Cintamu Setipis Kertas

Cintamu Setipis Kertas
4. Flash Back 3


__ADS_3

Setiba di tempat kos, ternyata bekas kamar sewaku dulu sudah terisi. Semua sudah penuh. Aku lalu berkeliling mencari kosan yang murah. Alhamdulillah dapat. Aku memilih menempatinya sendiri seperti waktu kuliah, karena aku menghargai privacy. Selain itu, aku suka kebersihan dan kerapian. Takutnya kalau berbagi kamar, teman sekamar akan tersinggung kalau aku terus membersihkan dan merapikan ruangan.


Ku nikmati masa menganggurku dalam semalam menikmati Nasi Kucing yang ku beli di mulut gang.


Pagi yang cerah, matahari bersinar, membuat suasana menjadi hangat. Jiwaku seakan terbakar untuk bisa menaklukkan ketidakpastian hidup.


Motor ku starter dan ku panasi beberapa saat. Lalu ku pacu kuda besiku menyusuri lempengan hitam di kulit bumi. Belum ada tujuan pasti ke mana tapak kaki akan berhenti. Hingga tanganku menggerakkan setir memasuki area mall.


Ku susuri lorong demi lorong sekedar melihat - lihat. Tujuan akhirku adalah supermarket. Ada beberapa kebutuhan yang harus ku beli.


Saat memilih - milih pembalut, seorang gadis menawariku produknya.


"Silahkan mbak, dicoba susunya. Ini susu kalsium tinggi untuk usia 19 - 50 tahun. Rasanya macam - macam. Yang mbak coba itu Plain, gurih saja. Kalau mau manis, tinggal tambah gula atau madu, sesuai selera saja. Kalau masih gadis, pelepasan massa kalsium itu terjadi karena menstruasi. Tapi kalau menikah, proses hubungan intim suami istri juga mengurangi kadar kalsium dalam tulang. Terlebih lagi hamil dan menyusui. Kepadatan tulang wanita akan cepat menyusut. Untuk mengurangi resiko keropos tulang dan menstabilkan kandungan kalsium dalam tubuh, kita memerlukan asupan kalsium tambahan. Suplemennya bisa melalui susu, pil, kapsul yang mengandung kalsium. Kalau makanan saja, itu tidak mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral manusia. Bagaimana, mbak? Mau pilih yang rasa apa? Atau mungkin mbaknya mau membelikan orang tuanya?"


Mbak cantik itu panjang lebar menjelaskan produknya demi sebuah atau bahkan lebih box susunya dibeli konsumen. Karena kasihan dan aku juga perlu gizi tambahan, maka ku belilah dagangannya. Dia terlihat sangat senang, lalu meminta datang sebagai pelanggan baru untuk pembelian produk perusahaannya.


"Mbak. Aku sebenarnya sedang menganggur. Apa ada lowongan pekerjaan yang ndak di ruangan saja kerjanya?"


Spontan otakku langsung terbersit ide untuk menanyainya pekerjaan.


"Ada mbak, sebagai MD. Syaratnya harus punya motor, suka kebersihan dan kerapian plus bisa bernegosiasi dengan pemilik outlet. Kerjanya berkeliling. Sehari mendatangi beberapa toko untuk mengecek ketersediaan barang, menata jadi bersih, rapi dan dapat posisi eye catching. Kalau saya SPG. Tugas saya mempromosikan dan menjual produk perusahaan. Tergantung penempatan. Kadang di supermarket, di pasar atau event lainnya. Ini mbak alamatnya. Dicoba saja. Semoga diterima ya."

__ADS_1


Ku ucapkan terimakasih atas informasinya. Segera ku bayar produknya dan belanjaanku yang lain. Lalu ku pacu motorku menuju alamat yang diinformasikan oleh SPG tadi. Map, pulpen, kertas kosong dan berkas selalu ku siapkan di rangksel. Sehingga saat mendadak begini, aku bisa langsung gerak cepat.


"Selamat pagi, pak. Apa benar di sini membuka lowongan pekerjaan?"


Ketika di gerbang sebuah bangunan besar berhalaman luas dengan banyak truk dan mobil box di dalamnya, aku memberanikan diri bertanya pada security.


