
Mengingat pertengkaran yang sering terjadi, kata - kata usiran dan pisah selalu ke luar dari mulutnya, membuatku selalu khawatir tentang nasibku di pernikahan ini.
"Auwww...aduh...sss..."
Aku menjerit manakala tanganku tiba-tiba berdarah karena tergores batu hitam yang akan dijadikan pondasi.
Anakku yang bermain di halaman, menolehku.
"Mama. Mama apa ais?"
Pertiwi berjalan tertatih-tatih mendekat ke arahku yang sedang memberikan batu pada suamiku untuk dia pasang sebagai pondasi.
"Hati-hati sayang. Di situ saja. Jangan dekati mama. Mama ndak apa - apa kok. Ndak usah takut."
Tapi putriku tetap merangsek ke tempatku.
"Pa, aku tak ngurus Pertiwi dulu. Sampean lanjut sendiri ya. Nanti kalau dia sudah tenang, tak bantu lagi." Suamiku mengangguk.
Gegas ku gendong balitaku supaya tidak terkena bongkahan batu ataupun jatuh tergelincir akibat licinnya pasir. Tangan ku cuci di timba yang ada stok airnya di depan rumah. Pertiwi sebelumnya ku letakkan terlebih dulu di lantai keramik depan pintu masuk. Ku kibaskan bajuku untuk mengurangi debu yang menempel.
Pertiwi ku letakkan di kasur menyusu padaku. Anganku melayang pada perasaanku tadi. Aku sedih. Seolah aku berkata, 'Percuma aku bersusah payah membangun rumah. Toh nantinya bukan menjadi milikku.'
Karena lelah berpikir dan ragaku penat, aku jatuh tertidur sambil menyusui putriku. Ya, Pertiwi tidak bisa tidur tanpa meminum ASI ku walaupun mengalirnya tidak deras. Walaupun sudah berumur 2,5 tahun, aku masih memberikan air susu ibu pada putriku, karena aku takut, akan kehilangan rasa sayangnya padaku.
"Duggg..."
Tiba-tiba kurasakan ada benda keras memukul kakiku. Kepalaku rasanya pusing dan dadaku berdebar kencang karena kejutan itu. Kubuka mataku perlahan. Tampaklah Deni berdiri berkacak pinggang seprti orang - orangan sawah.
"Suami capek - capek kerja, kamu enak - enakan tidur. Istri macam apa kamu."
Aku malas berdebat.
"Sssttt...pelankan suaramu. Pertiwi baru saja tidur. Aku lelah. Kalau kamu ndak mau mengerjakan sendiri, ya sudah, dilanjut Minggu depan lagi."
__ADS_1
Aku kembali memejamkan mataku karena betul kurasakan pening di kepalaku.
"Dasar pemalas. Istri ndak guna. Masak ndak enak, pelit sama suami, pembangkang pula."
Dia ngeloyor ke luar kamar, lalu merokok di luar.
Oh, ya. Kulkas yang ku kredit di teh Ai sudah lunas. Di perumahan, aku menitipkan es dan agar jelly stick ke toko - toko dekat perumahan. Aku tak berjualan sendiri di rumah, karena sudah ku prediksi, dia akan mengambil daganganku secara gratis dengan berbagai macam alasan.
Hingga suatu ketika pecahlah lagi pertengkaran itu, karena dia ingin membagusi rumah.
"Jual saja motormu untuk membuat dapur. Kan rumah ini rumahmu juga?"
Aku tersentak mendengar permintaannya. Aku tersenyum miring mendengar omongannya.
"Sekali tidak, tetap tidak. Kamu tak punya hak atas motor itu."
Ku lanjutkan acaraku memberi ASI Pertiwi.
Dia menggerutu dalam posisi tetap di kamar.
"Kurang pengertian apa? Kulkas aku yang bayar dari hasil jualanku. Listrik juga aku yang beli tokennya. Kamu sama sekali tak membelikan aku dan Pertiwi baju, apalagi kosmetik dan jajan. Kasur ini juga pemberian kakakku. Uangmu hanya bisa untuk makan. Itu pun kurang untuk memenuhi selera makanmy yang selalu minta gonta - ganti sehari 2x berbeda menu. Kamu juga minta ada lauk hewan setiap hari. Uang dari mana itu kalau ndak tak tambahi dari jualanku?"
