
"Dev, sana kalau mau sholat. Biar Pertiwi ku jaga."
Mas Priyadi kembali memberikan instruksinya padaku.
Aku mengangguk dan berjalan menuju masjid. Selesai menunaikan 2 rakaat kewajiban pada Sang Pencipta, aku melangkah lagi menuju truk. Ku lihat 3 pria duduk lesehan di depan truk.
"Gabung sini Dev."
Penolongku itu memintaku duduk bersama mereka. Dari sebrang, berjalan 2 orang menuju tempat kami. Ternyata mereka membawa 4 mangkok mie rebus dan teh panas serta krupuk.
"Makasih pak. Nanti saya letakkan di pinggir sini saja ya."
Mas Priyadi memberitahu penjual itu soal mangkok bekas makan nanti.
"Oh, nggih mas. Monggo disekecakaken."
Pak penjual yang ternyata orang Jawa itu menyetujui usulan pembelinya.
"Yuk, makan. Perjalanan masih 2 jam an lagi. Kita isi perut dulu, biar tenang di jalan."
Teman masa kecilku itu kembali memandu kami dan segera menyantap mie rebus yang masih mengepulkan asap panasnya.
"Ndan, biar kami yang menyetir. Komandan istirahat dulu di belakang dengan ibu."
Ternyata, dua pria itu adalah anak buah mas Priyadi.
"Ndak usah. Kalian lanjut tidur saja. Hemat energi. Nanti kalian akan memerlukannya untuk menurunkan barang - barang itu."
Mas Pri menolak usulan anak buahnya dan dia tetap menjadi sopir untuk perjalanan kami.
"Siap, ndan." Mereka serempak menjawab .
Aku mengemasi mangkok dan gelas bekas ke sisi selokan. Sedangkan dua prajurit itu membawa kembali karpet plastik ke bak truk, untuk alas duduk dan tidur mereka.
Pertiwi masih pulas dalam tidurnya. Bersyukur sekali aku dengan keadaan itu. Dia ndak rewel, tapi justru anteng saja selama dalam perjalanan.
Mentari mulai menampakkan diri.Tapi awan putih berseling kelabu, tampak berarak berbaris rapi seperti hamparan padi yang baru ditanam. Sudah banyak kendaraan dan orang berlalu lalang dengan aktifitasnya.
"Mama. Iwi mau eek."
Putri kecilku terbangun. Dia masih pakai diapers, tapi untuk buang air besar, dia selalu minta ke toilet.
__ADS_1
"Mas, Tiwi pengen e ek. Apa bisa menepi sebentar ke pom bensin?"
Aku menatap mas Priyadi yang mulai memelankan laju truknya.
Dia hanya mengangguk, lalu membelokkan truk ketika mendapati SPBU tepat di sisi kiri jalan.
"Anak pinter mau e ek? Om tunggu di sana ya."
Putriku mengangguk. Ternyata truk berhenti di pengisian BBM. Aku gegas turun, lalu menangkap Pertiwi di pelukanku dan menggendongnya.
Selesai BAB, sekalian ku mandikan balitaku dari air kran.
"Ingin ma."
Pertiwi menjingkat terkena siraman air di gayung yang ku ambil sekalian dari kran.
"Gak pa pa. Sebentar ya sayang. Setelah ini badan Tiwi akan segar dan hangat. Trus maem bubur dan jalan - jalan lagi deh."
Putriku mengangguk dan segera tubuhnya ku balut handuk serta ku peluk sepanjang jalan menuju truk.
"Loh, mandi sekalian nih? Buruan diangetin. Sini, aku bantu."
Mas Pri yang di balik kemudi segera menangkap Pertiwi ketika ku letakkan di jok. Dia memangku dan memeluk putriku dengan bahasa tubuh yang natural. Sementara itu, aku mengeluarkan perlengkapan perawatan balita.
Mas Pri menanyai Pertiwi yang sudah rapi dan duduk di sampingnya.
"Di sini saja, mas. Kalau jalan, takut tumpah atau tersedak. Kan truk goncangannya keras, ndak seperti mobil? Ayo sayang, berdoa dulu."
Aku memutuskan makan saat kendaraan berhenti saja, demi keamanan.
