
Intonasi suaranya semakin meninggi. Tangannya menunjuk - nunjuk mukaku. Aku diam tak membalasnya. Percuma, tak akan ada keberpihakan padaku. Yang terjadi hanya kata usiran dan hinaan tak kenal henti.
Aku melipir ke kasur, duduk berselonjor kaki dan menyusui Pertiwi, untuk mengurangi rasa shock atas teriakan ayahnya.
Entahlah, sudah ke berapa kalinya dia mengusirku? Andaikan tak ada anak, sudah dari dulu ku tinggalkan dia. Tak ada untungnya bertahan dengannya. Yang ada hanyalah semakin menambah luka hati, jiwa dan raga.
Rasanya menyesal sekali telah mau diajak menikah olehnya. Tampilan di luar yang lugu khas orang desa dan dari keluarga miskin, ternyata dalamnya bak pisau belati menggores kulitku berulang - ulang.
Bodohnya aku yang terperdaya pada rayuannya. Waktu itu aku galau karena gagal melanjutkan pacaran ke jenjang pernikahan dengan berbagai macam alasan, mendadak berputus asa. Aku pasrah saja diajak menikah, tanpa ku tahu seluk beluknya.
Orang memanggilku Devi. Aku anak bungsu dari 4 bersaudara. Ibuku pensiunan pegawai kecamatan. Sedangkan ayahku mandor Perhutani.
Aku sudah menjadi piatu sejak kelas 3 SD. Ayahku menikah lagi dan menetap di rumah istrinya. Sedangkan rumah peninggalan ibu kami tempati berempat.
Hidup sangat tak enak tanpa ada ibu di sisiku. Hanya abang sulungku yang sudah menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang S1 di Perguruan Tinggi Negeri. Awalnya dia magang di kantor tempat almarhum ibu berdinas. Tapi bersyukur dia diangkat jadi ASN yang tentunya sudah berpenghasilan tetap.
Abang keduaku namanya Rudi. Dia masih kelas 3 SMP saat itu. Sedangkan kakak perempuanku, kelas 6 SD.
"Guoblok. Nilaimu jelek, mau jadi apa kamu? Sudah, sana. Ndak usah sekolah. Jualan bayam saja di pasar. Malu - maluin saja. Masa anak pegawai kok bodoh."
Waktu itu kak Dini sudah menerima DANEM. Menurut mas Hari, nilai kakakku jelek. Makanya dia marah - marah.
"Lha kan aku ndak punya buku pelajaran, mas. Aku minta les seperti teman - temanku, juga ndak sampean ijinkan. Ya jangan marah kalau nilaiku segitu. Itu pun seharusnya sampean bersyukur, karena hasil belajarku ada di tengah-tengah."
__ADS_1
Abang sulungku tersenyum sinis menatap kakakku yang berani menatap matanya.
"Prestasi apa? Mana ada orang pintar ada di tengah? Manusia cerdas tuh ada di urutan ke satu. Aku pun sekolah tak punya buku. Buktinya, aku bisa rangking 1 dan wisuda dengan nilai cumlaude. Kamu apa? Ngeluh saja dan nuntut ini itu saja kerjamu."
Kakakku diam, lalu dirangkul oleh mas Rudi dan diajak ke dapur. Aku mengekor di belakangnya. Dia menyodorkan mbak Dini segelas air putih.
Selanjutnya, pagi hari, mbak Dini memakai seragam sekolah. Dia mendaftar sekolah sendiri di SMPN desa kami. Sedangkan mas Rudi berangkat ke kota untuk sekolah STM.
Mereka ternyata diterima di sekolah barunya. Tapi kelanjutannya kembali seperti biasa, kami kesulitan uang untuk makan dan biaya sekolah.
Mas Rudi menumpang di rumah kerabat. Dia meminjam uang ke saudara untuk membeli becak. Jadi, sepulang sekolah dia menjadi tukang becak. Ketika mangkal, dia gunakan waktunya untuk belajar. Dari situ, dia bisa membayar hutangnya, SPP sekolahnya dan membeli alat perbengkelan.
Sedangkan mbak Dini, memilih SMEA di kota. Pulang sekolah, dia bekerja di apotek. Malamnya, dia pulang, dijemput mas Rudi. Mereka menyewa rumah kecil secara patungan dari upah mereka bekerja.