Aku meradang meluapkan emosiku padanya.
"Lha aku kan sudah bayar rumah. Kalian sudah aku kasih makan. Lagian, wajarlah istri membantu suami. Lihat teman - temanku. Awet saja pernikahannya, karena istrinya kerja pabrik ndak mengungkit - ungkit penghasilannya dipakai bersama. Lagi pula, Pertiwi sudah besar. Ndak perlu susu formula dan diapers, biar uangnya bisa untuk yang lain."
Dengan santai dia mengisahkan pola hidup temannya yang ingin dia contoh.
Dalam hati aku berkata, 'Beda. Mereka bucin pada suaminya. Sedangkan aku tidak. Aku harus waspada, karena kamu selalu mengusirku kalau bertengkar.'
"Terserah kamu. Kalau kamu mau memperbagus rumah ini, pakai uangmu sendiri."
Ku putuskan untuk mengakhiri pertikaian supaya tidak semakin melebar pembicaraannya.
__ADS_1
***
Suatu ketika, ada telfon nomor asing di hpku. "Tut...tut..."
Ku angkat telepon saat aku menunggui Pertiwi bermain di rumah. Ya, balitaku adalah anak rumahan. Dia pendiam, tapi sudah bisa bicara sejak umur 7 bulan. Namun fisiknya tidak montok, tapi juga tidak kurus.
"Halo..."
Aku menjawab singkat dulu, karena takut ada orang iseng yang menggangguku.
"Dik Devi ini? Aku mbak Tyas dik. Maino ke rumahku. Aku juga punya rumah di Bandung. Nanti tak kirim alamatnya di SMS ya."
Ternyata, yang menelfon adalah kakak sepupu, putri sulung pakdheku. Oh ya, abang ibuku itu juga pegawai. Beliau pensiunan di instansi BUMN pada posisi kepala.
Aku mengajak suamiku ke sana. Rumah sepupuku ada di kawasan perumahan berkelas dekat kampus ternama di kota Bandung.
"Dik, ini kan Arif mau mudik. Aku minta tolong jaga rumahku ya. Ini kunci mobil dan motor. Boleh sampean pakai. Tidur di sini juga ndak apa - apa. Itu kucingnya Bela, tolong diurus ya. Makanannya sudah disediakan. Ini untuk pegangan pean."
Salah satu inti pembicaraan dari pertemuan kami adalah itu. Kakak sepupuku itu adalah istri seorang pejabat tingkat 1 provinsi. Lingkupnya socialita. Bepergian ke luar negeri, sudah tak terhitung berapa negara yang sudah keluarganya kunjungi. Ladang bisnisnya juga banyak.
Selanjutnya, di bulan Ramadhan, aku wara - wiri dari rumahku ke rumah sepupuku demi merawat seekor kucing. Deni senang bisa menaiki mobil sedan mungil yang sedang trend. Dari wajahnya terlihat kebanggaan kalau dia seolah pemilik mobil itu.
Hingga suatu malam, tetangga datang ke rumah berbicara pada suamiku. "Oh iya. Iya silahkan." Yang ku dengar hanya itu.
Paginya, orang itu membawa Honda Jazz putih milik kakakku. Aku kaget dan komplain ke suamiku setelah mobil ke luar dari halaman rumahku dan melaju ke luar komplek.
"Lho, pa. Gimana to ini? Mobil kakakku kok pean pinjamkan pada orang begitu saja? Itu mobil mahal lho. Kalau kenapa - kenapa, uang dari mana kita buat ganti biaya ini itu? Asal kasih ke orang saja. Harusnya pean ijin dulu ke aku. Main kasih saja. Kan aku yang saudara kakakku? Bukan kamu."
Dia menjawab santai tapi terlihat ketidaksukaannya padaku.
"Pak Indro pinjam mobil katanya untuk memgantar sunat anaknya. Kamu kok pelit sih. Ke suami perhitungan. Ke tetangga medhit. Sudah, jangan banyak omong. Paling perginya juga ndak lama. Wong hanya khitan saja kok."
Aku tak melanjutkan kegusaranku, karena akibatnya bisa menimbulkan pertengkaran lagi.
__ADS_1