
Suamiku berangkat kerja setelah pertikaian kecil kami. Aku melanjutkan hariku mengerjakan pekerjaan rumah dan mengasuh putriku.
Hingga sore, bagian depan mobil belum juga menampakkan moncongnya di rumahku. Sunat macam apa ini? Dari jam 08:00 sampai Maghrib begini belum kembali? Mana bensin baru ku isi penuh pula.
Suamiku yang pulang kerja langsung ku berondong dengan pertanyaan. "Lho pa. Katanya sunat? Orang khitan tuh kan sakit? Harusnya lekas istirahat di rumah. Ini kok malah belum pulang? Sunat model apa itu? Paling lama kalaupun potong ujung butung ke Hasan Sadikin, jam 13:00 juga sudah ada di rumah lagi? Ini sampai gelap kok belum menampakkan batang hidungnya?"
Dia melengos melangkah masuk rumah. "Kamu tuh, suami baru masuk rumah, sudah dikasih masalah. Bukannya disambut dengan baik."
Aku tau, sebenarnya dia pun khawatir dan sudah merasa kalau dibohongi. Karena ndak mungkinlah, kalau sunat saja sampai membutuhkan waktu belasan jam?
"Kurang baik apa aku menyambut sampean? Biasanya air panas untuk mandi sudah ada. Air yang menuang aku. Pean tinggal mandi. Makanan dan kopi ada. Pean capek yo tak pijeti. Minta begituan juga tak kasih. Pean ndak perlu bantu kerjaan rumah. Pean pulang kerja, rumah bersih, anak baik - baik saja dan semua tersedia sesuai keuangan pean. Lha ini beda, pa. Mobil harganya ratusan juta. Kalau kenapa - kenapa, bagaimana kita menggantinya? Uang dari mana?"
Dia melangkah ke kamar, mengambil handuk untuk mandi. Air segera ku tuang ke timba. Oh ya. Komplek perumahanku airnya Artesis. Mengalirnya dijadwal. Jadi harus mempunyai stok penampungan air.
Selesai mandi, dia makan mengambil sendiri. Aku menemani Pertiwi menonton TV dan bermain. Tapi pikiranku galau tentang mobil, kucing yang stok makanan di kandangnya menipis, juga kulkas 1 pintu di rumah sepupuku yang stop kontaknya ku cabut untuk mencairkan bunga es.
Waktu menunjuk di angka 9. Suara mobil terdengar masuk halamanku. Aku masuk kamar bersama anakku. Besuk akan aku cek bensinnya.
Benar saja. Ketika suamiku mengantarku ke rumah sepupu, ku perhatikan meteran bensin yang awalnya penuh, jadi berubah. Tisu basah di dashboard juga tinggal separo. Lah, lego blok mainan Pertiwi kok raib?
"Tuh lihat, bensin yang kemarin penuh, sekarang tinggal separo. Tisu sudah menipis segini. Apalagi mainan Pertiwi? Lenyap."
Nadaku geram mengungkapkan kejengkelanku akibat ulah tetanggaku yang tak bertanggungjawab itu. Sedangkan suamiku wajahnya mulai terlihat dingin sadis seperti psikopat.
Aku tau, itu tandanya dia marah padaku. Mobil ditaruh di garasi. Dia berganti naik motornya ke tempat kerja tanpa berpamitan pada Pertiwi seperti biasanya.
Ku putarkan chanel TV khusus acara anak untuk putriku. Ya, sepupuku berlangganan TV kabel, sehingga chanel tvnya banyak pilihannya. Aku melanjutkan pekerjaan rumah yang kemarin tertunda gara - gara mobil dan tetangga.
__ADS_1
Malamnya, suami tak menjemput. Kami putuskan bermalam saja di rumah sepupu. Ku belikan susu untuk stok minum balitaku di toko mart di sebelah komplek residence.
Pagi hari, Pertiwi sudah mandi dan sarapan. Kembali ku posisikan dia di ruang TV bersama mainan dan camilannya. Walaupun perumahannya sistem one way gate dan dijaga beberapa security, tapi aku selalu waspada. Motor di teras yang tidak berpagar, ku kunci stir. Pintu ruang tamu juga terkunci, demi keamanan putriku ketika aku beraktifitas.
