labaku tak pakai bayar cicilan kulkas dan tremos. Soal susu dan makan, itu adalah kewajiban sampean sebagai seorang suami. Jangan lepas tangan."


Dia menatapku tajam mendengar aku menuntut nafkahnya.


"Kamu tuh penuntut amat jadi orang. Sudah punya uang sendiri, masih juga minta uang suami." Nada suaranya sudah mulai meninggi.


"Makan dan susu itu bukan nafkah, Yah. Nafkah itu adalah uang untuk menyenangkan anak istri. Makanya pean belajar agama dan sholat, biar ngerti caranya menjalani pernikahan."


Aku berusaha mengingatkannya, karena selama menikah denganku, dia sama sekali tidak mau sholat dan puasa.


"Kamu mulai sok pinter ya? Kamu tuh goblok. Sekolahmu saja sekolahan anak - anak bodoh. Kok sok ngajarin aku yang sekolah di kalangan anak pinter? Lancang kamu ya? Sudah semakin berani ya kamu? Kalau kamu ndak terima dengan aturanku, pergi sana! Ndak ada guna hidup sama perempuan boros, bodoh dan pembangkang seperti kamu!"


Itulah akibat kalau aku menjawab terus perkataannya.


Padahal maksudku baik. Bukankah menikah itu untuk menyatukan dua manusia? Dengan kebersamaan yang halal itu, tentu diperlukan komunikasi yang baik antara suami dan istri.


Namun itu tak berlaku untukku. Aku harus menjadi pendengar. Tidak boleh mengeluh, mengeluarkan ide, bahkan protes atas kepelitan, keegoisan dan kekejamannya.


Aku merasa hidup di jaman ortodok. Baginya, wanita yang tak berkarir itu adalah beban. Maka dari itu, menurutnya aku harus membayarnya dengan tenagaku, waktuku dan hidupku.


Rasanya sangat menyesal, mengapa dulu aku mau saja diajak menikah olehnya? Sehingga, penyesalanku ini seolah tak berujung.

__ADS_1


__ADS_2