Cintamu Setipis Kertas

Cintamu Setipis Kertas
8. Masih Aman


__ADS_3

Setelah kehamilan menginjak umur 5 bulan, aku sudah mulai bisa makan nasi dan kembali normal, walaupun perasaku masih kurang nyaman. Durasi waktu ke kamar mandi juga sudah normal, tidak ekspres. Aktifitas pekerjaan rumahtangga sudah kembali normal.


Dari prediksi pertama kali periksa ke bidan Puskesmas, janinku diprediksi akan lahir pada 20 Juni. Namun pada periode itu, hanya muncul flek di celana dalamku.


Hingga suatu Maghrib, saat aku mencuci pakaian, tiba-tiba aku pipis yang tak terkontrol. Ku pikir ini ketubanku yang pecah. Tapi karena belum mulas, aku masih melanjutkan aktifitas menjemur di atas teras kamarku.


Semakin lama, sakit di perut kian terasa. Subuh, ku bangunkan Deni untuk mengantarku ke klinik bersalin terdekat dengan tempat kosku.


"Masih pembukaan dua. Ibu periksa di sini hanya sekali. Selanjutnya sudah tidak pernah lagi. Karena ini kelahiran pertama dan usia ibu sudah 35 tahun, maka persalinan ibu akan ditangani oleh dokter spesialis anak. Biayanya 3 juta untuk persalinan normal. Sedangkan untuk caesar, perlu 15 jutaan. Bagaimana, pak? Apa bisa dibayar dulu untuk persyaratan administrasi?"


Ku lihat Deni menggeleng. "Permisi, bu bidan. Kami akan ke tempat lain saja."


Dengan cuek, sang bidan mengiyakan.


Dinginnya hawa pagi dan terpaan angin dari hempasan laju motor, tak bisa mengalihkan rasa sakit di perutku.


Pukul 06:00 kami tiba di klinik bersalin lain dan langsung ditangani. Bidannya ramah. Jam 12:00 rasa pengen buang air besar kian meronta. Aku yang sudah di ruang persalinan ditemani Deni, sudah tak tahan ingin mengeluarkan janinku.


"Tahan bu. Tarik nafas pelan - pelan, tiup - tiup. Terus lakukan itu ya. Ini pembukaannya belum sempurna." Sang bidan melarangku mengejan.


Saat menunjukkan angka 12:45, seorang wanita cantik memakai sepatu booth dan sarung tangan panjang, masuk ruang bersalin.


"Subhanallah, cantiknya. Semoga kalau perempuan, anak saya bisa secantik dokter."


Walaupun diserang oleh hantaman rasa sakit di perutku yang luar biasa, sempat - sempatnya aku mengagumi wajah sang dokter, yang bagiku sangat cantik.


Rambutnya ikal dicat kemerahan. Kulitnya putih. Tinggi semampai dan ramah pula.


"Aamiin. Wow, sudah sempurna pembukaannya. Jangan diangkat b*k*ngnya ya bu, supaya tidak sobek **** * nya. Dimulai ya bu. Tarik nafas, tiup tiup, dorong bu. Ayo, ini sudah nampak rambut dedeknya. Semangat bu."

__ADS_1


Setelah 3x mengejan, keluarlah bayiku. Bidan mendorong bagian atas perutku. Dokter cekatan menarik pundak bayiku.


"Oeee...oeee...oeee..."


Nyaring sekali suara babyku. Kemudian dokter membersihkan kantung rahimku.


"Sudah selesai ya bu. Janinnya berjenis kelamin perempuan. Sekarang sedang dimandikan oleh suster. Sus Evi, tolong lanjutkan ya. Sampai jumpa ibu."


Dokter cantik itu berlalu sambil tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Sedangkan perawat melanjutkan tugasnya.


"Ibu hebat. Jalan lahir dedeknya tidak sobek. Jadi tidak perlu dijahit. Tahan sebentar ya bu, saya pakaikan pembalut dulu. Nanti ibu saya kabari lagi untuk turun dan kembali ke ruang perawatan."


Bu bidan tersenyum. Aku pun lega, karena tidak akan merasakan sakitnya jarum dan benang menembus kulit lunakku.


"Ini bu. Cantik sekali putri ibu, mirip dokter Fitria he... he...he..."