"Tuttut...Tuttut..."
Suara notifikasi SMS terdengar. Ada pesan masuk dari suamiku.
"Jedeeerrrr..."
Seakan petir menyambar kepalaku tatkala ku baca isi pesannya.
"Hari ini ku ceraikan kamu, Devina binti Sukarni karena kamu tidak patuh pada suami. Mulai detik ini, ku lepaskan dirimu dari kewajibanmu padaku. Kalau kamu tidak sanggup menghidupi Pertiwi, biarkan dia di sini bersamaku."
'Ah, kisah arogansi suami di novel dan sinetron yang menceraikan istrinya hanya melalui SMS, ternyata terjadi pula padaku.'
Sambil memeluk Pertiwi, aku berbincang dengan diriku sendiri.
"Lho bu, kok jalan kaki? Apa mobil dan motornya rusak?"
Satpam yang sudah hafal keberadaanku di komplek itu, menyapaku keheranan karena melihatku berjalan.
"Ndak apa - apa, pak. Ini mengenalkan anak saya naik angkot, supaya bervariasi yang dia ketahui."
Pertiwi melompat kegirangan.
"Hoe...aik atot. Hoe...aik atot."
__ADS_1
Bicaranya yang masih cedal dan tingkahnya yang lucu dan lincah, membuat yang ada di pos satpam tertawa dan menowel pipi anakku.
Setelah tiba di kota kecamatan, gegas aku mencari ojek untuk mengantarku ke perumahan. Ternyata, suamiku tidak bekerja. Pintu dia selot dari dalam. Kalau seperti itu, tentu aku tak bisa membukanya memakai kunci cadangan.
"Papa. Papa...Iwi uang. Papa...Iwi aus. Papa...hua...hua...hua..."
Memakai tangan mungilnya, Pertiwi mengetuk pintu berusaha merayu papanya supaya mau membukakan pintu, sebab upayaku mengetuk pintu tidak berhasil.
"Tolong buka pintunya. Pertiwi sudah capek dari luar. Dia perlu berbaring."
Dia tetap cuek. Akhirnya aku berucap, "Baiklah, kalau itu maumu. Mari kita bicara baik - baik."
Lalu pintu pun terbuka. "Ceklek."
Dengan kasar dia membuka handle pjntu. Rumahku masih belum ada kursi. Aku lantas duduk bersandar di dinding depan pintu. Pertiwi menghambur ke gendongan papanya.
"Apa maksudmu apa dengan mengatakan aku tidak patuh padamu?"
Dengan tenang, aku memulai pembicaraan, sebab ku lihat, dia diam dengan mata nanar memandang ke arahku.
"Kamu tidak nurut padaku dengan membuat keributan sama tetangga. Kamu buat aku malu di depan tetangga. Masih ndak paham juga kamu ha?"
Telunjuknya menunjuk - nunjuk padaku.
"Lho, aku cuma SMS ke dia minta ganti diisiin bensin yang dia pakai. Aku ndak minta biaya sewa mobil ataupun nyuciin mobil. Hanya karena itu kamu menceraikanku? Kok picik amat pandanganmu. Memangnya, kamu kalau ada apa-apa ditolong sama dia. Lihat. Kamu sudah diperalat. Kamu dibohongi. Orang kok aneh."
Aku meluapkan emosi tapi tetap beraturan nada dan cara bicaraku. Tapi dia meledak - ledak seakan menunjukkan power kalau dialah sang penguasa. Dia berhak melakukan apa saja. Dialah sang maha benar.
__ADS_1
"Kamu yang aneh. Mobil dipinjam saja sudah heboh Toh itu bukan mobilmu? Pelit sekali kamu sebagai manusia. Jangankan sama tetangga. Sama suami saja kamu sangat perhitungan. Bosan aku hidup sama kamu. Pergi kamu dari rumahku."
Kembali kata - kata usiran keluar dari mulutnya.