Cintamu Setipis Kertas

Cintamu Setipis Kertas
5. Flash Back Off


__ADS_3

Aku sangat menikmati aktifitas baruku. Berkeliling, masuk store, bersih - bersih, merapikan, mencatat dan berkomunikasi bahkan membantu salesman bernegosiasi dengan store, ikut team leader mengadakan event, memberikan berkas laporan, meeting bertemu dengan team marketing dan atasan...merupakan hal yang menyenangkan bagiku. Simple, ndak ribet.


Namun problema datang lagi. Manager marketing menyukaiku. Yang menjadi masalah adalah dia sudah menikah. Apes bener nasibku. Dua kali ditembak oleh pria beristri.


Seperti yang dulu, dia selalu mempunyai alasan untuk mengajakku semobil dengannya tanpa siapapun. Karena takut berlarut-larut bisa menimbulkan rasa, ku putuskan saja hengkang dari pekerjaan dan kota ini.


Malam hari, sepulang dari menemani pak manager visit store yang ada SPGnya, aku segera mempacking pakaian dan berkas penting ke dalam koper anti air. Sedangkan peralatan masak dan makan ku simpan ke dalam tas. Sedangkan mukena dan dua fotocooy-an untuk melamar kerja secara dadakan, ku masukkan map ke dalam rangksel. Untuk handphone dan uang,ku simpan di tas selempang di dalam jaket.


Dingin masih menyapa kota Gudheg. Selesai sholat Subuh, motorku mulai membelah jalanan Jogjakarta menuju Jakarta. Ya, aku harus menjauh. Tak ada yang membuatku harus bertahan di sini.


Aku berhenti di setiap 2 jam perjalanan untuk mendinginkan mesin dan merelaksasikan otot. Saat melewati kampung halamanku, motor tetap ku lajukan. Percuma, semua kakakku sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku harus bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Benar ataupun salah, bagi mas Hari, yang ku lakukan tetap akan disalahkan. Sedangkan bapak, dia seolah tak mau tau dengan masalah anak - anaknya.


Jarak hampir 600 km baru ku jalani seperempatnya. Perjalanan ala backpacker, sendirian menyusuri jalur Pansela ini sangat memacu adrenalin. Ku putuskan untuk rehat di Cirebon sambil berwisata kuliner dan memservice motorku.


Semalam di Kota Udang, sudah berhasil menghiburku dan me-rechage energi dan semangatku. 'Ah, tidur di hotel, serasa jadi orang kaya saja.' Aku bermonolog dalam hati.


Tapi biarlah. Ini adalah caraku meng-healing diri. 'I have the right to be happy.' Ku ucapkan ini dalam hatiku.


Mengawali perjalanan di pagi hari ini sangat strategis untuk keseimbangan jiwa dan raga. Diawali dengan kesegaran, akan menyemangati diri untuk melakukan yang terbaik.


Menjelang sore, aku tiba di Bekasi. Ku cari informasi kosan yang dekat dengan perumahan yang ada kamar mandi dan dapur dalamnya. Biasanya harganya standar dan kamar petaknya ndak pengap. 'Yes, dapat.' Aku bersorak dalam hati.


Esok paginya, kembali aku masuk mall. Kali ini aku mencoba ke konter kosmetik. Kembali lagi Dewi Fortuna berpihak padaku. Langsung ku datangi alamat yang ditunjukkan oleh mbak BA untuk mengajukan lamaran. Deal, aku diterima dan besoknya langsung bekerja.


Aku berkharakter supel. Namun sayang, ada yang salah mengartikan keramahnku. Seorang OB menyukaiku.


'Oh no. Masa 2x ditaksir bos, tapi ku tolak. Sekarang yang datang malah njomplang jauh dari ekspektasi.'

__ADS_1


Kembali ku ajukan resign tanpa seorang pun yang tau. Selalu berangkat setelah sholat Subuh, aku mengawali perjalananku.


Kali ini, tujuanku adalah pelabuhan Tanjung Priok. Aku ingin menyebrang pulau dan ingin tau kehidupan di sana seperti apa? Ya, Ku rasa, Batam adalah pulau strategis untuk persinggahanku.


Tiket penumpang dan kendaraan sudah ku beli. Sorenya, KM Kelud sudah membelah lautan.


'Hmmm...beginikah keadaan malam di lautan?'


Ku dongakkan kepala menatap langit yang bertabur bintang gemintang. Ku raup udara dengan memejamkan mata.


'Ah, seperti film Kate Winslet saja aku?'


Sambil tersenyum, aku bermonolog membayangkan artis itu di film Titanic. Berdiri berpegangan besi pembatas di geladak atas. Cuma bedanya, aku sendiri.


Tiba-tiba, di sebelahku berdiri pria tampan, berkulit putih, berumur di atasku, tapi tak terpaut jauh.


