
Dia melempar perabotan yang sering ku pakai, termasuk gantungan baju anakku, jadi patah karena dia lempar sampai ke sebrang jalan perumahan.
"Cukup. Jangan banting - banting dan buang - buang barangku. Ya.Aku akan pergi. Puas kamu."
Aku akhirnya terpancing emosi dan menghardiknya.Dia memang pantas diperlakukan seperti itu. Levelnya jauh dariku saja, belagu angkuhbentak,menghina dan mengusirku.
Selalu dia membalikkan kata - kataku. Pola pikirnya juga terbalik. Dia mengutamakan tetangga daripada istri. Suatu saat nanti, kejadian ini akan berbalik menyerangnya. Namun, tetaplah dia menjadi manusia yang sok.
"Kamu tuh mbok paham hukum. Harta yang dihasilkan dari sebuah pernikahan, itu adalah harta bersama. Sedangkan kalau berpisah, si bapak wajib menafkahi anaknya. Ndak asal ngusir seperti yang kamu lakukan."
Aku mengambili perabotanku. Yang rusak ku pisah, biar jadi rejekinya tukang rosok. Aku lalu melanjutkan bicaraku sambil duduk lagi di lantai dan bersandar di dinding sambil bersila.
"Aku ndak perduli pada apapun. Kamu tuh goblok, tapi sok pinter. Ini rumahku, aku yang bayar, bukan kamu. Kalau kamu ndak kuat ngurus Pertiwi, biar dia ikut aku."
Dia memeluk erat Pertiwi sambil berdiri. Aku yang awalnya duduk di lantai, menjadi kalap melihatnya hendak menguasai putriku. Tidak, anakku ndak boleh jatuh ke tangan orang kejam, pelit dan tak beretika seperti dia. Aku segera berdiri berusaha merebut Pertiwi.
"Tidak.Walau bagaimanapun Pertiwi harus sama aku. Berikan dia padaku. Berikan."
Aku merangsek mendekatinya dan hendak meraih balitaku.
"Duggg...bruuuk!!!"
Aku jatuh terjengkang karena tendangannya. Melihatku terduduk dengan suara keras, Pertiwi menolehku dan memaksa memelorotkan diri dari gendongan papanya.
"Mamaaa...Mamaaa...huaaa...huaaa...mamaaa..."
Putriku menangis melolong - lolong dan memukul - mukul papanya. Suamiku kesal. Pertiwi pun diturunkan. Bayiku yang menjelang bocah itu berlari menghambur memelukku.
"Mamaaa...mamaaa...huaaa...huaaa...mama atit? Ana ang atit? Anga ais. Anga ais ya. Ada Iwi. Iwi ayang mama."
Aku sangat terharu mendapati balitaku yang sudah mempunyai kepekaan tinggi. Ku peluk dia dengan lembut. Ku belai rambutnya dan ku bisikkan kata - kata penyejuk dan penyemangat.
"Please don't be afraid, dear. Mommy is here with you. Now, Tiwi stays here and drink your milk. Let mommy packs all the stuff we need for survival. Do yo get it?"
Putriku mengangguk, lalu melakukan perintahku. Dia terus melihatku lalu lalang mengepak barang - barang. Setelah tertata, aku menggendongnya dan mempersiapkan motorku.
"Aku mau cari angkot dulu. Jangan kunci pintunya."
Singkat aku berteriak dari pintu ruang tamu dan menstarter motorku.
__ADS_1
Bersyukur, uang tabunganku sebelum menikah, tidak ku usik selapar apapun aku di Bandung sama Deni dan putriku. Ternyata ini manfaatnya. Ketika aku benar-benar diusir, aku tidak menangis dan meratap dibelas kasihani olehnya. Aku pun tak merepotkan tetangga.
"Pak, bisa saya sewa angkotnya?"
Aku bertanya pada sopir angkot yang sedang mangkal, namun masih belum dapat penumpang.
"Bisa mbak. Ke mana?"
Pak sopir berbinar bahagia, karena ada yang menyewa kendaraannya.
"Ke Buah Batu, pak. 100 mau? Saya tambahin 50 ribu untuk bantu angkat - angkat barang. Bagaimana, pak?"
Aku menawarkan upah segitu padanya.
"Baik mbak."
Dia langsung mengiyakan tawaranku. Gegas ku putar balik motorku menuju rumah.
"Mbak pindah hanya dengan putrinya?"
Pak sopir itu sepertinya mulai memahami permasalahanku.
