
Aku tak betah berlama-lama ada di rumah orang tua Deni. Segera ku ajak dia untuk menemui keluargaku.
"Bapak setuju saja kalian menikah. Tapi bapak ndak bisa membiayai pernikahan kalian. Mintalah bantuan kakak - kakakmu."
Begitulah bapakku, selalu lepas tangan pada urusan anak - anaknya. Kemudian ku temui mas Hari. Terlihat dia ndak respek pada Deni. Ya jelas saja. Dia terbiasa berada di lingkungan pegawai. Melihat Deni yang kumal, kusam dan cara bicaranya yang tidak bisa Kromo Inggil dan bertata bahasa yang beretika, membuat abang sulungku malas berbicara lama dengannya. Dia menyuruhku menemui mas Rudi.
Abang kedua ku juga kurang respek melihat penampakan Deni. Tapi daripada aku jadi perawan tua, mungkin ada baiknya aku menikah. Begitu katanya.
Sedangkan kakak perempuanku, kelihatan sekali tidak suka pada Deni. Tapi bagaimana lagi, aku sudah menerima ajakan menikahnya.
"Temui saja keluarga di gunung. Tanyakan bagian warisan bapak. Itu bisa kamu jadikan biaya menikah." Itu saran kakakku.
Dengan meminjam motornya, Deni memboncengku menemui adik bapak di kampung perbukitan.
"Lha warisan apa? Semua sudah diminta bapakmu."
Bulikku menyampaikan berita yang membuatku malu di depan Deni.
Akhirnya aku pamit pulang. Deni pulang ke rumahnya , sedangkan aku menumpang bermalam di rumah kakak perempuanku.
Dalam beberapa hari, urusan surat menyurat sudah selesai. Kami pun bisa menikah hanya dengan ijab qobul dan selamatan antar keluarga dan tetangga. Dari pihak Deni, hanya datang kedua orang tuanya.
Aku tak ambil pusing akan semua itu. Toh, aku tidak tinggal di rumah mereka. Oh ya, biaya selamatan akhirnya patungan antara bapak dan kakak - kakakku.
Malam pertama tak ku lalui di rumah bapakku, mbakku maupun rumah mertua, karena tak nyaman rasanya begituan di rumah orang.
Setelah mendapatkan tiket kereta kelas ekonomi, kami bertolak menuju ke Bandung lagi tanpa pelepasan perpisahan yang mengharu biru. Hambar dan datar yang ku rasakan.
Waktu menunjukkan pukul 10:00. Barisan gerbong besi itu tiba di stasiun Cimindi. Aku pulang ke kosanku, sedangkan Deni ke kamar sewanya sendiri untuk mengambil barang - barangnya dan pindah ke tempatku.
Aku tak masalah dengan keputusannya. Lagi pula, kamar kos miliknya di lingkungan kumuh. Jadi, ku biarkan saja dia ikut tinggal di tempatku.
__ADS_1
Malam hari, dia tiba di kamar sewaku. Tengah malam, dia meminta haknya.
'Ya Tuhan. Aku takut. Aku belum pernah begituan.'
Tapi karena dia sudah sah sebagai suami, aku pasrah saja memberikan ragaku. Jiwaku melayang ke Batam.
'Ah, andaikan kamu yang menyentuhku, betapa aku akan merasakan yang kata orang adalah surga dunia.'
Sama sekali tak ku rasakan getaran seperti saat aku bersama Syahputra. Dia melakukan yang dimau. Aku mandah saja tanpa ciuman, *******, erangan atau elusan tanganku di kulitnya. Dia bekerja sendiri. Dan ketika tongkatnya berhasil menjebol gawangku, rasanya sakit, kering, nyeri dan perih luar biasa.
Aku bergetar menahan sakit dan mencengkeram sprei di kasur tipisku. Setelah mencapai pelepasannya, dia terkulai berbaring di atasku sebentar, lalu berguling di sampingku.
Aku diam tak berani bergerak. Hanya air mata yang terus meleleh di pipiku tanpa suara.
'Sakit, ya Tuhan.' Aku meratap dalam hati.
Kosanku dekat dengan masjid kampung. Ketika mendengar adzan Subuh, ku bangunkan dia untuk sholat, tapi dia menolak. Justru memintaku kembali melayaninya.