"Baiklah. Makan yang pinter ya, biar ndak sakit."
Pria di sampingku itu mengelus rambut putriku dengan lembut.
Pertiwi memang masih makan bubur di umurnya yang baru 2 tahun. Dia belum bisa mencerna nasi. Bagiku, yang penting, dia mau minum susu dan makan apa saja, itu sudah cukup. Aku ndak mau memberi kesan tekanan soal makanan tertentu padanya.
Selesai makan, putriku meminum beberapa teguk air putih hangat, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Sedangkan aku, mengelap mangkok bekas makan putri kecilku menggunakan tisu basah, supaya kalau tiba di tujuan, mudah untuk mencucinya. Tak lupa ku buatkan sekalian susu untuknya bila sewaktu-waktu dia mengantuk dan minta minum susu.
"Sudah siap?"
Mas Pri menanyaiku dan aku mengangguk. Lantas dia menekan pedal gas dan truk pun melaju dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Dua jam lagi kita sampai. Jangan murung. Kamu harus bersemangat. Kamulah kekuatan Pertiwi. Kalian harus saling menguatkan. Jangan lemah. Ok."
Teman masa kecilku itu seolah tau kalau aku sedang tegang menjelang tiba di tempat baruku.
Tepat seperti perkiraan, truk berhenti di sebuah bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda. Bangunannya masih kokoh dan megah. Mas Priyadi turun, lalu tangannya menangkap Pertiwi di gendongannya.
Ternyata ada pick up berhenti setelah truk kami. Sopirnya turun dan menemui mas Priyadi yang akan membuka gerbang besi rumah yang akan ku huni.
"Selamat pagi. Dengan pak Priyadi?"
Lelaki seumuran bapakku menanyakan kebenaran sosok pria yang menggendong putriku.
"Ya. Benar. Bapak dari toko mebel?"
Mas Priyadi membenarkan pertanyaan pria yang ternyata adalah sopir dari toko mebel.
"Betul, pak. Saya hendak mengantar springbed yang bapak pesan tadi."
Pak sopir itu menjawab sambil mengangguk.
"Baiklah. Bawa masuk dan letakkan di kamar depan. Johan, Jefri. Bantu dulu angkat kasurnya."
Titah mas Pri pada pak sopir, kenek dan dua pria yang menemani perjalanan kami.
Ke empat laki - laki itu bergegas menuju pick up, melepas tali, lalu mengangkatnya bersama - sama memasuki rumah.
Aku dan mas Priyadi serta Pertiwi, masih di trotoar bagian depan gerbang. Ku perhatikan, halaman rumah itu luas dan bersih. Ada pohon mangga, kelengkeng, nangka, pisang dan pepaya. Cuaca sangat cerah di pagi ini.
Tapi, di balik tirai jendela berkaca bening, tampak olehku seorang gadis cantik dan anak perempuan umur 8 tahunan berdiri berboncengan tersenyum padaku. Sedangkan di kursi teras, ada sepasang suami istri yang sedang duduk, hanya menatap ku datar.
Tentu aku heran. Katanya rumah ini kosong. Nyatanya kok berpenghuni?
Aku menjadi bergidik ngeri. Masa iya, di siang bolong gini, hantu menampakkan diri? Anehnya, putriku yang di gendongan mas Priyadi, tidak takut.
"Mas, apa ndak cari kontrakan lain saja? Ini kan bangunan kuno. Memang cantik di siang hari. Tapi kalau sore dan malam hari, menakutkan pastinya."
Netraku masih melihat ke arah rumah.
Namun, sosok itu sudah tidak menampakkan diri lagi. Mungkin karena ada banyak orang berlalu - lalang, jadi mereka menghilang.
"Santai. Kalau malam tetap ramai kok. Tuh, di depan ada banyak kios. Sebelah kanan itu perusahaan ekspedisi. Selalu ada orang di situ. Ndak usah takut. Tiwi duduk sama mama dulu ya. Om mau bantu beres - beres. Nanti kalau sudah selesai, kita jalan - jalan. OK."
__ADS_1
Pertiwi mengangguk, duduk di pangkuanku sambil mengenyot dot susunya dan memeluk bonekanya. Sedangkan aku, mengamati sekitar rumah.