Aku bergidik ngeri membayangkan adegan horor di film misteri.


"Mbak. Mbak. Mbaknya gak pa pa?"


Pria itu melambaikan tangan kanannya padaku, sedangkan tangan kirinya berpegangan di pagar besi pembatas geladak.


"Mmm...ndak apa - apa."


Aku tergagap tapi gegas mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala. Suasana di luar ndak seberapa sepi. Ada beberapa penumpang yang sedang nglesot merokok dan ngopi.


'Ah, ternyata dia beneran manusia, bukan hantu.'

__ADS_1


Batinku menjadi lega manakala melihat kakinya menapak lantai dan masih ada beberapa orang di sebelahku.


Perkenalan pun terjadi. Namanya Syahputra. Dia adalah pegawai di instansi BUMN di Batam. Dia mengajakku ke kafe dan kami mengobrol panjang lebar killing the boredsome time.


Aku tak kuat menahan kantuk, lalu memutuskan kembali ke dek kelas ekonomi untuk tidur di ranjang single yang berjajar di seluruh ruangan berAC. Ya, keadaannya seperti bangsal umum rumah sakit.


Esok paginya, dia menemuiku. Kami pun kembali mengobrol sambil menyusuri dek hampir di seluruh bagian kapal. Kami sudah bertukar nomor handphone. Hingga tengah malam lagi, kapal sudah bersandar di pelabuhan Sekupang.


Syahputra ternyata membawa motor yang di parkir di penitipan motor. Dia mengarahkanku dan menyuruh motorku untuk mengikutinya. Kembali Tuhan melindungiku. Pria yang baru 24 jam ku kenal itu membawaku ke penginapan. Ternyata dia membayari sewa kamarku. Dia lantas pamit untuk pulang.


Aku tidak mau banyak berhutang budi padanya. Selesai sholat Subuh, aku kembali tidur demi men-supply kembali energiku. Waktu menunjukkan pukul 10:00 Aku bergegas mengemasi barang bawaanku dan meluncur ke arah daerah industri di Mukakuning. Melamar kerja di pabrik, ternyata membutuhkan proses tak pasti.


Setelah bertanya ke sana ke mari, ternyata harga sewa kamar di Batam dua kali lipat dari tarif di Bekasi. Kembali aku masuk ke mall. Barakallah, keberuntungan selalu ada padaku. Aku berkerja kembali, tetapi menjadi SPG produk susu balita. Tak mungkin aku mendapat posisi sebagi MD, karena aku masih belum hafal area kota kecil metropolitan itu.


Setiap aku libur, Putra selalu mengunjungiku dan mengajak jalan - jalan. Rasa itu mulai timbul. Ya, dadaku berdebar bila berduaan dengannya. Tapi sayangnya, aku bertepuk sebelah tangan.


"Maafkan aku, Dev. Orang tuaku melarang aku melanjutkan hubungan denganmu. Jarak Padang ke Jawa itu sangat jauh. Aku disuruh mencari gadis yang keluargaku tidak perlu menyeberangi lautan untuk melamar anak gadis orang. Aku minta maaf sudah memberimu harapan. Aku sangat mencintaimu. Tapi restu orang-tua juga penting untuk menjalani kehidupan berumahtangga. Maafkan aku sayangku. Sungguh. Ini bukan maksudku."


Dia memelukku erat sekali dan menumpahkan tangisannya di bahuku. Mataku nanar. Gumpalan kristal sudah merebak di telaga mungil netraku yang telah sekuat tenaga ku tahan, akhirnya luruh juga mengalir di pipiku dan membasahi lehernya. Saat itu, kami sedang di Pantai Nongsa, duduk di bangku di bawah pohon. Dia menciumi wajahku sambil menangis dan kembali erat memelukku. Aku mandah saja.


'Ah, seperti adegan sinetron saja.'


Ujarku dalam hati dengan kegetiran. Kami mengabaikan beberapa pasang mata yang sesekali menatap.


Semburat jingga sudah mengarak di atas langit. Mentari sudah meredupkan sinarnya dan hendak kembali ke peraduan. Udara berhembus menjadi dingin, membelai hatiku yang sedang tergores luka yang tak berdarah.


Kembali kewarasanku berpijak. Ku ajak dia bangkit dan mengantarku pulang ke tempat kosku. Sepanjang jalan, dia melingkarkan tanganku di pinggangnya. Ku gunakan kesempatan terakhirku untuk menyesap aroma khas tubuhmya. Air mataku spontan jatuh membasahi bajunya yang dia sengaja tidak memakai jaket.

__ADS_1


Kami berpisah dalam senyuman getir dan lamabaian ketika motornya meninggalkan tempat kosku. Kembali, aku memikirkan untuk pergi.


__ADS_2