"Iya, pak."
Hanya kasur yang tidak ku bawa, karena ada di kamar yang dia pakai untuk menghindariku saat pindahan.
Aku tidak berpamitan padanya. Beberapa tetangga perempuan meneteskan air mata melihat tragedi pernikahanku.
"Sabar ya mah Tiwi. Semoga Allah melindungi mah Tiwi. Tiwi cing bageur ku mamah, nya. Tong rudet. Kasihan mamahnya."
Bu Imas yang asli Sunda memelukku dengan erat.
"Makasih bu Imas. Saya minta maaf kalau selama ini ada salah. Sampaikan maaf saya kepada semua warga ya."
Ucapku sambil menangis saat berpisah sama tetanggaku itu.
"Baik mah Tiwi. Hati-hati. Kapan - kapan main ke sini ya."
Dia berucap sambil melambaikan tangan ketika aku sudah menstarter motorku.
__ADS_1
"Muhun, InshaAllah bu Imas. Assalamu'alaikum."
Segera ku pacu kuda besiku sebelum mentari turun dari singgasananya.
Tiba di rumah sepupuku, perabotan ku atur serapi mungkin. Anakku tidak menangis lagi. Saat malam menjelang, barulah tangisku luruh. Pertiwi minta ku pangku. Spontan tangan mungilnya mengambil tisu dan mengusap air mataku dengan lembut.
"Mama, anga ais. Iwi ak aka aka. Iwi ayang mama." (Mama, jangan nangis. Tiwi ndak akan nakal.)
Aku mencoba menenangkan diri dan mencari berbagai solusi untuk masalahku. Pertama, ku hubungi kakak sepupuku pemilik rumah yang ku jaga ini.
"Mbak Tyas, apa boleh saya menumpang di rumah njenengan selama beberapa saat? Aku diusir sama suamiku."
Namun jawaban yang ku dengar, sangat tidak berperasaan.
"Dik, aku beli rumah itu untuk tempat tinggal anak - anakku. Bukan rumah singgah. Sampean tak kasih waktu tinggal di situ selama Arif liburan. Tapi sampean sudah harus meninggalkan rumahku saat anak - anakku mau kembali ke sana."
Aku menarik nafas dalam mendengar kalimat - kalimatnya.
"Ya mbak. Makasih."
Setidaknya dia masih mau memberi tumpangan.
Aku lalu menghubungi temanku yang dinas di Cilacap.
"Mas, aku minta tolong. Aku sedang ada masalah. Aku diusir oleh suamiku. Sekarang aku masih numpang di rumah sepupuku yang ditempati kedua anaknya yang masih kuliah dan kerja. Tapi sayangnya, dia ndak mau menampungku lama. Aku boleh di sini sementara saja, nunggu rumah yang kosong. Nanti kalau anaknya datang untuk memulai perkuliahan lagi, aku diminta sudah harus pergi dari sini."
"Lho Dev, kan kamu masih punya rumah peninggalan ibumu? Pulang saja ke Gombong. Lebih enak, ndak keluar biaya sewa."
Mas Priyadi berusaha mencarikan aku solusi termudah atas permasalahan yang sedang ku hadapi.
"Masalahnya, rumah itu ditempati abang sulungku, mas. Istrinya ndak suka sama aku. Jadi, tolong ya mas, carikan aku rumah yang kosong. Kalau bisa yang ada listrik dan airnya."
Aku berharap, semoga dia mau menolongku.
"Baiklah. Kirim alamatmu. Besuk siang tak kabari lagi. Aku harus mencari dulu rumah yang bisa kamu tinggali. Sabar dulu ya."
Putra dari sahabat ibu itu berusaha menenangkanku.
Segera ku kirimkan alamat rumah kakak sepupuku padanya. Ku lihat balitaku tidur tenang, seolah tak ada beban di hidupnya. Aku harus kuat, sehat dan tegar demi menjaga titipan Tuhan ini. Aku tak mengabari keluargaku, karena mereka pasti saling melempar jawaban. Aku harus menyelesaikan sendiri masalahku.
__ADS_1
'Ya Rabb. Hamba ikhlas menjalani ujian-Mu ini. Hamba berlindung padaMu dari semua kesulitan, kejahatan dan marabahaya. Tolong, berkahilah langkah hamba, ya Tuhan.'
Ku panjatkan doa sebelum aku mengistirahatkan jiwa ragaku, setelah drama melelahkan hari ini.