Tapi dia mengancam.
"Percuma kamu sholat, kalau aku ndak ridho, ibadahmu tak akan diterima. Lagian untuk apa sholat? Kamu lho kotor. Kamu penipu. Kamu sudah ndak perawan. Lihat spreimu. Adakah noda darah di situ?"
Aku terkesiap mendengar kata - kata nyelekitnya. Segera aku bergeser.
"Auw...ya Tuhan. Sakit sekali." Aku menggigit bibirku dan menitikkan air mata.
"Halah. Ndak usah bersandiwara. Ndak perawan ya ndak perawan. Ndak usah berakting sedih."
Aku melihat sprei yang bekas p*nt*tku.
"Katanya kamu pinter? Masa ndak bisa membedakan tabir yang belum pernah terkoyak sama yang sudah total berlubang? Aku ndak pernah berbuat zina dengan siapa pun. Ku tegaskan padamu, aku masih gadis. Percaya atau tidak, itu terserah kamu. Bercerai pun, aku ndak ada masalah. Kalaupun aku hamil setelah ini, aku bisa menghidupinya tanpamu."
__ADS_1
"Heleh, paling kamu merengek - rengek meminta pertanggungjawabanku."
Dengan percaya diri dia membantah kata - kataku.
Aku beringsut dan berdiri menuju kamar mandi. Ku bersihkan diriku dan berganti pakaian. Lantai segera aku pel. Setelah itu, barulah aku bermunajat pada Tuhan yang telah memberiku nyawa selama ini.
Ku nyalakan kompor untuk membuat dadar telur dan sambal bawang. Dia mau makan atau tidak, aku ndak perduli.
Sebulan berlalu, aku merasakan mual yang luar biasa. Sama sekali aku tak kuat untuk bangun. Awalnya aku ijin sakit. Tapi setelah 2 hari, keadaanku semakin memburuk, aku memintanya mengantarku ke dokter. Dan hasilnya mengejutkanku. Aku hamil.
Obat anti mual tak mempan sama sekali. Aku betul-betul berbaring dan siap timba kecil untuk tempat muntahku. Aku tak tahan bau suamiku, parfum, sabun l*x dan rokok.. Tapi aku ndak mau kamarku kotor. Harus bersih dan rapi.
"Hoeeek...Hoeeeeek...rrrrgh..." Begitulah hari - hariku. Yang masuk ke perutku hanya kelapa muda yang dikasih madu.
Anehnya, Deni yang awalnya meragukan keperawananku, tapi dia tidak mempertanyakan kehamilanku.
Karena sudah 1 Minggu kondisiku tidak berubah, aku mengajukan surat pengunduran diri pada supervisorku.
Setelah tau kalau aku memutuskan resign dari pekerjaaanku, sikap suami semakin menyebalkan. Dia terlihat enggan menafkahiku.
"Itu teh Nita hamil, tapi masih kerja di pabrik. Kamu kok diam saja."
Aku ngeloyor ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan keramas. Sama sekali tak ku hiraukan ocehannya.
Aku periksa ke dokter hanya sekali karena uang pemberiannya hanya cukup untuk makan. Sedangkan uang tabunganku tidak ku usik, karena aku tau karakter pelitnya Deni yang sulit sekali mengeluarkan uang.
"Motormu itu jual saja, buat makan. Tau suami sulit uang, kamu cuek saja. Kamu tuh diajak ngomong kok nggampangin. Denger ndak kupingmu?"
Aku menjawab tanpa menolehnya.
"Memangnya kalau aku menjawab, akan kamu dengarkan? Kamu akan menyetujui? Tidak, bukan? Motor itu pemberian kakak - kakakku. Mereka yang membayar pajaknya. Bukan kamu. Selama aku ndak kerja, toh motornya juga ngajugruk saja di rumah."
__ADS_1
Aku harus beralibi seperti itu, supaya dia tidak terus punya keinginan menjual aset yang ku miliki. Begitupun uang tabungan. Semua ku amankan di koper yang selalu terkunci. Sedangkan kuncinya, aku simpan di tempat yang tersembunyi. Makanya, aku memutuskan tidak bekerja, selain demi janinku, juga demi hartaku supaya tidak dicuri olehnya. Satu lagi, motor itu adalah kakiku. Dialah penolongku di saat darurat.