Cintamu Setipis Kertas

Cintamu Setipis Kertas
13. Perjalanan


__ADS_3

Hari - hari berlalu dengan aktifitas kami seperti seorang wisatawan. Rumah ibaratnya sebagai hotel. Setiap hari, kami berkeliling ke mana pun kaki melangkah. Selalu bersilaturahmi dengan teman - teman sambil berpamitan. Sedangkan suamiku, sama sekali tak memberi kabar apapun. Tapi aku bersyukur dengan keadaan itu. Sehingga mempermudah langkahku untuk teguh meninggalkan kota ini.


Hari Sabtu, waktu menunjukkan pukul 23:00. Terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Aku yang sudah terlelap, terbangun ketika ada suara ketukan di pintu diiringi suara panggilan.


"Tok...tok...tok...Dev. Devi. Tok...tok...tok..."


Aku yang tertidur saat menidurkan Pertiwi di ruang TV, tergagap bangun. Nyawaku yang belum terkumpul, membuatku khawatir, karena takut kalau yang datang adalah Deni.


Lalu handphoneku yang nadanya ku ubah getar karena sudah malam, layarnya menyala. Ada panggilan masuk. Tertera nama mas Priyadi di sana. Segera ku angkat dengan suaraku yang masih ngantuk.


"Halo."


"Halo, Dev.Lama banget sih bangunin kamu? Ini aku sudah di depan. Bukain gih."


Teman kecilku itu nyerocos bak penjual jamu di pasar dengan mikrofonnya saat aku mengangkat panggilannya.


"Iya. Bentar."


Hp ku matikan dan ku letakkan kembali ke sofa di atas kasur lantai depan TV.


"Ceklek...Krieettt."


Ku lihat pria dengan postur tinggi besar sudah berdiri tepat di depan pintu.


"Astaghfirullah. Mas bikin kaget saja."


Reflek tanganku memegang sisi lain pintu berbentuk kupu tarung yang belum ku buka.


"Mana kunci motormu, biar dinaikkan dulu ke truk."


Mas Priyadi mengabaikan kekagetanku, sambil menadahkan tangan kanannya padaku.


"Sebentar."


Suaraku masih mengantuk menjawab permintaannya. Dengan langkah yang masih sempoyongan dan mulut menguap, aku kembali ke ruang TV mengambil kunci motorku.

__ADS_1


"Nih."


Ku sorongkan kunci ke tangannya. Pintu ku tutup, lantas ku henyakkan b*k*ngku di sebuah kursi teras.


"Nih, minum. Tuh ke kran. Cuci muka dulu, biar ngantukmu hilang."


Tiba-tiba mas Priyadi sudah berdiri di depanku memberikan sebotol air mineral.


"Makasih."


Ku buka tutup botol dan meneguknya. Lalu ku langkahkan kaki menuju kran air di taman.


'Ggggrrr...dinginnya.'


Tubuhku tiba-tiba bergetar karena hawa malam yang mulai menusuk tulang.


"Nih, pakai. Sudah tau Bandung dingin, ke luar rumah kok ndak pakai jaket."


Pria penolongku itu kembali datang memberikan jaketnya untuk ku pakai 'Ah,so sweet.' Bisikku dalam hati.


Mas Pri kembali melangkah membantu kedua teman tentaranya menaikkan motor ke truk setelah dibuatkan pijakan titian dari papan kayu.


Kembali hatiku bersuara melihat aktifitas tiga orang oria yang sedang menaikkan motorku ke dalam truk.


Aku yang sudah hangat, mendekati truk. Ku lihat mereka mengikat motorku di beberapa sisi. Selanjutnya mereka turun menggotong kulkas dan barang - barang lain yang memang sengaja kuletakkan di teras dari saat kedatangan waktu pengusiran, untuk memudahkan mengangkutnya kembali setelah waktuku usai di rumah kakak sepupuku.


"Dev. Kasurnya ndak dibawa?"


Mas Priyadi menanyaiku perihal kasur lantai yang masih dipakai tidur Pertiwi.


"Ndak mas. Ini punya kakakku. Kasurku ndak kebawa, soalnya ada di kamar. Dia ada di situ waktu aku usung - usung. Padahal kasur itu pemberian kakak - kakakku."