Sedangkan aku, di rumah bersama abang sulungku. Aku pun mengalami hal yang sama. Diumpat dan dicemooh seperti yang dia lakukan pada mbak Dini.
Aku hanya menangis, tidak melawan seperti kak Dini. Tapi aku tetap mendaftar sekolah ke tempat kakak perempuanku dulu waktu SMP.
Ibuku mempunyai pensiunan. Tapi herannya, mengapa hidup kami selalu kekurangan ya? Bahkan, untuk biaya SPP saja, aku harus mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu dari desa.
Setelah tamat SMP, aku pun hijrah ke kota mengikuti mas dan kakakku. Mbak Dini sudah tamat SMEA. Sedangkan mas Hari menikah. Dan rumah itu sudah bebas mereka tempati tanpa beban kami bertiga.
"Mas, aku akan menikah dengan anaknya pak Haji Nurdin." Suatu hari, kami naik becaknya mas Rudi pulang ke rumah ibu.
__ADS_1
"Mau jadi apa kamu kawin? Kamu mau bikin malu keluarga? Di mana harga diri seorang pegawai, mempunyai anak yang hanya tamat SMEA?"
Mas Hari meradang di ruang tamu. Dia selalu menolak permintaan kami. Tapi anehnya, dia juga tidak pernah mendukung permintaan kami.
"Terserah, sampean setuju atau tidak. Yang pasti, aku sudah ijin sampean. Aku pun ndak minta biaya ke sampean, karena semua sudah ditanggung oleh pak Haji. Masih ada bapak yang akan menikahkanku."
Dua Minggu sesudah itu, ijab qobul dan pesta meriah diadakan di rumah mertua mbak Dini. Di rumah kontrakan tinggal aku dan mas Rudi. Dia sebentar lagi wisuda. Oh ya, dia kuliah di Perguruan Tinggi Swasta demi tetap bisa bersama kami. Sebenarnya dia diterima di kampus negeri di Jogja, tapi dia ndak tega meninggalkan kami berdua.
Setahun kemudian, mas Rudi lulus. Dia magang kerja di Dinas Perindustrian. Saat aku selesai SMA, mas Rudi diterima jadi ASN.
Aku menjadi berprestasi setelah lepas dari abang sulungku. Waktu masih SMA, mbak Dini membelikanku buku - buku pelajaran dan sepeda. Mas Rudi membiayai les privat Bahasa Inggris, pelajaran umum dan komputer. Baru seminggu aku mengikuti kursus, aku sudah bisa mengikuti pelajaran dengan lancar. Sehingga, berturut-turut aku meraih rangking 1 di kelas. Aku dapat pembebasan membayar SPP. Saat lulusan, aku meraih juara ke-2 secara umum di sekolah. Peringkat 1, diraih oleh anak IPA.
Kembali, mas Rudi mengantarku pulang menaiki becaknya. Tiba di rumah peninggalan ibu, mentari hampir tenggelam di ufuk barat. Semburat jingga menebar di atapnya bumi. Keindahan nuansa senja menyeruak ke sanubariku.
Segera ku temui mas Hari yang sedang membakar sampah di halaman belakang.
"Mas, aku hari ini menerima DANEM. Nilaiku terbaik ke dua di sekolah. Aku juga diterima di IKIP Negeri Jogja melalui jalur PMDK. Gimana, kulanjutkan kuliahku di situ, apa daftar di tempat lain?"
Awalnya wajahnya tersenyum. Namun setelah aku bilang sudah diterima kuliah di kampus negeri, wajahnya berubah muram.
"Lha biayanya gimana? Kuliah itu butuh dana besar lho?"
Aku heran. Dulu mbak Dini ndak kuliah, diomelin. Sekarang aku bisa kuliah, tapi dia keberatan? Nanggung sekali nih orang?
__ADS_1
"Kan aku punya pensiunan ibu, mas? Aku nanti juga nglamar jadi penerjemah dan guide. Jadi sampean ndak perlu takut lek aku akan minta uang ke sampean."
Kali ini aku memberanikan diri menjawab ungkapan kegelisahannya tentang biaya kuliahku nanti.