"Oh, benar mbak. Silahkan masuk saja. Temui bu Feby ya. Motornya parkir di sini saja. Aman kok. Semoga diterima."


Pak satpamnya ramah memberitahuku tentang peluang kerjaan di situ.


"Makasih pak." Aku segera menepikan motorku dan gegas menuju bagian resepsionis.


"Permisi mbak. Mau menemui bu Feby, ada di mana ya?"


Sang penyambut tamu itu mengarahkan tangannya ke lorong yang harus ku tuju.


"Tok...tok...tok...Selamat pagi." Dari dalam terdengar sahutan seorang wanita.


"Masuk. Duduk di situ. Ada perlu apa?" Wanita berkacamata itu langsung to the point pada tujuanku ada di ruangannya.


"Begini bu. Nama saya Devi. Saya alumni IKIP Negeri Jogja jurusan Bimbingan Konseling. Atau praktis dikenal orang sebagai psikolog. Sebelumnya saya pernah bekerja part time sebagai tour guide. Tapi saya disuruh pulang oleh kakak untuk magang di instansi pemerintah. Namun karena suatu hal, saya mengundurkan diri lalu kembali ke Jogja. Lantas saya mencoba pekerjaan yang setiap hari bekerja. Tak sengaja saat saya belanja di supermarket, ada SPG ibu yang menawari produk susu. Lalu saya beli, karena saya juga butuh. Nah, saya tertarik pada pekerjaan di bidang sales or trading. Lalu saya minta informasi tentang lowongan kerja. Katanya di sini sedang dibuka peluang untuk menjadi MD. saya rasa itu cocok untuk saya yang suka mobile dan bersih - bersih. Ini SIM dan STNK motor atas nama saya sendiri. Dan ini berkas lamaran saya, bu."

__ADS_1


Perempuan di depanku itu menyimak penuturan promosi tentang diriku. Dia lantas menerima map yang ku berikan padanya dan membukanya satu per satu.


"Itu ada rak. Produkmu adalah susu A. Coba kamu pajang sesuai pemahamanmu tentang tugas seorang MD."


Wah, bu Feby langung mengetes kemampuanku. Ku perhatikan sekilas barang - barang di keranjang besar dan rak. Langsung ku ambil susu A dengan berbagai item usia dan varian rasa. Setelah itu, aku diam, menunggu pertanyaan maupun komentarnya.


"Mengapa kamu letakkan produk di rak ke dua secara vertikal daripada di rak pertama?"


Dia mencoba menggali kemampuan analisa dan diplomasiku.


"Saya menempatkan produk perusahaan di rak ke dua, bukan di ujung pertama, karena saya asumsikan, posisi saya sekarang adalah dari pintu masuk. Saat memasuki lorong, fokus utama mata akan jatuh berada pada rak ke dua, bukan di yang pertama. Mengapa demikian? Karena yang ujung itu tidak tertangkap oleh mata ketika badan pengunjung berjalan ke arah depan. Tapi ekor matanya akan terusik oleh produk yang ada di rak ke dua. Sehingga dia penasaran, melihat dan memegang. Itu merupakan kesempatan SPG untuk menyergap peluang yang sudah di depan mata."


Bu Feby terlihat cuek. Lalu beliau mengecek pajanganku.


"Bagus, bersih. Tapi mengapa kamu memajang kemasan yang expired-nya lama, berada di depan, bukan di belakang?"


Ah, pertanyaan simple bagiku hal itu.


"Mudah saja bu. Supaya produk cepat diambil oleh konsumen, sehingga masa kadaluwarsa tidak berlangsung lama di store. Setelah itu, baru produk dimajukan lagi sesuai masa daya tahannya dan keadaan kemasan."


Bu Feby mulai tersenyum. "Baiklah, kamu diterima. Silahkan duduk di sofa, pelajari tentang produk perusahaan dan tata cara merchandising. Aku ke luar sebentar mengambilkan seragam kerjamu."

__ADS_1


Tak berapa lama, bu Feby telah kembali. "Ini seragammu. Besuk harus sudah ada di sini jam 08:00. Kita briefing dulu, lalu meluncur ke lokasi berdasarkan jadwal kunjungan yang nanti ku berikan. Ok, kamu bisa pulang sekarang."


__ADS_2