Awalnya aku malu menceritakan proses pengusiran itu. Tapi ku coba menjawab lugas, biar jelas.


"Oh, ya udah. Gampang itu. Nanti beli di jalan saja. Mana, biar ku gendong Pertiwi. Kamu bereskan dulu rumah ini sampai bersih. Jangan tinggalkan rumah orang dalam keadaan kotor."

__ADS_1


Dia lantas menggendong putriku. Anehnya, balitaku tidak protes. Dia justru meringkuk nyaman di pelukan om angkatnya itu.


Segera ku bereskan sisa - sisa jejak pindahan dan ku rapikan kasur lantai. Rumah sudah bersih dan harum. Aku tidak berganti baju. Tetap pakaian pagi hari yang masih menempel di tubuh saja, biar praktis dan menghemat waktu.


"Kalian di belakang saja. Biar ku setir sendiri truknya. Ayo Dev, kamu naik duluan."


Mas Priyadi menyuruh teman - temannya untuk di bak truk yang memang masih ada sisa ruang. Sedangkan dia berdiri di belakangku membantuku naik ke atas bagian depan teuk yang bagiku sulit. Sesudah aku nyaman di posisi duduk, Pertiwi lantas diberikan padaku. Dia lalu berjalan memutar dan menyalakan starter truknya.


Kendaraan bak besar milik kesatuan itu melaju pelan meninggalkan rumah kakak sepupuku. Di samping pos satpam, truk berhenti. Mas Priyadi turun dan memberikan kunci rumah kepada mereka yang sedang berjaga.


"Ini pak, kuncinya. Terimakasih sudah menjaga adik saya dengan baik di sini. Ini nanti buat ngopi. Kami pamit dulu."


Ku perhatikan, para security itu bangkit lalu membentuk badan mereka menjadi bersiap tegak seperti akan upacara.


"Siap komandan. Terimakasih. Selamat jalan. Semoga selamat sampai tujuan."


Mereka serempak berucap menyambung ucapan mas Priyadi yang berpamitan dan menyelipkan selembar uang merah saat menyerahkan kunci pada salah satu security.


"Ya, Terimakasih. Aamiin YRA."


Mas Priyadi berbalik dan mengatur posisiku bersama anakku.


"Pakai gendongannya. Tidurlah."


Dia meletakkan bantal di ujung siku tanganku sebagai tumpuan kepala Pertiwi. Di bagian kaki juga dikasih bantal. Aku mengangguk mengikuti arahannya. Dengan begitu, posisi Pertiwi aman dan aku pun bisa tidur enak di perjalanan.


Mas Priyadi seolah paham. Dia tidak berbicara lagi, melainkan fokus mengemudi. Hingga aku pun tanpa terasa tertidur. Setiap susu di botol Pertiwi habis, truk berhenti di bahu jalan. Dia yang membuatkan susu, yang memang sudah ku takar di masing-masing botol dalam keranjang yang ku letakkan di bawah kakiku.


Truk melaju kembali hingga aku terbangun saat kendaraan besar itu berhenti tapi ndak berjalan lagi. Ku dengar suara pintu kemudi tertutup. Sedangkan Mas Priyadi berdiri di depan bersama kedua kawannya sedang merenggangkan anggota badannya.


Karena suhu udara berbeda saat kendaraan berhenti, membuat Pertiwi bergerak sebab merasa tidak nyaman. Lalu ku baringkan dia di atas jok truk yang luas dan empuk. Kembali dia tertidur pulas. Ku letakkan bantal di lantai truk. Lalu perlahan aku juga turun.


Ternyata, truk berhenti di bahu jalan depan masjid. Sudah tampak beberapa pria yang ada di sekitar dan dalam bangunan. Tak berselang lama, adzan Subuh terdengar dari toa masjid.


"Dev, kamu tunggui Pertiwi. Kami akan sholat Subuh dulu. Nanti gantian sama kamu."

__ADS_1


Mas Priyadi berlalu bersama kedua rekannya memasuki halaman masjid.


Aku berdiri di pintu sisi truk yang dekat pagar. Putriku masih terlelap tidur. Ku coba melihat HP. Namun tetap tak ada notifikasi apapun di benda mungil pintar itu.


__ADS_2