"Subhanallah. Kok bisa ya? Allahu Akbar." Bayiku berkulit putih, berhidung mancung sepertiku, tapi matanya seperti dokter cantik itu. Bulat dan tajam seperti orang Arab. Rambutnya ikal kemerahan. Begitu persis sama dokter SP OG itu.


Suamiku laku mengadzani bayi kami. Ku dengar, betul cara dia beradzan. Tapi kenapa dia ndak mau sholat ya?


"Ibu, silahkan kembali ke ruang perawatan. Kondisi ibu sangat baik. Ibu hebat, luar biasa. Pelan - pelan saja ya. Jangan takut kalau pengen pipis atau BAB. Jangan lupa, bawa sekalian pembalut dan bungkusnya."


Asisten bidan itu sangat baik mengarahkanku.


Aku masih bermalam di klinik, untuk observasi kondisi bayi oleh dokter Spesialis Anak esok paginya. Ku beri nama bayiku Pertiwi Fitria. Biaya persalinannya murah, 1 juta 500 ribu rupiah.


Dan taukah darimana biayanya? Dari transferan kakak - kakakku yang senang karena bayi dan aku dalam keadaan selamat setelah proses persalinan.


Deni tersenyum - senyum. Tentunya karena dia lega tidak harus keluar biaya bersalin.

__ADS_1


Setiba di kosan, tetangga menyambutku.


"Mbak Devi, selamat ya. Kalau perlu bantuan, bilang saja."


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Dev, kami sudah patungan kirim uang untuk Pertiwi. Jangan kalian gunakan untuk yang lain."


Sengaja ku loud speaker telfonnya supaya Deni mendengar ucapan mbakku.


Aku tidak mengenal yang namanya pantangan. Dari uang 5 juta itu, ku belikan kasur tebal, kipas angin, baby walker, mainan mobil yang bisa dinaiki, sepeda anak balita, botol susu, diapers, susu formula, tisu basah dan kering, sembako untuk bertahan hidup dan syukuran.


Mengapa aku membeli kereta belajar berjalan, mobil - mobilan dan sepeda di saat anakku masih bayi? Ya sebab aku yakin, kalau Deni akan banyak alasan menolak untuk membelikannya.


Waktu berjalan damai hingga pertengkaran pembantingan baby walker itu. Deni memberi nafkah tetap pas - pasan seperti biasa, walaupun dia sudah mendapat borongan sejak kelahiran Pertiwi.


Aku orangnya selalu bervisi misi. Ndak mau stuck di tempat. Ketika putriku berumur 2 tahun, ku ajak suami untuk mencari perumahan. Berkeliling area Bandung mencari lokasi perumahan dengan orang budget minimalis.


Akhirnya dapat informasi kalau di area Bandung Selatan sedang dibangun perumahan subsidi. Kami datangi tempat itu.


Memang KPRnya tipe ekonomis. Model yang lama, sepertinya tipe 21 dan 20. Oleh marketing, kami diarahkan ke lahan yang masih berupa ilalang, tapi sudah dikasih tanda patok. Sesuai denah, aku memilih lokasi hampir di pertigaan. View nya bagus, bisa menatap area di bawah perumahan.


Aku yang terbiasa berbirokrasi, mengurus persyaratan sambil menggendong putriku menyerahkan berkas ke bank. Selang 1 Minggu, ada team survey ke rumah. Dan ajaibnya, 2 Minggu sesudahnya kami sudah menerima SP3 kepemilikan agunan kredit rumah itu.


Akhir tahun, kunci diserahkan dan kami bisa menempati rumah tipe 36 dengan luas tanah 75m. Anakku senang. Deni tersenyum - senyum tak menyangka kalau akhirnya bisa memiliki rumah.


Rumah kelas ekonomi, tentu tidak selengkap kelas regency, resident, cluster apalagi perumahan elit. Lahan depan dan belakang masih kosong. Tapi, area belakang sudah berpagar tembok pembatas setinggi bagian dekat genteng. Saat hari Minggu, digunakan untuk memperbaiki rumah sesuai dana yang ada. Kami pondasi halaman yang rencananya akan difungsikan sebagai teras dan garasi.


Ya, aku pengen punya mobil, walaupun sekelas Carry. Namun, ketika mengangkat batu dan mengaduk semen plus pasir, mengapa suasana hatiku mendadak mendung ya?

__ADS_1


__ADS_2